
Masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu, tangis Davina semakin pecah dengan menutup mulutnya agar tak ada yang mendengar tangisannya. Dia tak bisa lagi menahan sakit di hati yang kian menyiksa setelah berpura-pura baik-baik saja selama ini.
Sekuat tenaga menyembunyikan luka sendiri, tetap mengukir senyum dan melayani semua kebutuhan Dave dengan baik.
Sungguh ironi. Davina bahkan tidak percaya dia bisa melakukan semua itu di saat hatinya mungkin sudah hancur tak tersiksa.
Flashback
Setelah menerima telfon dari Dave, Davina bergegas masuk kembali ke dalam kamar. Dia masih penasaran dengan isi map yang tergeletak begitu saja di atas meja. Map yang hampir dia buka, namun Dave menelfon dan membuatnya terpaksa harus ke luar dari kamar.
"Kenapa aku merasa ada sesuatu di dalam map ini,," Gumamnya sembari menatap map yang masih ada di atas meja. Davina bergegas duduk, dia meletakkan ponsel di samping map itu dan mengambil map nya untuk di buka.
mengambil satu persatu isi di dalam map, Davina menatap dengan perasaan yang bercampur aduk.
Meneliti beberapa lembar kertas berisi laporan tentang pencariannya terhadap Sisy selama ini. Juga beberapa lembar foto yang di ambil secara diam-diam.
"Aku hanya wanita bodoh di bandingkan dia yang sangat berharga untukmu,," Davina mengukir senyum kecut.
Mendapati fakta begitu banyak foto dan informasi tentang Sisy di dalam map itu, membuat Davina merasa hanya sebutir debu bagi Dave, sedangkan Sisy adalah permata yang tak ternilai hingga kabar dan keberadaannya terlihat sangat berarti bagi Dave.
"Aku yakin kamu pergi untuk menemuinya, bukan karna urusan pekerjaan." Ucap Davina setelah membaca laporan itu.
"Lalu untuk apa kamu berjanji padaku bahwa kamu tak akan peduli lagi padanya, jika pada kenyataannya kamu tetap menemuinya."
Davina hampir saja meremas kertas itu tanpa sadar, tapi beruntung masih bisa mengendalikan diri.
Dia lalu merapikan kembali isi map itu dan meletakkannya di tempat semula. Kemudian keluar dari kamar Dave, memutuskan pergi ke kamar tamu untuk menunggu pria itu pulang.
Dan begitu Dave pulang, Davina buru-buru membuka pintu kamarnya.
Maaf,,"
__ADS_1
Ucap Dave dengan suara berat dan tatapan dalam. Menatap Davina yang baru saja membuka pintu.
Pria itu berjalan mendekat, mengulurkan tangannya pada Davina untuk memeluknya. Namun Davina melangkah mundur dan menepis pelan kedua tangan Dave.
"Aku mengaku salah," Akunya, namun Dave tak pernah bermaksud untuk merusak hubungannya dengan Davina.
"Maaf sudah membuatmu kecewa,," Ucap Dave lagi.
"Om itu bicara apa.?" Davina mengukir senyum lebar.
"Paling nggak ganti baju atau mandi dulu sebelum memelukku. Bukannya baru selesai bekerja.?"
"Pasti sejak kemarin Om sangat sibuk di sana."
Davina melepas kancing jas milik Dave, lalu membantunya menyingkirkan jas itu di tubuh Dave.
Dia tak sabar ingin mencari bukti lain yang bisa memperkuat dugaannya.
"Biar aku siapkan baju gantinya." Kata Davina sembari melipat jas itu dan meletakkan di lengannya, lalu berjalan menuju kamar Dave.
"Yes, I'm okey." Nada bicara Davina penuh penekanan. Dia terus berjalan tanpa menoleh pada Dave, tangannya berusaha memeriksa kantong jas milik Dave dan mengambil sesuatu yang ada di dalamnya, setelah itu meletakkannya di keranjang kotor sebelum masuk ke walk in closet untuk mengambil baju ganti milik Dave.
Davina buru-buru menutup pintu, dia lalu membuka kertas yang tadi dia dapatkan dari kantong jas milik Dave.
"Penerbangan, check-in hotel,," Gumam Davina setelah melihat 2 kertas di tangannya.
Dari kertas yang di temukan, semuanya mengarah pada kota tempat tinggal wanita itu.
Tangan Davina bergetar, matanya mulai berkaca-kaca seiring dengan rasa sesak yang menghujam hatinya.
Merasa semakin di khianati dan di permainkan oleh pria itu. Davina meremas kuat kertas itu dan melemparnya di tempat sampah.
__ADS_1
"Kamu salah jika ingin bermain-main denganku.!" Geramnya dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Soroti mata Davina begitu tajam penuh amarah.
Flashback off
...***...
Sore itu Dave mendatangi rumah sakit begitu pulang dari kantor. Mungkin memang sudah saatnya dia menghapus kenangan masa lalu di tubuhnya.
Sudah 8 tahun dia mempertahankan tato itu sejak si pemilik bunga daisy pergi meninggalkannya.
Begitu juga dengan perasaan yang masih tersimpan rapi di dalam hati.
Kesalahan terbesarnya adalah membiarkan cinta lama tetap tumbuh, sementara dia mencoba untuk menumbuhkan cinta yang baru dan berharap cinta itu bisa tumbuh bersama dalam hatinya.
Dave menghela nafas berat, menyesal telah menduakan Davina meski hanya dalam hatinya.
Tanpa mencoba untuk mengakhiri mas lalu dan menghapus cintanya pada Sisy.
Dia telah melukai perasaan Davina, wanita yang sudah dia minta untuk menjadi istrinya, bahkan berusaha menjadi yang terbaik untuknya dengan segala kekurangan yang dimiliki oleh Davina.
Sudah 2 jam lebih Dave berada di rumah sakit untuk menghilangkan tato di tubuhnya, namun tato itu belum sepenuhnya hilang karna masih harus melakukan 1 atau 2 kali lagi agar tato itu benar-benar hilang di tubuhnya.
Begitu proses pertama selesai, Dave bergegas pulang ke rumah Sandra. Sebenarnya sudah dari 1 jam yang lalu Davina mengirimkan pesan padanya agar segera pulang.
...****...
"Apa Dave masih di kantor.?" Suara Edwin memecah keheningan di ruang keluarga.
Mereka baru saja beralih ke ruang keluarga setelah makan malam, dan saat ini sedang menunggu kepulangan Dave.
"Dia sudah pulang,," Jawab Davina dengan pandangan mata yang tertuju ke arah pintu. Membuat Edwin dan Sandra ikut menatap ke arah sana dan mendapati Dave tengah berjalan ke arah mereka sembari mengukir senyum pada Davina.
__ADS_1
Senyum yang diselimuti cinta serta kerinduan pada sosok istrinya itu.
Berbeda dengan Davina yang hanya menatap datar.