
Davina menghentikan langkah. Dia menatap Dave yang tengah duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. Pria itu duduk bersender dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Menghadap ke arah kelas yang tadi di tempati oleh Davina.
Dave beranjak, menatap lekat wajah wanita yang sudah 3 hari ini tidak dia lihat. Dia berjalan menghampiri Davina, mengembangkan senyum teduh pada wanita yang sangat dia rindukan itu.
Sudah 3 hari Davina tidak berangkat kuliah. Membuat Dave sulit untuk menemuinya. Setiap kali datang untuk menjemput Davina di rumah, wanita itu tak mau keluar untuk sekedar menemuinya. Hanya menitipkan pesan pada security kalau dia tidak berangkat ke kampus.
"Ayo pulang,," Ajak Dave. Dia meraih tangan Davina untuk menggandengnya.
"Kamu baik-baik saja kan.?" Dave menatap cemas. 3 hari tak melihat Davina, wanita itu juga tidak keluar rumah sama sekali. Walaupun Sandra mengatakan padanya bahwa Davina baik-baik saja, tapi Dave tak bisa sepenuhnya percaya.
"Aku baik-baik saja." Jawab Davina sembari menganggukkan kepala.
Dave baru bisa percaya dan bernafas lega setelah mendengar sendiri dari mulut Davina. Pria itu lalu mengajak Davina pulang. Menggandeng tangannya tanpa ada penolakan membuat Dave terus mengulas senyum.
"Kamu mau jalan-jalan atau mau makan sesuatu.?" Tawar Dave. Dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ingin mengulur waktu lebih lama agar bisa berduaan bersama Davina.
Davina menoleh, menatap dalam wajah Dave dari samping. Tidak bisa di pungkiri bahwa Davina bisa melihat keseriusan Dave untuk memperbaiki hubungan dengannya. Selama ini dia juga tak mau menutup mata dengan usaha yang dilakukan oleh Dave. Tapi kembali lagi pada hati, dia masih butuh waktu untuk memulainya kembali.
Banyak hal yang harus dia persiapkan setelah mengalami rasa sakit ini.
Menyiapkan hati agar lebih kuat lagi menerima segala kemungkinan buruk yang mungkin masih banyak di depan mata.
Mencoba untuk menggunakan logika tanpa bermain dengan perasaan dalam menjalani segala sesuatu. Agar ketika sesuatu yang tengah dia jalani tiba-tiba tak sesuai harapan, dia bisa ikhlas menerimanya.
Belajar bahwa mencintai seseorang terlalu dalam juga bukan hal yang baik. Sepenting apapun orang itu dalam kehidupan kita, mencintai diri sendiri lebih dari siapapun adalah hal yang harus dia lakukan mulai saat ini.
Inti dari semua pelajaran yang Davina ambil dari rasa sakit itu adalah dia akan membentengi hatinya. Tak akan membiarkan seseorang masuk terlalu jauh dalam hatinya.
__ADS_1
Karna jika hatinya terluka, tak ada yang bisa memahami dan mengobati selain diri sendiri.
"Aku sedang tidak ingin melakukan atau memakan apapun." Jawab Davina.
"Antar aku pulang saja. Bukannya Om juga harus kembali ke kantor."
Davina menolak semua tawaran Dave. Nyatanya dia masih butuh waktu untuk sekedar menghabiskan waktu dengan Dave.
"Aku sengaja pulang lebih awal karna ingin pergi denganmu." Dave meraih tangan Davina lalu menggenggamnya.
"Kali ini, habiskan lebih banyak waktu berdua."
"Aku benar-benar rindu padamu,," Dave memberikan tatapan sendu dan memohon.
Dia begitu frustasi menahan rindu untuk bertemu dengan Davina.
Davina terlihat memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya.
"Ke apartemen saja. Aku sedang malas melakukan apapun." Meski harus menentang hatinya sendiri, Davina akhirnya mau ikut bersama Dave.
...****...
Davina mengedarkan pandangan. Memperhatikan pengharum ruangan yang hampir ada di setiap sudut.
"Aku sering mual akhir-akhir ini, jadi meletakkan banyak pengharum ruangan aroma lemon. Itu membuatku merasa lebih baik." Tutur Dave menjelaskan.
Dia seolah melihat kebingungan di wajah Davina saat melihat banyaknya pengharum ruangan yang di letakan dimana-mana.
__ADS_1
Pantas saja tadi melihat 3 pengharum ruangan sekaligus di dalam mobil Dave, tapi dia hanya menatap sekilas tanpa memikirkan apapun.
"Mual.?" Davina menatap lekat. Tiba-tiba saja teringat dengan kehamilannya yang juga membuatnya merasa mual setiap pagi.
"Hemm." Dave mengiyakan sembari menganggukkan kepala.
"Aku sudah memeriksakannya ke dokter, tapi mereka bilang aku sehat." Tuturnya.
"Kak Sandra bilang, minggu depan dia dan Papa Edwin akan pergi ke Prancis. Kamu tidak mau tinggal disini lagi selama mereka pergi.?" Dave menatap penuh harap. Dia ingin mengulang kebersamaan dengan tinggal bersama Davina.
Davina mendudukkan diri di sofa. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Dave.
Pikirannya masih berputar tentang kondisi Dave yang juga mengalami mual sepertinya.
Davina jadi menduga kalau Dave juga mengalami dampak dari kehamilannya saat ini.
Mengingat kehamilan membuat Davina dilema. Entah sampai kapan dia akan menyembunyikan kehamilannya pada Dave. Jika dia memberitahukan kehamilannya, itu artinya dia harus memulai kembali kehidupan rumah tangga bersama Dave dari awala.
Sayangnya, sampai saat ini Davina belum merasa siap untuk memulainya lagi.
"Atau aku yang akan tinggal di rumah kak Sandra.?" Ucap Dave lagi. Dia sangat ingin tinggal bersama Davina, ingin menebus semua kesalahan dan mengobati luka di hati Davina akibat ulahnya.
Dia akan mencurahkan semua cinta dan perhatiannya untuk Davina, karna dulu dia sempat mengabaikannya.
"Akan aku pikirkan nanti." Jawab Davina lirih.
Dave tak lagi mengatakan apapun, dia tidak mau terlalu memaksa Davina. Takut Davina merasa tidak nyaman dan tertekan.
__ADS_1
...****...
Maaf cuma bisa up sdkit. lagi sibuk banget🙏🏻