Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Episode 67


__ADS_3

Zevana baru saja turun dari mobil ibunya ia melambaikan tangan saat mobil yang dikendarai ibunya itu perlahan menjauh darinya dan beberapa saat kemudian dengan senyuman yang mengambang di wajahnya ia melangkahkan kakinya menuju lift dan tiba di apartemennya dengan selamat dan suasana hati yang bahagia.


Ia melangkahkan kakinya perlahan dan saat ingin memasuki kamarnya ia melihat Maxime yang tengah duduk santai sembari menonton televisi, Zee mengernyitkan keningnya waktu pulang kerja masih tersisa tiga jam lagi tapi pria yang work a holic itu sudah ada di rumah lebih awal hari ini.


Dengan penuh rasa penasaran Zevana melangkah mendekat ke arah Max “Hai, kau pulang lebih awal hari ini” sapanya ramah.


“Ya, aku meninggalkan ponselku dan aku kembali” ucap Max menatap Zevana yang terlihat sedikit bingung “Karena tidak ada jadwal penting lagi jadi aku memutuskan untuk tetap di rumah saja” jelasnya lagi.


Zevana hanya menganggukkan kepalanya paham dan duduk di sampingnya “Bagaimana harimu? Apa menyenangkan atau malah melelahkan?” tanya Max.


“Tentu saja menyenangkan karena setelah sekian lama akhirnya aku bisa pergi berdua ibu lagi” ucapnya dan mengukir senyuman indah di wajahnya.


Maxime menatapnya dalam dan itu seketika membuatnya menghela nafas kasar lalu menyandarkan kepalanya di bahu Max dengan tangan Max yang mengusap pelan lengannya.


“Meskipun melelahkan tapi aku menyukainya” ucapnya dan menguap di akhir kalimat.


Tanpa mengatakan apapun lagi Max dengan cepat mengangkat tubuhnya dan Zevana pun melingkarkan tangannya di leher Max dan meringkuk dalam gendongan pria itu. Max membuka pintu kamar dengan susah payah lalu mendorong pintu itu dengan kakinya hingga terbuka dan begitu masuk Max langsung merebahkan tubuhnya di kasur.


“Max sungguh aku tidak bohong, aku sangat kelelahan saat ini” ucapnya saat Max tiba-tiba mulai membuka kancing pakaiannya.


Max tak menghentikan kegiatannya hingga akhirnya ia pun menahan tangan pria itu “Max please, aku sangat lelah” ujarnya lagi.


Max menjauhkan tangannya lalu menatap Zevana dalam "Ya aku tau, aku tidak akan melakukannya tapi kau harus berganti pakaian dulu"


Mulut Zevana membentuk huruf O kemudian ia hanya menganggukkan kepalanya mengerti, bukannya ingin berpikiran negatif tapi situasinya sangat mendukung terlebih Max membawa Zevana ke kamarnya.


"Ah, sorry" lirihnya malu karena sudah berprasangka.


"Em, apa kau ingin berganti pakaian sendiri?" tanya Max

__ADS_1


Zevana terlibat ragu sebentar namun ia menepis semua pikiran negatifnya memutuskan untuk mempercayai Max lalu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Apa kau mau membantuku?" tanyanya ragu, ia sangat malas untuk kembali bangkit karena ia sudah merasa nyaman dengan posisinya saat ini.


Max tersenyum tipis "Tentu, percaya kan saja padaku" ucapnya lalu melanjutkan kegiatannya.


Meskipun terkesan tidak tahu malu tapi keduanya terlihat baik-baik saja dan tak terlalu mempermasalahkan hal itu, Maxime menggantikan pakaian Zevana menjadi pakaian tidur yang sebelumnya ia ambil dari kamar Zee.


Dan kini kedua insan itu terlihat tengah menatap langit-langit kamar dengan Zevana yang berada di samping Max dengan lengan Max yang jadi bantalan meski ada banyak bantal yang menganggur di atas kepalanya itu.


Mereka bercerita banyak hal lebih tepatnya Zevana mulai dari kegiatannya kemarin dengan ibu dan ipar-ipar Max hingga kegiatannya tadi bersama ibunya, sedangkan Max tidak banyak yang ia ceritakan selain hal yang di tanyakan oleh Zevana lebih tepatnya daripada bercerita lebih tepat jika disebut menjawab pertanyaan.


"Apa kau punya mantan pacar?" tanya Zevana.


Max berdehem sebagai jawaban "Apa aku boleh tau siapa mereka? Sudah pasti mereka dari kalangan atas bukan apa mereka orang-orang terkenal, apa mungkin artis? " tanyanya lagi.


Max menggelengkan kepalanya "Tidak aku tidak pernah berkencan dengan artis" ujarnya.


Max kembali menggelengkan kepalanya lagi "Itu juga tidak pernah" jawabnya.


"Lalu?" tanya Zevana mendongakkan kepalanya menatap wajah Max menginginkan jawabannya saking penasarannya.


"Teman sekolahku" ucapnya singkat.


Zevana memasang wajah terkejutnya "Wah, jadi selama ini kau hanya mengencani wanita-wanita dari sekolahmu?" tanyanya lagi dan Maxime menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Apa mereka saling berteman satu sama lain atau kau hanya memacari mereka secara acak?" tanyanya lagi.


Zevana sangat bersemangat saat membahas kisah percintaan orang lain karena kisah percintaannya bisa dibilang tidak pernah ada bahkan cinta pertamanya harus berakhir dengan sangat menyedihkan.

__ADS_1


"Aku hanya mengencani satu orang" ucap Max membuat Zevana semakin kaget.


"Ha? Kau serius??" tanyanya kaget dan Maxime hanya diam.


Max tak menjawab pertanyaan itu, ia hanya menatap Zevana datar "Malam ini ingin makan di luar saja?" ajak Max dan Zevana menganggukkan kepalanya setuju.


Zevana menghentikan rasa penasarannya karena sepertinya Max tidak ingin membicarakan hal mengenai mantan kekasihnya, mungkin saja kisah percintaan tidak bagus Max sama seperti dirinya atau mungkin Max belum bisa melupakan wanita itu.


Saat pemikiran itu terlintas di pikirannya ia dengan spontan mendongak menatap Max dengan mata yang membelalak.


"Ada apa, hem?" tanya Max saat melihat ekspresi kaget Zevana.


Ia hanya tertawa pelan "Bukan apa-apa" ucapnya.


"Tidurlah, aku akan membangunkanmu sebelum jam delapan malam" ucapnya sembari memiringkan posisi baringnya lalu menarik tubuh Zevana lebih menempel lagi dengannya.


Zevana tak menolak itu karena pelukan hangat Max membuat kantungnya semakin menjadi "Selamat tidur Max" ucapnya.


Maxime mengecup puncak kepala Zevana membiarkan wanitanya itu tidur dalam pelukannya dan tak lama kemudian Zevana benar-benar tidur dengan nyenyak dalam pelukannya.


Saat merasakan bahwa Zevana sudah tidur dengan nyenyak ia pun melepaskan tubuhnya dari pelukan Zevana dan membetulkan posisi tidur wanitanya itu.


Ia juga mengecup kening, kedua pipi bahkan bibir Zevana singkat sebelum turun dari kasurnya dan keluar dari sana menuju ruang kerjanya mengambil laptopnya lalu kembali lagi ke kamarnya. Ia tidak tidur melainkan duduk menyandar di kepala ranjangnya dan tangan kirinya yang sesekali mengelus kepala Zevana dengan laptop yang menyala di atas bantalnya yang ia letakkan di atas pahanya.


Sebenarnya ia masih memiliki pekerjaan di kantor dan alasan ponsel tertinggal itu hanya bohong karena ia tidak bisa mengatakan bahwa alasan ia pulang lebih awal karena di kantor terasa membosankan tanpa Zevana, entah sejak kapan ia mulai terbiasa dengan kehadiran Zevana dan ia sangat tidak suka dengan Jennie sekretarisnya itu.


Max menekan pelan keyboard laptopnya saat ia mengetik sesuatu di sana karena ia tak ingin membuat keributan dan membangunkan Zevana karena wanitanya itu benar-benar terlihat kelelahan bahkan ia dapat mendengar dengkuran halus dari wanitanya itu.


Max hanya tersenyum saat menatap Zevana dan kembali dengan wajah datarnya fokus saat menatap laptopnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2