
Zevana baru saja keluar dari kamarnya berniat untuk mengambil camilan dan minuman untuknya agar bersemangat mengerjakan tugasnya dan saat tiba di dapur ia langsung menuangkan beberapa snack ke dalam wadah dan sebotol jus kotak dengan gelas berisi es batu di tersusun di dalam nampan.
Saat ia ingin melangkahkan kakinya kembali ke kamar ia melihat seorang pria yang ia ketahui adalah salah satu dari teman kakaknya, ia tersenyum singkat pada pria itu saat mata mereka beradu pandangan. Dan saat ia ingin kembali melanjutkan langkahnya itu kembali terhenti saat pria itu bersuara.
“H-hey!” sapa pria itu terdengar grogi
Zevana memalingkan tubuhnya menghadap pria itu “Ya, ada apa?” tanya Zevana sopan pada pria yang berstatus teman kakaknya itu.
“Di mana toilet?” tanya pria itu lagi.
Kesan pertama Zevana pada pria itu adalah ‘pria dingin’ karena ia sangat hemat bicara, nadanya dingin dan wajahnya yang tanpa ekspresi itu.
“Itu di sana” ucap Zee menunjuk lorong samping dapur tempatnya berdiri saat ini.
“Sorry, tapi apa kau bisa menungguku sebentar?” tanya pria itu lagi dan kali ini pria itu terdengar sopan.
“Ya, sorry?” tanya Zevana bingung.
Pria itu melihat ke sekeliling “Rumah ini terlalu besar sejak tadi aku terus berputar-putar hanya untuk mencari dapur ini, bisa tunggu aku sebentar dan tunjukkan aku jalan untuk kembali ke tempat Zack” jelasnya panjang lebar.
Dan Zevana dengan segala kepolosannya mengangguk setuju dan menunggu pria itu keluar dari kamar mandi. Sesaat setelahnya pria itu pun akhirnya keluar dari dan Zevana kembali meraih nampannya dan berjalan mendahului pria itu berniat untuk menunjukkan jalan.
Baru beberapa kali ia melangkahkan kakinya Zevana terperanjat saat merasakan tangan kekar melingkar indah di pinggang kecilnya dan mengakibatkan nampan yang ada di tangannya itu terlepas dan pecahan dari mangkuk, gelas berserakan di lantai.
“H-HEY! WHAT ARE YOU DOING!!” pekik Zevana kaget.
__ADS_1
“Syut, diamlah! Atau aku akan melakukannya di sini”
Zevana memberontak agar pelukan itu terlepas “Kenapa hem? Bukannya kau sengaja berjalan di depanku agar aku bisa melihat pantat mulusmu ini?” ucapnya sembari meremas pantat Zevana kasar.
Ia terpekik histeris dan jangan di tanya lagi ia sudah pasti menangis dengan kuatnya “Apa yang kau lakukan? Lepaskan ini” isaknya
“ZACKY!! DAD! DADDY HELP ME!” teriaknya histeris saat pria itu membalikkan tubuhnya lalu merebahkan tubuhnya di lantai yang berserakan kaca dan menyebabkan beberapa kaca menempel di bagian lengan, paha dan punggungnya.
“STOP! STOP IT!! STOP ITS ENOUGH, YOU HURT ME!!” pekik Zevana histeris saat pria itu mencoba mencumbunya namun gagal dan kini malah beralih ke dadanya.
“STOP IT! YOU HURT ME!!” pekiknya lagi namun tak di hiraukan oleh pria yang ada di atas tubuhnya itu.
“STO—” teriakannya tenggelam karena seseorang berteriak lebih kencang darinya “STEVEN, WHAT ARE YOU DOING?!”
“Hey! Zee, bangunlah”
Matanya terbuka sempurna saat mendengar seseorang meneriakkan namanya bahkan mengguncang tubuhnya cukup kuat, ia terbangun dari tidurnya dan mendorong kasar tangan yang membangunkannya itu lalu bergeser sedikit menjauh dari hadapan pria yang membangunkannya itu.
“Hey, tidak apa. Ini aku Maxime” ucap pria itu dengan suara lembutnya dapat dirasakan sedikit kekhawatiran di suaranya itu.
Maxime kembali mencoba mendekat ke arahnya sedangkan Zevana menatap bingung ke arahnya dan masih sibuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal itu.
“Apa kau memimpikannya lagi?” tanya Max prihatin, ia tak suka saat melihat Zevana seperti ini.
Zevana menganggukkan kepalanya pelan, ini sangat memuakkan. Ia tak percaya bahwa mimpi buruk itu belum sepenuhnya hilang, ia sangat menyedihkan karena mimpi buruknya itu belum hilang. Ini mungkin saja memerlukan waktu yang sedikit cukup lama untuk melupakannya karena saat kasus pertama ia butuh waktu satu bulan lebih untuk menghilangkan mimpi buruk dan traumanya itu.
__ADS_1
Itu memang mungkin saja terjadi tapi ia merasa sangat buruk untuk Maxime dan ia kelihatan sangat lemah, rasanya ingin menghilang saja bahkan sekarang pun ia ingin hilang dari hadapan Maxime malu karena terlihat lemah.
Zevana bangkut dari rebahnya dan duduk di tepi kasur sebelum akhirnya bangkit “M-maafkan aku” lirihnya.
Ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur meninggalkan Max di sana, tak peduli mau pria itu mendengarkan ucapannya atau tidak yang terpenting ia sudah mengatakannya meskipun pelan.
Ia mengambil gelas dan menuangkan air putih lalu meneguknya hingga habis, ia menghela nafasnya kasar saat pikirannya kembali di penuhi dengan banyak hal. Dulu ia harus tidur dengan mimpi buruk yang menghantuinya itu selama satu bulan penuh tapi itu sangat wajar karena dulu ia masih kecil dan sekarang karena sudah besar ia pikir ia akan baik-baik saja bahkan ia kini sudah jadi lebih kuat daripada Zevana yang dulu.
Namun ternyata tak peduli sudah dewasa atau tidak mimpi buruk itu selalu ada dan bahkan kadang bercampur dengan kejadiannya yang dulu seperti tadi, itu adalah mimpi paling buruk.
“Kau baik-baik saja?” tanya Max saat ia sedang mencuci gelas bekasnya tadi.
Zevana menoleh ke sebelah kanannya karena Max berada di sampingnya saat ini “Ya, terima kasih sudah membangunkanku” ucapnya lirih.
“Ingin tidur bersama saja seterusnya?” tanya Max sukses membuat Zevana membelalakkan matanya.
Awalnya mereka memang berada di kamar yang sama namun karena mereka melakukan hubungan intim lebih awal di tengah malamnya Maxime pindah ke kamarnya dan saat terbangun tadi entah kenapa langkah kakinya membawanya sampai di depan kamar Zevana.
Meski awalnya sempat ragu memutuskan untuk masuk atau tidak akhirnya ia pun masuk dan baru saja membuka pintu dan berada di dalamnya ia mendengar suara isakan tangis dan pergerakan tak nyaman dari atas tempat tidur Zevana. Maxime dengan cepat mendekat ke arah tempat tidur dan melihat Zevana yang menangis dengan mata yang terpejam, itu membuatnya sedikit panik dan langsung membangunkan wanitanya itu.
Zevana menatap ragu ke arah Max “A-apa boleh begitu?”
“Tentu” ucap Max sembari menganggukkan kepalanya dan menatap dalam wanita di sampingnya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1