Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 44


__ADS_3

Memangnya apa yang bisa dirubah dari permintaan maaf dan penyesalan untuk sebuah pengkhianatan.?


Bahkan jika Arga mengucapkan seribu kata maaf sekalipun, itu tak akan berarti apa-apa bagi Davina. Lagipula permintaan maaf dan kata penyesalan hanya diucapkan ketika dia menyadari bahwa apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan. Jika sampai detik ini Arga tak menyadari hal itu dan masih terpaku dengan kesenangan sesaat, mungkin dia tak akan pernah datang lagi menemui Davina, apalagi meminta maaf padanya.


"Davina,,, kita harus bicara." Baru beberapa langkah masuk ke dalam kelas, Bianca sudah menghadang Davina dengan berdiri di depannya.


Kemunculan mantan sahabatnya itu membuat mood Davina semakin memburuk. Baru saja dia menghindari Arga, kini sudah datang lagi wanita yang membuatnya muak.


Padahal sudah hampir 1 minggu Bianca tidak berangkat ke kampus, dan ketidak hadiran Bianca membuat Devina nyaman karna tidak ada pemandangan buruk di kelas.


"Oh my God,,!! Kenapa pagiku buruk sekali." Geram Davina.


Moodnya benar-benar dibuat buruk oleh dua orang itu. Davina pikir, dia tak akan berurusan lagi dengan Bianca dan Arga. Karna semuanya sudah selesai dan dia juga sudah melupakan dan mengikhlaskan hubungannya dengan Arga.


Terlebih saat ini sudah ada pengganti Arga di hati Davina sejak beberapa bulan yang lalu.


Jika dulu dia masih penasaran dengan kehidupan mereka dan ingin membalas dendam untuk membuat hubungan mereka kandas, kini


kehidupan Bianca dan Arga tak menarik lagi bagi Davina karna dia sudah fokus pada seseorang yang ada di hatinya.


"Aku datang ke sini untuk kuliah, bukan untuk bicara denganmu." Tegasnya menolak bicara dengan Bianca. Kemudian berlalu dari hadapan Bianca.


Walaupun terlihat kecewa atas penolakan Davina yang enggan meluangkan waktu untuk berbicara dengannya, namun Bianca tak memaksa Davina.


Wanita itu memilih untuk duduk juga dengan menempati kursi di samping Davina.


Keberadaan Bianca di sampingnya, tak di hiraukan oleh Davina.


"Aku mau minta maaf sama kamu,," Permintaan maaf yang keluar dari mulut Bianca, berhasil mencuri perhatian Davina hingga terpaksa menoleh dan menatap Bianca. Dia dibuat heran dengan Arga dan Bianca, keduanya kompak meminta maaf setelah hubungan mereka berakhir.


"Aku dan Arga sudah berakhir. Dia meninggalkanku." Bianca menunduk sendu. Senyum di bibirnya terlihat menyedihkan.


"Mungkin ini balasan yang harus aku terima karna sudah merebut Arga dari kamu." Mata Bianca berkaca-kaca. Sayangnya kesedihan yang di tunjukkan oleh Bianca tak membuat Davina merasa iba padanya. Dia sudah terlanjur kecewa dan sakit hati pada Bianca.


"Tapi aku nggak pernah berfikir Arga akan sekejam itu." Bianca menarik nafas dalam, seperti ada sesuatu yang menyesakkan dadanya.

__ADS_1


"Dengan berkhianat saja dia sudah terlihat kejam, bagaimana bisa kamu nggak pernah berfikir sejauh itu.?" Sinis Davina.


Awalnya dia tak tertarik untuk menanggapi ucapan Bianca, tapi ucapan terakhir Bianca membuat kekesalan Davina memuncak sampai reflek menimpali perkataan Bianca.


"Sudahlah Bi, percuma saja kamu bicara padaku. Aku nggak tertarik lagi mendengar cerita kalian berdua. Nggak peduli hubungan kalian berakhir atau akan berlanjut. Itu bukan urusanku." Ketus Davina. Dia langsung beranjak dari duduknya dan pindah ke tempat lain untuk menghindari duduk berdekatan dengan Bianca.


...*****...


Senyum Davina merekah setelah membaca pesan dari Dave. Laki-laki itu bilang padanya kalau saat ini sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya.


Setelah tadi pagi dibuat geram oleh Arga dan Bianca, akhirnya senyum ceria di wajah Davina kembali merekah lantaran akan bertemu dengan Dave.


"Tunggu Vin, ada hal penting yang ingin aku bicarakan." Bianca mencegah langkah Davina.


"Cuma kamu yang bisa membantu kami,," Ujarnya memohon. Kesungguhan dan kesedihan dimata Bianca, pada akhirnya membuat Davina setuju untuk mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh Bianca.


Bianca mengajak Davina pergi ke taman, dia membawa Davina ke tempat yang paling sepi, jauh dari keberadaan mahasiswa yang juga sedang berada di taman.


"Cuma kamu yang bisa aku percaya, kamu pasti akan menolongku,," Sambil berurai air mata, Bianca menggenggam tangan Davina. Dia berharap banyak pada Davina untuk menyelesaikan permasalahannya.


Davina seketika menatap bingung, dia bahkan belum tau permasalahannya tapi Bianca sudah berderai air mata dan mengatakan kalau dia akan menolongnya.


...*****...


Dia meninggalkan Bianca yang masih terisak di sana.


Davina berlalu dengan langkah cepat. Selain syok mendengar penuturan yang mengejutkan dari Bianca, Davina juga buru-buru karna Dave sudah menunggu diluar.


Begitu keluar kampus, Davina langsung menangkap sosok Dave yang paling mencolok diantara banyaknya orang dan mobil yang terparkir di sana.


Selain karna sudah sengat mengenali postur tubuh Dave, penampilan dan mobil Dave paling beda di antara yang lainnya.


Davina berjalan cepat menghampiri Dave. Senyumnya merekah melihat sosok yang selalu dia rindukan meski setiap hari bisa melihatnya.


"Om,,," Sapa Davina. Wajahnya merona, menatap Dave membuat jantungnya berdebar kencang.

__ADS_1


"Cepat masuk." Tegas Dave sembari membuka pintu. Wajah pria itu datar saja sejak Davina melihatnya.


Walaupun sudah disapa dan diberi senyuman manis, agaknya hal itu tak memberikan dampak apapun untuk manusia es itu.


"Jangan langsung pulang ya Om,, aku pengen jalan-jalan." Pinta. Davina. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berduaan dengan Dave. Karna sejak ada Farrel di rumah, dia jarang menghabiskan waktu bersama Dave.


"Hemm,,,"


Dave hanya menjawab singkat sembari mengangguk kecil. Dia fokus melajukan mobilnya dan entah akan membawa Davina kemana.


Gadis itu memilih diam. Selain malas dengan respon Dave yang singkat, pikirannya juga sedang terbagi untuk Bianca.


Penurunan Bianca langsung masuk di pikirannya.


Setelah 30 menit berlalu dengan saling diam, Dave memarkirkan mobilnya didepan sebuah butik ternama.


"Ayo turun,," Ajak Dave. Gadis kecilnya itu masih saja melamun sampai tidak sadar kalau mobil yang dia tumpangi sudah sampai di tempat tujuan.


"Kita dimana Om.?" Davina mencondongkan badannya ke depan untuk melihat bangunan 3 lantai di depannya. Bangunan dengan dinding kaca di bagian depan menunjukkan beberapa manekin berbalut gaun yang berjejer di dalam.


Melihat apa yang ada di depan matanya, Davina mengulum senyum tipis. Dia mengerti alasan Dave membawanya ke butik ini. Apa lagi kalau bukan untuk fitting gaun pernikahannya.


Davina tentu tak menyangka akan menikah beberapa hari lagi. Walaupun sadar usianya masih sangat muda, tapi dia tak akan menolak niat baik Dave. Dia yakin jika menikah jauh lebih baik dari pada harus menjalin hubungan sembunyi sembunyi dari keluarganya.


Tapi sejauh ini Davina masih merasa cemas, dia takut niat baik Dave akan di tentang oleh Papa Edwin, mengingat usianya yang baru 20 tahun. Bahkan belum menyelesaikan kuliah.


Tapi Dave berhasil meyakinkannya dan berjanji akan membujuk Papa Edwin agar merestui pernikahan mereka.


Sembari mendekap tangan Dave, Davina melenggang masuk ke dalam butik.


Matanya berbinar melihat deretan gaun pengantin, dia tidak sabar menunggu hari dimana akan memakai gaun itu dan bersanding dengan Dave.


"Aku mau yang itu Om,," Seru Davina sembari menunjuk gaun berwarna putih. Gaun sederhana yang terlihat elegan dan memiliki belahan dada berbentuk v shape.


Dave menatap tajam gaun itu. Gaun yang memperlihatkan bongkahan dada itu.

__ADS_1


"No.! Saya yang akan pilihkan gaun untuk kamu." Tolak Dave tegas. Mana mungkin dia akan membiarkan Davina memakai gaun itu dan menunjukkan asetnya pada semua orang. Dave tidak mau miliknya bisa dilihat oleh orang lain.


......Jangan lupa vote......


__ADS_2