Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 42


__ADS_3

Acara berlibur bersama yang sudah direncanakan terpaksa batal karna Davina sakit 1 hari sebelum berangkat ke pantai. Gadis itu terpaksa harus istirahat sampai kondisinya benar-benar pulih.


Dia jatuh sakit akibat kurang tidur, bahkan akhir-akhir ini jarang sarapan. Davina selalu berangkat awal dan melewatkan sarapan bersama. Tepatnya sejak Farrel membahas liburan bersama Dave dan Jasmine. Gadis itu sengaja melewatkan sarapan untuk menghindari Dave.


Interaksi dan komunikasinya dengan Dave semakin berkurang. Dave juga tak pernah lagi datang ke kamar Davina, hal itu yang membuat Davina sulit tidur dan akhirnya kurang istirahat.


Selain untuk menghindari kecurigaan Farrel, Dave juga sedang disibukkan dengan rencana yang sudah dia buat. Karna 1 minggu lagi acara pernikahannya dengan Jasmine akan segera di gelar.


Malam itu di saat semua penghuni rumah tengah terlelap, Dave keluar dari kamarnya dan berjalan dengan hati-hati menuju kamar Davina. Melewati balkon kamar Davina dan masuk lewat jendela kamar yang sejak pagi tadi sengaja di buka kuncinya oleh Dave agar dia bisa menyelinap kedalam tanpa perlu meminta pada Davina untuk membukakan pintu.


Dave menutup kembali jendela kamar dan menguncinya. Pria itu berdiri di tempat, menatap Davina yang sedang terlelap di sofa dengan tubuh yang meringkuk.


Tanpa banyak berfikir, Dave segera menghampiri Davina dan menggendongnya untuk dipindahkan di ranjang.


Gadis itu sedikit membuka matanya dan mengukir senyum tipis dalam gendongan Dave.


"Jangan menikah dengan Jasmine,," Gumam Davina dengan suara sendu. Tangannya memeluk Dave, namun kedua matanya kembali terpejam rapat.


"Aku nggak mau kehilangan Om,," Suara Davina tercekat. Gadis itu terlihat akan menangis.


Sekalipun sedang tertidur, Davina masih saja memikirkan hubungan dan perasaannya terhadap Dave. Bisa dilihat sebesar apa perasaan cinta Davina pada Dave. Gadis itu seolah kehilangan setengah jiwanya sejak tau pernikahan Dave dan Jasmine akan segera di langsungkan.


"Sudah saya bilang berkali-kali, saya nggak akan ninggalin kamu." Sahut Dave lirih. Dia menatap lekat wajah sendu Davina. Hatinya ikut sakit melihat Davina kacau akhir-akhir ini. Sebenarnya dia juga sudah tau penyebab Davina sakit, tapi dia juga tidak mungkin membatalkan acara pernikahan itu karna semuanya sudah dipersiapkan dengan matang untuk membalas kehancuran yang dulu pernah dia rasakan.


Dave membaringkan Davina di ranjang, dia juga ikut naik dan berbaring di samping Davina. Dia mendekap erat tubuh Davina, mengusap kepala dan mendaratkan kecupan di kening gadisnya itu.


Davina balas memeluk Dave, dia sampai membenamkan wajahnya di dada bidang Dave dalam keadaan masih tertidur. Davina terlihat sangat nyaman, bahkan terlihat bahagia karna terus mengulas senyum tipis.


Sepertinya dia memang sangat merindukan Dave.


"Maaf,,," Ucap Dave lirih. Dia tak pernah bermaksud membuat Davina terluka seperti ini. Gadis kecilnya itu pasti mengalami perang batin sampai membuat kondisi kesehatannya menurun.


Nyatanya meski sudah di bilang berkali-kali jika acara pernikahan itu adalah bagian dari rencana balas dendam, Davina tetap saja tak percaya. Gadis itu takut kalau pada akhirnya pernikahan itu akan benar-benar terjadi.


...****...


Pagi itu Davina mulai membuka mata. Dia terbangun dari tidur nyenyaknya yang terasa nyaman dan hangat.

__ADS_1


Melihat Davina membuka matanya, Dave mengukir senyum hingga membuat wajahnya terlihat semakin tampan. Davina sampai bengong melihatnya, diam beberapa saat sampai akhirnya terlihat kaget.


"Om,, kenapa Om ada disini.?!" Pekik Davina kaget. Dia sampai melonjak dan bergeser dari hadapan Dave.


"Baru jam 5, kenapa sudah bangun.?" Tanya Dave. Dia malah tidak menghiraukan pertanyaan Davina.


"Kamu mau minum.? Atau mau ke kamar mandi.?" Dave masih saja melontarkan pertanyaan pada Davina.


"Om belum jawab pertanyaan aku. Kenapa Om bisa ada disini.?" Davina terlihat bingung melihat Dave ada di kamarnya. Sedangkan tadi malam dia sudah mengunci pintu kamar.


"Kamu lupa semalam bukain pintu buat saya.?" Ujar Dave sembari mengulum senyum. Sudah lama dia tidak melihat ekspresi wajah Davina yang menggemaskan saat sedang bingung dan cemberut, itu sebabnya Dave ingin mengerjai Davina.


"Aku bukain pintu.?" Gumam Davina. Dia terlihat kebingungan dan berusaha mengingat apa yang dikatakan oleh Dave.


"Tapi aku nggak merasa bangun, apa lagi jala untuk bukain pintu."


"Aku cuma mimpi Om Dave datang, terus gendong aku." Tutur Davina, dia hanya mengatakan apa yang ada di ingatannya.


"Jadi kamu nggak ingat waktu bukain pintu.?" Tanya Dave. Dengan polosnya Davina menganggukkan kepala.


"A,,aaku minta dicium.? Tapi aku benar-benar nggak ingat,," Wajah Davina merona, dia menundukkan pandangan karna malu. Walaupun tidak ingat, tapi dia percaya saja dengan ucapan Dave karna terlihat sangat menyakinkan.


"Semalam kamu minta di cium, giliran mau dicium malah tidur lagi." Sahut Dave.


"Gimana kalau saya cium sekarang saja.?" Tawarnya dengan tatapan menggoda. Davina langsung menggelengkan kepala walaupun sebenernya dalam hati dia berkata mau.


"Kenapa.? Bukannya semalam kamu merengek minta di cium." Dave bergeser mendekat, menarik pinggang Davina hingga membuat keduanya tanpa jarak..


"Jadi bagian mana dulu yang mau dicium.?" Goda Dave. Wajah Davina semakin merona dibuatnya.


"Disini.?" Dave meletakkan jari telunjuknya di atas kening Davina, lalu bergerak turun ke bawah.


"Disni.?" Jarinya berhenti di hidung, kemudian turun kebawah.


"Disini.?" Dave menghentikan telunjuknya di bibir Davina dan sedikit mengusapnya dengan gerakan lembut, setelah itu kembali menggerakkan jarinya hingga turun kebawah dan berhenti di kedua aset Davina.


"Atau disini.?" Ujar Dave. Matanya menatap lekat wajah Davina. Keduanya jadi saling pandang dan terdiam beberapa saat.

__ADS_1


"Om,,," Panggil Davina sembari menahan tangan Dave terasa bergerak di kedua asetnya.


Dave tersenyum, memindahkan tangannya di pipi Davina dan mengusapnya lembut.


"Persiapkan diri kamu." Ucap Dave. Raut wajahnya berubah serius dan tatapan matanya terlihat dipenuhi cinta.


"Persiapkan diri untuk apa.?" Seru Davina.


"Untuk melihat Om menikah dengan Jasmine.?" Davina menatap sinis.


"Jangan khawatir, aku sudah siap melihat Om hidup bersama wanita itu."


Davina mendorong dada bidang Dave, bermaksud untuk melepaskan diri dari dekapan Dave namun pria itu memeluknya erat.


"Siapa yang bilang saya akan hidup bersama Jasmine.?" Sangkal Dave cepat. Karna dia tak pernah berbicara seperti itu.


"1 minggu lagi kita akan menikah." Ucap Dave tanpa kebohongan sedikitpun dari sorot matanya. Dia terlihat sangat serius mengatakan hal itu.


"Kita.? Menikah.?" Tanya Davina untuk memastikan. Dave mengangguk cepat, setelah itu menjelaskan apa yang sudah dia rencana di hari pernikahannya dengan Jasmine.


...*****...


Malam itu di sebuah club, dua orang wanita yang merasakan cintanya bertepuk sebelah tangan, bertemu untuk merencanakan sesuatu.


"Jadi bagaimana.? Kamu setuju.?" Tanya Jasmine. Dia terlihat bersemangat menawarkan kerjasama dengan seorang wanita yang tengah duduk bersamanya di sebuah club.


"Tentu saja, dengan senang hati aku setuju." Jawaban wanita itu semakin membuat Jasmine bersemangat. Dia mengulas senyum licik, serta senyum kepuasan karna sebentar lagi akan melihat pasangan itu berpisah.


"Deal.!" Seru Jasmine sembari mengulurkan tangannya.


Wanita itu menyambut uluran tangan Jasmine dengan senang hati. Tentu hal itu membuatnya senang, melihat kehancuran dua orang yang sangat dia benci.


Jika dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, maka dia tak akan membiarkan seseorang yang dia benci bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Akan aku kabari lagi nanti." Kata Jasmine. Dia lalu beranjak dari duluan dan segera pergi dari club.


Bukan hal yang sulit bagi Jasmine untuk menyingkirkan seseorang yang menjadi penghalang kebahagiaannya.

__ADS_1


__ADS_2