Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Ep.48 Perlahan Saling Memahami


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan seperti biasanya mobil mereka hanya di penuhi dengan keheningan, Zevana yang biasanya merasa bosan dengan keheningan ini tapi khusus saat ini ia sangat berterima kasih atas kebosanan yang biasa terjadi pada mereka berdua.


Begitu masuk ke dalam mobil dan mulai melaju ia maupun Maxime tidak ada yang membuka mulut untuk berbicara. Ia hanya duduk diam sembari melirik ke arah luar jendela namun ia bisa merasakan setiap kali Maxime menatapnya, mungkin banyak yang ingin pria itu tanyakan padanya dan ia sangat bersyukur karena Max menahan semua rasa penasarannya itu dengan sangat baik.


Matahari perlahan mulai menampakkan wujudnya dan mereka pun kini sudah hampir sampai hanya tinggal melewati beberapa gedung lagi saja dan Zevana kini tengah mengatur posisi duduknya menjadi duduk tegak bersiap untuk segera turun.


Mereka pun sampai di depan gedung mewah “Masuklah dulu, aku perlu mengurus sesuatu” ucap Max dan diangguki oleh Zevana “Aku akan kembali setengah jam lagi, tidurlah lagi kau pasti lelah”


Zevana tersenyum kecut “Sepertinya itu sedikit sulit” ucapnya lalu membuka sabuk pengamannya “Tolong bukakan bagasinya” ucapnya lagi.


“Aku akan membawanya nanti saat aku pulang” ucapnya.


Zevana menganggukkan kepalanya lagi lalu membuka dan menutup kembali pintu mobil itu, Max memastikan sampai wanitanya itu masuk ke dalam gedung barulah ia beranjak dari sana. Sedangkan Zevana begitu melewati pintu masuk ia langsung berjalan dengan terburu-buru menuju lift apalagi setelah mengetahui bahwa Max sudah pergi dari sana dan untungnya ia tak perlu menunggu lama lift itu untuk terbuka, ia pun segera masuk ke dalamnya.


Ia menempelkan jarinya pada sensor keamanan dan pintu apartemen itu pun langsung terbuka, ia masuk lalu mengunci pintu itu dari dalam.


Ia menghela nafas lega “Kau aman, sekarang tidak apa. Tidak ada siapa pun yang bisa masuk kesini” ucapnya menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Ia tahu fakta bahwa siapa pun selain dirinya dan Max tidak bisa masuk karena pintu hanya akan terbuka dengan sidik jari mereka berdua terlebih jikalau ada seseorang yang membobol sistem keamanan apartemen ini, ia tetap aman karena sudah menguncinya dari dalam.


Ia berjalan menuju kamar tidurnya lalu mencuci wajahnya serta mengganti pakaiannya, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur mencoba untuk memejamkan matanya karena merasa bosan tidak ada yang bisa ia lakukan jadi ia memilih untuk tidur.


Kurang lebih sepuluh menit mencoba untuk memejamkan matanya, ia tetap tidak terlelap. Zevana menghela nafasnya kasar lalu bangkit dari kasurnya menuju dapur, ia berniat untuk membuat pasta untuk menyumbat perutnya yang sedikit lapar iitu


Syukurlah semua bahan yang ia butuh kan tersedia di dalam kulkas, ia menjadi merasa lebih baik dan aman setelah mendengar suara spatula dan panci yang beradu membuatnya berpikir bahwa kini semua baik-baik saja dan ia sudah kembali ke hari-hari biasanya.


Ia akan menjadi sangat paranoid ketika di tinggal sendirian bahkan mendengar suara-suara paling kecil sekalipun membuatnya takut tanpa alasan yang jelas. Masakannya sudah selesai namun saat ia mematikan kompor dan bergerak untuk mengambil piring, sayup-sayup ia mendengar suara pintu yang digedor sangat kuat.


Dengan penuh ketakutan ia meraih pisau yang sebelumnya ia gunakan untuk memotong bawang dan bergerak pelan menuju pintu depan. Suara gedoran itu semakin kuat di telinganya namun langkahnya terhenti saat mendengar suara teriakan yang sangat ia kenali.


Ia menghela nafas lega dan hampir saja oleng “Iya sebentar” teriaknya pelan lalu kembali ke dapur untuk meletakkan pisaunya.


Setelah kembali ia langsung membuka pintunya “Ma-” belum sempat ia menyelesaikan omongannya, tubuhnya terlebih dahulu ditarik Max ke dalam pelukannya.


“Kau baik-baik saja kan? Kenapa lama sekali, Zee” ucap Max semakin pelan, ia terdengar sangat khawatir.

__ADS_1


Zevana tak membalas pelukan Max “I-iya, aku baik-baik saja” ucapnya.


Setelah beberapa detik Max masih tidak melepaskan pelukan itu dan membuat Zevana bertanya-tanya kenapa pria itu memeluknya seperti ini. Namun baru saja Zee hendak membalas pelukan tersebut, pria itu justru melepaskan pelukannya.


Max terlihat menggaruk tengkuknya, ini menjadi sangat canggung “Kenapa kau lama sekali membukakanku pintu?” tanyanya.


“M-maaf, tadi aku membuat sesuatu di dapur jadi aku tak mendengarnya” ucap Zee pelan.


Maxime mengangguk tanda paham lalu berjalan masuk dan Zevana kembali mengunci pintu “Kau membuat pasta?” tanya Max lalu berbelok menuju dapur.


Zevana mempercepat langkahnya, saat Maxime duduk di kursi bar Zevana mengambil piring dan meletakkan pastanya di piring lalu memberikannya satu untuk Max dan satu untuknya.


Ia duduk di samping Maxime dan baru saja ia ingin menyuap pasta ke dalam mulutnya namun terhenti saat menyadari bahwa terjadi sesuatu dengan buku-buku jarinya.


“Jari tanganmu kenapa?” tanya Zevana, Max mengikuti arah pandangan Zevana.


Tangan yang awalnya mengepal itu ia lepaskan perlahan lalu membolak-balikkannya “Bukan apa-apa, makan saja pastamu. Ini enak” ucapnya.

__ADS_1


Zevana tahu bahwa terjadi sesuatu tapi mendengar ucapan Max yang seakan tak ingin membicarakan hal itu lagi membuatnya diam dan memakan pastanya dengan tenang namun sesekali pandangannya tetap mengarah pada buku-buku jari pria di sampingnya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2