
Enam bulan kemudian
Saat pagi hari menyapa di tempat tidur yang besar itu hanya terlihat seseorang saja padahal ini masih sangat pagi untuk memulai kegiatan. Sejak kandungan Zevana sudah memasuki usia kandungan tujuh bulan hingga sekarang Maxime menaruh perhatian ekstra pada istrinya itu karena tidak ingin terjadi suatu hal yang buruk pada istri dan calon anaknya itu.
Maxime selalu bangun lebih pagi dari biasanya karena jika ia terlambat bangun maka ia tidak akan dapat bersiap-siap dan seharian tidak dapat mandi karena sikap Zevana yang semakin hari semakin menjadi-jadi itu.
Setelah selesai mandi ia kini berada di dapur untuk menyiapkan sarapan untuknya dan memakannya lebih awal sembari sibuk dengan ponselnya untuk mengurus pekerjaannya di kantor karena sudah sebulan lebih ia tidak pergi ke kantor dan hanya pergi jika ada suatu hal yang sangat mendesak.
Satu jam kemudian ia mendengar seseorang meneriaki namanya dari arah kamar, siapa lagi kalau bukan wanita hamil yang tengah mengandung anaknya itu. Maxime bergegas menuju kamar tidur dan melihat istrinya yang tersenyum manis ke arahnya dan menunjukkan deretan gigi putihnya itu.
“Good morning, Max” sapa Zevana dengan ceria.
Max berjalan mendekat ke arah kasur “Good morning, sayang” ucapnya balik.
Maxime duduk di kasur dan Zevana menggeser tubuhnya mendekat ke arah Max lalu memeluk erat suaminya itu dengan kepala yang ia taruh di pangkuan Max sebagai bantalan dan Maxime pun menciumi wajahnya lalu mengusap-usap pelan puncak kepala dan sesekali mengusap-usap perut besar istrinya itu.
Ia membiarkan istrinya itu seperti ini karena Zevana pernah mengatakan kepadanya kalau ia perlu mengisi tenaga di pagi hari sebelum memulai kegiatan apa pun dan bahkan wanitanya ini kadang kembali tertidur saat sedang mengumpulkan tenaganya, entah karena faktor kehamilan atau bukan tapi Zevana berubah menjadi wanita yang pemalas, sering menunda kegiatannya, jarang mandi bahkan jika ingin melakukan sesuatu ia harus mengumpulkan niat terlebih dulu.
“Sudah cukup? Ayo bangun, kau harus mandi sayang” ucap Max sembari mengusap pelan puncak kepala istrinya itu.
Zevana berdehem dan kembali mengeratkan pelukannya itu “Sebentar lagi, tenagaku belum terkumpul semuanya” ucapnya.
“Aku akan menyiapkan air untukmu mandi” ucap Max namun di tahan oleh Zevana “Nanti saja, sebentar lagi biarkan aku seperti ini dulu” ucapnya.
Kini sudah tiga puluh menit berlalu tapi Zevana tetap tidak ingin bangkit dari kasurnya “Sayang, kau harus bersiap sekarang. Apa kau tau lupa kau belum mandi dari semalam sore” ucap Max mengingatkan Zevana.
Zevana mendengus kesal “Ugh.. kau sangat menyebalkan” ucapnya.
__ADS_1
“Ayo bangun, kakiku pegal sekali” ucap Max langsung membuat Zevana mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di kepala ranjang.
Maxime mencium kening istrinya itu lalu beralih ke perut besar itu “Aku akan menyiapkan air dulu untukmu” ucapnya lalu beranjak menuju kamar mandi.
Setelah selesai Max menuntun Zevana menuju kamar mandi dan membiarkan istrinya itu mandi sendirian “Kau ingin sarapan apa hari ini?” Tanya Maxime.
“Pancake” ucap Zevana di angguki oleh Max “Oh ya, tolong beli saja jangan membuatnya” ucap Zevana lagi.
“Baiklah” ucap Max.
Zevana tengah mandi dan Max tengah sibuk dengan ponselnya memesankan pancake untuk istrinya itu. Pancake datang tepat sebelum Zevana keluar dari kamarnya padahal ia tidak berdandan tapi itu sangat lama untuk ukuran seseorang yang mandi dan memakai baju dan Zevana langsung menikmati pancakenya begitu keluar dari kamar.
...****************...
“Sayang, kemari sebentar” teriak Zevana dari arah sofa
Secepat kilat Maxime yang dipanggil pun tiba di depannya dan ia menghela nafasnya berat saat berjalan ke arah istrinya itu dengan bahu yang membungkuk. Lelah, ia sangat-sangat kelelahan akhir-akhir ini belum lagi sifat Zevana yang sering kali berubah-ubah membuatnya seperti akan gila.
“Hem, kenapa sayang?” tanya Max.
Zevana menatap iba suaminya itu, ia tahu bahwa akhir-akhir ini Maxime menjadi sangat kelelahan karena dirinya namun meskipun begitu Maxime tidak pernah menunjukkannya. Dan meski ia tahu kalau ia membuat lelah suaminya itu ia tidak bisa menghentikan sikapnya yang kadang-kadang menyebalkan dan kekanakan ini.
“Sayang, apa aku terlihat seperti ikan paus jika berada di sampingmu?” tanyanya, ini sudah lebih sepuluh kali ia bertanya dengan membandingkan tubuhnya dan hewan.
Maxime menghela nafasnya ini bukan pertama kalinya Zevana membandingkan tubuhnya dengan hewan setelah bosan dengan sapi, gajah kali ini ia menggantinya dengan ikan paus dan Maxime selalu menjawab salah pertanyaan itu, jika ia bilang tidak maka Zevana akan mengatakan bahwa dirinya berbohong dan jika ia mengatakan iya maka wanita itu siap berperang dengannya.
“Tidak sayang, kau terlihat cantik dan akan terlihat sangat-sangat cocok jika berada di sampingku” ucap Max.
__ADS_1
Zevana memasang wajah cemberutnya “Berhenti menipuku, jujur saja kenapa harus berbohong seperti itu bahkan aku yang punya diri saja membandingkan diriku dengan hewan itu kenapa kau mengatakan tidak? Berhenti berbohong dan jujur saja” amuknya.
Maxime menghela nafasnya dengan keras “Baiklah, kau memang terlihat seperti kawanan paus” ucapnya yang sudah lelah dengan pertanyaan yang sama itu.
“Kawanan? Aku hanya bertanya tentang ikan paus kenapa kau menyamakan aku dengan kawanan ikan paus? Kau tega sekali” rengek Zevana dengan air mata yang secara otomatis menetes membasahi pipinya.
Maxime mendekat ke arah sofa dan duduk di samping istrinya itu lalu dengan segera membawanya ke dalam pelukannya mencoba menenangkan istrinya itu.
“Sayang kau tau kan bukan itu maksudku, aku hanya mengatakannya karena kau ingin aku memanggilmu seperti itu” ucap Max mencari alasan.
“T-tapi aku tidak pernah mengatakan kawanan ikan paus padamu, apa aku benar-benar terlihat sama dengan mereka?” tanya Zevana dengan tangis yang menjadi-jadi.
“Tidak sayang, kau salah dengar aku tidak pernah mengatakan kawanan” ucap Maxime mengelak.
“Berhenti berbohong, telingaku masih berfungsi dengan baik” ucapnya terisak.
“Sayang, maafkan aku” ucap Max sembari merutuki dirinya.
Zevana menggeleng pelan kepalanya di dalam pelukan Maxime “Kau tidak salah, ini salahku yang hamil dan menjadi wanita yang jelek” isaknya.
“Kau cantik sayang, sangat-sangat cantik apalagi sekarang kau tambah cantik karena mengandung anakku” ucapnya.
“Jangan pernah berkata seperti itu lagi karena kehamilanmu adalah hal terbaik dan paling berharga untukku dan aku tidak berbohong karena kau terlihat sangat cantik saat mengandung” ucap Maxime meyakinkan istrinya itu.
Baru saja hendak menjawab pertanyaan Maxime tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang mengalir keluar di pahanya, ia tersenyum malu karena mengira itu adalah air kencingnya tapi ketika otaknya berputar memikirkan hal lain sontak saja mereka berdua saling berpandangan dan panik.
“M-max, aku.. aku rasa airnya baru saja pecah. Itu bukan pipis ku” ucap Zevana lalu berteriak histeris.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...