
"Kamu nggak bisa memperlakukan kami seperti ini Dave.!" Teriak Jasmine.
Dia terkejut melihat bukti-bukti yang di beberkan oleh Dave di depan semua tamu undangan. Tak hanya itu saja, Dave bahkan sudah memanggil polisi ke tempat acara pernikahan itu. Polisi yang langsung bergerak cepat menangkap Diana setelah Dave menunjukkan bukti-bukti kejahatan Diana melalui vidio yang diputar di layar besar hingga semua orang bisa melihatnya.
"Tentu saja bisa.! Aku bahkan bisa membunuhmu jika aku mau.!" Sahut Dave sembari mencengkram kuat lengan Jasmine.
"Jangan pernah bermimpi ja -lang sepertimu bisa menikah denganku.!" Bisiknya sinis.
Dave kemudian menyuruh orang untuk memutar vidio tentang semua kebusukan Jasmine selama bertentangan dengannya. Tentang perselingkuhan yang dilakukan oleh Jasmine di luar negeri bersama beberapa pria.
Semua tamu undangan tampak saling berbisik. Terkejut dengan fakta-fakta yang dibeberkan oleh Dave. Banyak dari mereka memilih untuk memutus kerja sama dengan perusahaan Diana. Perusahaan yang seharusnya menjadi milik Dave dan Sandra, namun di ambil alih oleh Diana untuk kedua anaknya.
Rencana balas dendam Dave tak sia-sia. Dia bisa tertawa puas di atas kehancuran Diana dan Jasmine. Meskipun ini tak sebanding dengan apa yang pernah Diana lakukan pada keluarganya. Tapi setidaknya perusahaan itu akan hancur, dan Diana akan mendekam di penjara untuk waktu yang lama. Sedangkan karier Jasmine tak bisa diselamatkan lagi dengan skandal gilanya bersama beberapa pria.
"Dave kamu benar-benar,,,!!" Jasmine hampir melayangkan tamparan di wajah Dave, namun segera di tepis kasar.
"Cepat pergi dari hadapanku sebelum aku membuat hidupmu seperti di neraka.!" Ancam Dave penuh amarah.
"Lari sejauh mungkin agar aku tak bisa menemukanmu lagi. Kecuali kalau kamu ingin lebih menderita di tanganku.!" Dave mencengkram pergelangan tangan Jasmine hingga memerah.
"Kamu jahat Dave.! Kamu lupa kalau Papa sudah menitipkan ku padamu.?" Jasmine terlihat menahan sakit. Berusaha melepaskan cengkraman tangan Dave yang membuat pergelangan tangannya memerah.
"Papa siapa yang kau maksud.?!" Sinis Dave.
"Aku sudah tidak memiliki Papa sejak dia lebih memilih ja -lang dan kedua anaknya.!"
Mendengar Dave menyebut Diana sebagai ja -lang, Jasmine kembali tidak terima. Dia memukul Dave dengan tangan kirinya, tapi lagi-lagi Dave menepis dan kini menyeret Jasmine untuk turun dari atas pelaminan.
__ADS_1
"Usir wanita ini.!" Ujar Dave sembari mendorong Jasmine pada petugas keamanan di sana.
"Kamu nggak bisa memperlakukanku seperti ini Dave.! Aku akan membalasnya.!" Teriak Jasmine. Dia memberontak saat di seret keluar oleh dua orang petugas keamanan.
Davina sejak tadi diam. Melihat apa yang terjadi di depan matanya tanpa berkata apapun. Dia dilema. Harusnya senang melihat balas dendam Dave pada keluarga Jasmine berjalan sesuai rencana. Dave juga tidak jadi menikah dengan Jasmine. Dan itu adalah hal yang sudah lama di tunggu-tunggu oleh Davina agar bisa segera menggantikan posisi Jasmine. Tapi semuanya sudah berubah. Keadaan tak sama lagi seperti 1 minggu yang lalu.
Dia mulai ragu untuk menikah dengan Dave karna sikap Dave berubah.
Sayangnya saat ini Davina tak bisa berbuat apapun kecuali melangsungkan pernikahannya dengan Dave. Dia tidak mau mengecewakan Papa Edwin dan Mama Sandra yang sudah tau tentang rencana pernikahannya dengan Dave.
Selain itu, Davina tidak tega mempermalukan Dave dan Papanya sendiri di depan semua orang jika pernikahan ini dibatalkan.
Sampai akhirnya pernikahan dia dan Dave benar-benar terjadi. Davina hanya bisa berharap hari-hari bersama Dave tak seburuk yang ia bayangkan, mengingatkan bagaikan kebencian Dave padanya.
"Cepat turun.!" Suara ketus Dave membuyarkan lamunan Davina. Gadis itu bergegas turun dari mobil Dave. Menatap sekitar pada tempat yang tak asing baginya. Dave membawanya pulang ke apartemen.
Dave menurunkan koper milik Davina, meletakkan kasar di depan gadis itu agar dia membawa kopernya sendiri. Tanpa berkata apapun lagi, Dave berjalan lebih dulu meninggalkan Davina. Terpaksa gadis itu berjalan cepat menyusul Dave sembari menarik koper.
Pria itu berjalan menuju kamarnya, lalu berhenti setelah masuk ke dalam kamar karna menyadari jika Davina masih membuntutinya.
"Siapa yang memintamu masuk ke kamar saya.?!"
"Kamarmu di sana.!" Dave menunjuk kamar tamu. Dia tak mengijinkan Davina tidur satu kamar dengannya. Lebih tepatnya dia tidak bisa tidur dengan Davina karna terlalu kecewa dan sakit hati.
"Tapi Om,, kita sudah menikah. Untuk apa menikah kalau tidur terpisah." Protes Davina. Meski kesal dengan perlakuan kasar Dave, Davina mencoba untuk memperbaiki hubungannya yang menurutnya ada kesalahpahaman besar diantara dia dan Dave.
Jika Dave menuduhnya telah tidur dengan Justin, maka Davina akan membuat Dave menidurinya agar Dave bisa membuktikannya sendiri kalau dia belum pernah tidur dengan laki-laki manapun.
__ADS_1
Davina sangat yakin kalau kejadian malam itu adalah jebakan yang dilakukan oleh Bianca meski Davina sendiri belum tau, apa motif dibalik penjebakan itu.
Dia bahkan tidak tau harus mencari bukti kemana, sedangkan Bianca sendiri sudah meninggal.
"Jangan pernah bermimpi tidur dengan saya.!" Sinis Dave. Dia menarik tangan Davina, menyeretnya keluar dari kamar.
"Aku nggak perlu bermimpi untuk tidur dengan Om, karna aku sudah jadi istri Om dan kapan saja bisa tidur bersama." Sahut Davina. Dia mencari cara agar bisa masuk kembali ke kamar Dave, walaupun pada akhirnya tetap di tahan oleh Dave.
"Khayalanmu terlalu tinggi.!" Ketus Dave.
"Keluar dan jangan pernah masuk ke kamar ini." Katanya setelah berhasil membawa Davina keluar dari kamar. Dave kemudian menutup pintu dan menguncinya.
"Apa yang harus aku lakukan,," Davina menatap sendu pada pintu yang sudah di tutup rapat oleh Dave.
"Justin, Bianca,, sebenarnya apa yang kalian rencanakan. Kenapa harus menjebakku,," Tatapan mata Davina menerawang.
Pelaku penjebakan itu tak bisa di mintai penjelasan karna Bianca sudah meninggal dan Justin yang entah pergi kemana.
Satu-satunya yang bisa Davina lakukan adalah mencari wanita yang sudah membuatnya tak sadarkan diri.
Hanya dia satu-satunya orang yang bisa mengakhiri kesalahpahaman ini.
"Selain wanita itu, aku juga bisa membuktikannya melalui cctv,," Seru Davina dengan mata yang berbinar. Dia berharap bisa membongkar kejahatan yang dilakukan oleh Bianca dan Justin melalui cctv itu.
Dengan begitu, tak akan ada lagi kesalahpahaman yang terjadi antara dia dan Dave.
"Aku benar-benar nggak bersalah Om,," Gumamnya, lalu bergegas menarik koper miliknya menuju kamar tamu.
__ADS_1
Menyedihkan memang, bahkan Davina merasakan sakit atas semua ucapan dan perlakuan Dave.
Tapi Davina juga tak bisa menyalahkan kemarahan Dave karna pria itu melihat dengan mata kepalanya sendiri saat dia dan Justin berada di atas ranjang yang sama.