Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Ep.23 Bukan Inginku


__ADS_3

Setelah berjam-jam berkutat dengan komputernya akhirnya Zevana berhasil mendapatkan katering, toko bunga, orang-orang yang bertanggung jawab atas dekorasi pernikahannya nanti dan juga beberapa tempat untuk melangsungkan acara.


Sekarang yang perlu ia lakukan adalah melaporkan kepada pria arogan itu dan memintanya untuk memilih satu di antara gedung yang sudah ia pilih agar ia bisa segera menyelesaikan pesanannya dan membuat orang-orang bekerja dengan cepat.


Zevana duduk dari kursinya yang sudah lama ia duduki sehingga saat berdiri pantatnya seakan tak terasa, ia kemudian berjalan menuju pintu kantor bosnya dan mengetuknya beberapa kali sembari menunggu lampu hijau dari dalam sana.


“Masuk” seru Maxime dari dalam sana.


Zevana memegang ganggang pintu sembari menarik nafas dalam-dalam “Permisi pak” ucapnya kemudian berjalan mendekat ke meja kerja atasannya itu.


“Saya sudah menyiapkan segalanya dan saya perlu Anda untuk memilih tempat yang akan digunakan untuk pesta itu” ucap Zevana sembari menyodorkan tabletnya yang berisi beberapa gambar gedung yang sebelumnya sudah ia pilih.


Zevana berdiri di depannya dan tetap berada di posisi itu dengan tangan yang menyodorkan tablet selama hampir semenit namun segera ia tarik kembali tangannya karena pria itu bahkan tak menoleh ke arahnya dan hanya fokus pada komputernya.


“Pilih saja satu dan ingat itu harus yang terbaik jangan sampai ada kekurangan sedikit pun atau kau akan mempermalukanku” ucapnya yang masih tak menoleh.

__ADS_1


Ingin sekali ia berteriak marah mendengar perkataan pria itu terlebih sikap tak pedulinya itu, satu hal yang harus pria itu ingat pernikahan ini terjadi bukan atas keinginannya. Pernikahan ini terjadi karena keinginannya sendiri dan Zevana melakukannya hanya karena terpaksa dan menjauhkan keluarganya dari segala bentuk ancaman yang akan merugikan orang sekitarnya. Namun jika melihat sikap tak pedulinya itu orang-orang akan berpikir bahwa ialah yang sangat menginginkan pernikahan ini.


Tak ingin berbincang banyak setelah mendengar pendapat Maxime tadi Zevana pun berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut dan kembali ke mejanya. Ia kembali melihat-lihat lebih detail lagi gambar-gambar dari masing-masing gedung yang telah ia pilih sebelumnya dan hingga akhirnya pilihannya pun tertuju pada sebuah gedung megah tentu saja gedung itu juga paling unggul dalam bagian harga dari pada dua gedung lainnya.


Zevana menghubungi nomor yang tertera pada laman website gedung tersebut dan menyewanya setelah selesai dengan memesan gedung, ia pun kembali menghubungi pihak katering, toko bunga dan tim dekorasi mengenai alamat acara akan di laksanakan dan ia juga harus bergegas untuk meminta orang untuk mengirim undangan.


Pekerjaannya tak berakhir di sini karena pekerjaannya yang sesungguhnya baru saja di mulai, Zevana kembali berkutat pada komputernya dan mengetik beberapa catatan tentang pertemuan-pertemuan yang sebelumnya terjadi dan ia tidak memiliki kesempatan untuk mengetiknya.


“Ayo pergi” ucap seseorang mengganggu konsentrasi Zevana pada pekerjaannya.


Entah apa yang terjadi pada Zevana, ia bahkan berbicara santai pada bosnya itu padahal ia masih berada di kawasan kantor, mungkin karena ia terlalu sibuk sampai-sampai melupakan bahwa yang sedang berbicara dengannya itu adalah atasannya.


“Tinggalkan itu, ayo pergi” ucap Maxime lagi.


Zevana menghela nafasnya kasar namun tetap menghentikan aktivitasnya, ia tak sengaja melirik ke arah jam yang tertera pada komputernya yang sudah menunjukkan pukul empat sore saat ia menyalin pekerjaannya tadi ke USB-nya. Ia mengemas mejanya yang sedikit berantakkan lalu memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas kerjanya, ia berjalan dengan sedikit berlari mendekat ke arah Maxime karena ia tahu jika ia terlambat sedikit saja pria itu akan meninggalkannya.

__ADS_1


“Kau bisa membiarkan aku menyelesaikan pekerjaanku padahal itu sedikit lagi” ucap Zevana menghela nafasnya sembari menyandarkan tubuhnya di dinding lift.


Tidak ada jawaban dan setelah beberapa menit lift itu dipenuhi keheningan akhirnya pria itu menanggapinya ucapannya.


“Jangan menyalahkanku karena cara kerjamu yang lamban, kau harus membiasakan diri untuk melakukan apa pun dengan cepat jika ingin terus bekerja di sini” ucapnya.


Maxime mengeluarkan ponsel dan memainkannya sedangkan Zevana hanya bersandar sembari menatap kosong ke depan, meskipun ia benci kenyataan ini tapi ia harus akui bahwa pria itu benar ia harus mempercepat cara kerjanya.


Mereka pun kini beralih di dalam mobil pribadi Maxime yang dikemudikan sendiri oleh pemiliknya dalam keheningan tanpa musik bahkan bincang-bincang kecil sekalipun, ya meskipun berdiam seperti ini lebih bagus daripada membuka mulut dan berakhir perdebatan.


Setelah setengah jam perjalanan akhirnya mereka pun tiba di penthouse milik Maxime dan saat pintu itu terbuka keduanya pun berpencar ke dalam kamar masing-masing tanpa sepatah kata pun. Zevana keluar dari kamarnya setelah malam hari dan memastikan bahwa Maxime tidak ada di rumah. Jangan tanyakan ke mana pria itu pergi karena sudah tentu bersenang-senang dengan wanita-wanitanya.


Zevana merasa sangat lelah dan lapar, ia pun memutuskan untuk membuat hidangan makan malam yang simpel untuk ia nikmati sembari menonton siaran di televisi. Ia menyelesaikan makan malamnya dengan cepat karena ia sangat lapar dan setelahnya ia kembali ke kamarnya merebahkan dirinya sembari bermain sosial media sebelum akhirnya terlelap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2