Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 108


__ADS_3

"Davina,,?" Panggil Dave lirih. Dia hanya bisa memandangi punggung Davina yang berbaring membelakanginya. Wanita cantik dengan tubuh ynah terlihat semakin berisi itu, tak mau di dekati apa lagi di peluk dari belakang.


Setiap kali bergeser sedikit ke arah Davina, Dave langsung mendapatkan peringatan. Padahal Dave sudah hati-hati saat bergeser agar Davina tidak menyadarinya, tapi tetap saja istrinya itu tau walaupun tidak melihat.


"Apa lagi.?" Nada bicara Davina mulai terdengar kesal. Dave selalu mengganggunya saat akan tidur. Baru saja memejamkan mata, Dave sudah berulah. Entah sekedar bergeser diam-diam, menyentuh pundak ataupun memanggilnya seperti saat ini.


Padahal sudah di peringkatkan untuk diam dan tidak melakukan apapun oleh Davins, karna dia sama sekali tidak ingin di dekati oleh Dave.


"Sudah 2 minggu kita tidur seperti ini." Keluh Dave. Tidur dengan jarak yang lumayan jauh karna Davina tak mau di dekati. Dan selama 2 minggu itu pula meraka tidur di ranjang yang sama tanpa melakukan apapun.


Sebagai laki-laki normal, Dave sudah pasti menahan saratnya yang sudah menggebu sejak beberapa minggu yang lalu. Hampir 1 bulan di tidak melakukannya dengan Davina.


"Kamu bilang sudah memaafkanku, tapi kenapa di dekati saja tidak mau." Keluhnya lagi.


"Kamu tidak rindu padaku.?" Tanya Dave dengan suara beratnya. Dia sudah memberikan kode pada Davina secara halus. Rindu yang di maksud oleh Dave adalah rindu saat melakukan penyatuan.


"Setiap hari aku melihat mu, bahkan tidur di kamar dan ranjang yang sama. Jadi apanya yang harus di rindukan." Davina menjawab acuh.


Dia lebih memilih untuk acuh pada Dave, walaupun sebenarnya tau maksud Dave yang setiap malam selalu berusaha untuk mendekatinya.


"Lihat kemari, aku sedang bicara denganmu." Dave menarik pundak Davina agar istri cantiknya itu mau menghadap ke arahnya.


Dan itu berhasil membuat Davina tak lagi memunggunginya.


"Sudah hampir 1 bulan Davina, tidak ada laki-laki yang kuat menahannya selama itu." Raut wajah Dave begitu memelas. Agaknya dia sangat tersiksa karna harus menahan hasratnya selama itu.


"Kamu pasti mengerti maksudku." Lirih Dave. Perlahan dia mulai bergeser sedikit ke arah Davina.


"Hal yang membuat kamu sulit memulai karna kamu sendiri yang tidak mau untuk memulainya."

__ADS_1


"Aku sudah sangat menyesali perbuatabku, dan sekarang terus berusaha untuk memperbaikinya."


"Hukuman darimu sudah membuatku tersiksa,"


"Aku mohon akhiri hukuman untukku dan mulai menata hidup bersama dari awal." Pinta Dave dengan nada bicara dan tatapan memohon. Dia sadar kesalahannya terlalu banyak pada Davina, tapi menghukumnya terlalu lama juga hanya akan membuat hubungan itu tak memiliki kemajuan sedikitpun.


"Aku ingin melihat Davina yang dulu, Davina yang ceria dan cerewet. Davina yang selalu menempel padaku dan menatapku penuh cinta." Kata Dave dengan tatapan dalam. Dia juga menggenggam tangan Davina untuk memohon padanya.


Davina terdiam, bibirnya mengatup rapat dan hanya menatap serius pada Dave.


Dia paham bahwa Dave benar-benar sudah berubah dan bisa merasakan cinta serta ketulusan Dave yang semakin di tunjukkan padanga.


...****...


"Jangan pulang sendiri lagi, aku akan datang tepat waktu untuk menjemputmu." Ujar Dave sembari menepian mobilnya di depan kampus Davina.


"Nanti aku kabari." Jawa Davina, dia hanya menatap sekilas ke arah Dave dan sibuk melepaskan seatbelt untuk bersiap turun dari mobil Dave.


"Tunggu dulu, ada yang ketinggalan,," Dave menahan tangan Davina. Istrinya itu jadi mengurungkan niat saat akan membuka pintu mobil.


"Mana.?" Tanya Davina dengan ekspresi serius.


"Ini yang ketinggalan,," Kata Dave sambil mendekatkan wajah ke arah Davina dan menahan kepala Davina menggunakan kedua telapak tangannya yang di letakkan di kedua sisi kepala Davina.


Pria gagah itu mendaratkan kecupa di kening, hidung, kedua pipi dan dagu Davina dengan gerakan cepat. Terakhir mengecup sekilas bibir Davina, tapi kemudian kembali menempelkan bibirnya di sana lalu melu -mat dan menye sapnya sekilas.


Davina diam saja sampai Dave melepaskan ciumannya. Meski sorot matanya terlihat kesal, namun davina tak memberikan protes sedikitpun.


"Aku mencintaimu," Ungkap Dave sambil mengusap sudut bibir Davina yang sedikit basah karena ulahnya.

__ADS_1


Davina memberikan anggukan kecil lalu pamit untuk masuk ke kampus.


...****...


"Kak, jangan diam saja." Untuk ketiga kalinya Davina berbicara pada Farrel yang pura-pura sibuk dengan laptopnya. Dia juga memasang airphone di telinganya yang terlihat sedang mendengarkan musik melalui ponselnya.


Itu dijadikan alasan Farrel untuk tak merespon Davina.


Kesal karna Farrel tak mau mengangkat wajahnya, akhirnya Davina berdiri dan melepaskan paksa airphone itu dari telinga Farrel.


"Kak, aku tau kamu mendengarku.!" Serunya.


Beberapa orang yang tengah duduk di taman jadi menatap ke arahnya.


"Berikan padaku." Farrel merebut kembali airphone itu dari tangan Davina.


"Aku sedang sibuk, kita bicara di rumah saja." Ujarnya satar. Dia juga langsung menutup laptop dan terlihat akan pergi dari taman.


Melihat Farrel yang bersiap akan pergi, Davina segera menahan tangannya.


"Aku tidak tau apa yang membuat Kak Farrel jadi seperti ini padaku."


"Aku minta maaf kalau memang salah, tapi jelaskan dulu apa kesalahan ku.?" Davina menatap bingung. Sudah lama dia menanyakan hal ini pada Farrel, namun kakaknya itu tak mau menjawab dan selalu menghindar.


Farrel terdiam, laki-laki itu menatap tangannya yang sedang di genggam oleh Davina. Kemudian beralih menatap lekat wajah Davina.


Dia tak bermaksud membuat Davina merasa bersalah padanya. Karna menghindar dan menjaga jarak dengan Davina adalah keputusan yang tepat untuk menghapus perasaannya pada adik tirinya itu.


Farrel melepaskan perlahan tanga Davina yang menggenggam pergelangan tangannya. Tanpa mengatakan apapun, dia berlalu dari hadapan Davina. Pergi begitu saja dan hanya membuat Davina semakin bingung dengan sikap Farrel.

__ADS_1


__ADS_2