Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Episode 68


__ADS_3

Di sebuah restoran mewah tempat berkumpulnya para orang berada terlihat dua insan yang tengah asik tertawa tanpa memperdulikan kiri dan kanan mereka bahkan Zevana tak tanggung-tanggung untuk tertawa lepas karena lelucon yang dibuat Max. Kalau boleh jujur sebenarnya ia tak tertawa karena itu lucu melainkan karena lelucon yang dibuat Maxime itu sangat garing sehingga membuatnya tertawa gelak sampai-sampai ia menjadi pusat perhatian pelanggan lainnya.


Maxime tak bisa mengontrol saraf motoriknya saat mendengar Zevana tertawa gelak itu membuatnya tertawa meskipun tak seheboh Zevana “Hey, kau jadi pusat perhatian sekarang karena tawamu” tegur Max.


“You know, leluconmu sama sekali tidak lucu tapi aku tak bisa menahan tawaku karena kau terlihat percaya diri dengan lelucon payahmu itu” jujurnya.


“Sudah, hentikan tawamu” tegurnya lagi.


Jujur saja ia sedikit kesal karena ia pikir Zevana tertawa karena leluconnya lucu tapi itu terlihat baik karena setidaknya ia bisa menghibur Zevana meskipun leluconnya gagal.


Zevana masih menahan tawanya sembari melirik ke arah Maxime dan sesekali melihat ke sekeliling mereka “Aku hanya bercanda, jika tidak lucu tidak mungkin aku tertawa” ucapnya.


Berbohong demi kebaikan itu tidak jadi masalah karena ia dapat melihat raut wajah kecewa Max padahal ini pertama kalinya Maxime membuat lelucon seperti ini, jadi setidaknya ia harus menghargainya meskipun ia sudah sempat berkata jujur sebelumnya.


“Sudah hentikan, nikmati saja makananmu” ucap Max, ia tak marah hanya saja memang seperti itulah nada bicara dan raut wajahnya yang datar itu.


Di sela makannya Maxime tiba-tiba bertanya hal yang membuat Zevana membelalakkan matanya tak percaya karena pembahasan itu sangat tidak cocok dengan situasi mereka saat ini.


“Apa kau meminum pil pencegah kehamilan itu dengan teratur?” tanyanya tiba-tiba.


Zevana mendengus kesal mendengar pertanyaan itu bukan apa-apa tapi apakah sebegitu tidak inginnya Max jika ia mengandung anaknya, pikirnya.


“Itu bukan hal yang cocok untuk dibicarakan saat makan” ucap Zee ketus.

__ADS_1


Maxime selalu berlaku seperti itu padanya padahal baru saja mereka tertawa bersama tapi kini pria itu kembali seperti membuat tembok yang jelas yang menjadi pembatas hubungan mereka.


Max hanya menatap Zevana datar yang kini tengah menatapnya tajam itu “Kau harus meminumnya dengan rutin” ucapnya lagi.


“Aku tidak mungkin meminumnya setiap hari yang ada aku bisa sakit karena obat sialan itu” ucap Zevana yang berusaha menahan rasa kesalnya itu.


Entah kenapa mendengar ucapan Maxime itu membuatnya merasa seperti ditolak mentah-mentah oleh pria itu karena setelah berhubungan dengan Max, ia bahkan tidak berpikiran untuk suntik kb atau bahkan mengonsumsi pil kb darurat sialan itu dan semua itu atas perintah Maxime.


“Bukankah sudah dokter katakan efek samping obat itu tidak separah suntikan” ucap Max yang masih belum memahami situasi.


Zevana mengentakkan garpu dan pisaunya ke meja tepat di samping kiri kanan piringnya “Jika kau begitu tidak ingin aku hamil anakmu lebih baik jangan lakukan sex bodoh itu lagi, kembali saja dengan jalang-jalangmu itu” bentaknya.


Max terkejut tapi masih dengan wajah datarnya ia sama sekali tak menyangka bahwa pertanyaannya akan membuat Zevana semarah ini, ia melihat ke sekeliling dan sekali lagi mereka menjadi bahan tontonan pelanggan lainnya.


Tak ingin menjadi pusat perhatian lebih lama lagi dan sangat tidak memungkinkan untuk mereka tetap di sana setelah membuat keributan seperti itu Maxime pun menarik tangan Zevana dan membawa wanita itu pergi dari sana, mereka tidak perlu menunggu bil atau membayar di kasir karena sebelum makan mereka sudah menyelesaikan transaksi terlebih dulu.


Max menghela nafasnya kasar “Hey, bukan itu maksudku. Aku hanya tidak ingin kau kesusahan jika sampai hamil” jelasnya.


Zevana tetap tak menggubris pernyataannya itu dan Max dengan sedikit memaksa menarik tubuh Zevana agar menghadap ke arahnya dan ia juga menggenggam erat kedua tangan wanitanya itu.


“Hey, percayalah bukan itu yang aku maksud” ucapnya yang terus mencoba menjelaskan perkataannya.


Kini giliran Zevana yang menghela nafasnya kasar “Aku tau, cepatlah aku ingin pulang” ucapnya.

__ADS_1


Maxime menggelengkan kepalanya “Tidak sebelum kau berhenti salah paham dan kesal padaku” ucapnya.


“Oke-oke, aku percaya” ucapnya sembari memutar bola matanya jengah “Sudahkan? Cepat jalankan kembali mobilnya” perintahnya.


Max menghela nafasnya tapi ia tetap menjalankan mobilnya seperti yang diinginkan Zevana dan setibanya di apartemen Zevana berjalan lebih dulu masuk ke dalam saat Maxime memberikan kunci mobilnya pada petugas untuk diparkirkan dan tepat saat pintu lift hampir tertutup Max dengan cepat menekan tombol buka lagi.


Zevana hanya bersandar sembari memangku kedua tangannya ia melihat ke sembarang arah agar tak bertatapan dengan Max.


“Hey, maaf... Aku minta maaf, oke?” ucap Max yang sadar bahwa Zevana masih kesal padanya dan Zevana hanya berdehem sebagai jawaban.


Mereka tiba di rumah, sedetik sebelum Zevana masuk ke dalam kamarnya Maxime terlebih dulu menarik tangan Zevana dan menahannya.


“Tidurlah di kamarku, kau tidak boleh tidur sendiri” ucapnya menatap Zevana yang masih enggan menatapnya “Oke, tidak masalah kalau kau tidak ingin memaafkanku tapi kau harus tidur bersamaku jika tidak kau akan bermimpi buruk lagi” ucapnya.


Bukan ada maksud dan tujuan lain tapi jujur saja ia merasa sangat kasihan saat melihat Zevana gelisah dalam tidurnya akibat mimpi buruk yang dialaminya itu. Tanpa menunggu jawaban dari Zevana ia langsung menarik tangan wanita itu untuk berjalan kembali ke kamarnya dan tepat sebelum mereka memasuki kamar Max Zevana menghentikan langkahnya.


“Biarkan aku membersihkan tubuhku dan berganti pakaian dulu” ucapnya.


“Biar--” ucap Max terpotong “Kau ingin mengganti pakaianku lagi? Tidak, aku bisa sendiri” tolak Zevana padahal bukan itu yang dimaksud oleh Max.


Padahal maksud Max biar ia siapkan air di kamar mandinya selagi Zevana mengambil pakaiannya, ia berniat menyuruh Zevana untuk membersihkan diri di kamarnya tapi karena tak ingin membuat suasana hati Zevana semakin berantakan ia pun mengizinkan wanita itu melakukannya.


Max melangkahkan kakinya masuk ke kamarnya senyuman di wajahnya tak berhentinya mengambang, ia menggelengkan kepalanya sembari memasuki kamar mandi lalu menghela nafasnya.

__ADS_1


“Hah, menggemaskan sekali”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2