Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 83


__ADS_3

"Mama sama Papa nggak ikut sarapan.?" Tanya Davina pada Farrel. Dia sengaja turun terlambat agar Papa dan Mamanya datang lebih dulu ke ruang makan, tapi rupanya baru ada Farrel seorang diri yang sedang menyantap sarapannya.


"Bukannya mereka sudah pulang.?" Ujarnya lagi. Davina duduk di depan Farrel dan Dave menarik kursi di samping Davina.


"Mereka baru sampai jam 3 pagi, mungkin masih istirahat." Jawab Farrel.


"Bukannya hukuman kalian belum berakhir.? Kenapa malah sengaja menemui mereka."


Farrel menatap keduanya bergantian. Sebenarnya sejak tadi malam ingin menanyakan hal itu pada mereka, sayangnya Davina dan Dave sudah buru-buru pergi ke kamar.


"Kalau begitu kita bicarakan nanti sore saja Om." Ujar Davina pada Dave.


Hal itu membuat Farrel melotot tajam karna Davina mengabaikan ucapannya.


"Aku ada meeting, mungkin akan pulang terlambat." Dave menatap teduh karna merasa tak bisa memenuhi permintaan Davina untuk membicarakan tentang hubungan mereka pada Mama Sandra dan Papa Edwin nanti sore.


"Nggak masalah, masih ada waktu saat makan malam." Davina mencoba mengerti keadaan Dave dan tak mempermasalahkan hal itu.


"Ckk.!" Farrel berdecak sinis.


"Kalian berdua memang gi -la gara-gara cinta, merasa dunia hanya diisi oleh kalian saja." Cibirnya kesal. Kesal karna di abaikan oleh pasangan suami-istri yang menurutnya aneh.


"Berisik." Tegur Dave ketus. Sementara itu, Davina hanya diam saja dan memilih mengambilkan makanan untuk Dave serta dirinya sendiri.


Selesai menghabiskan sarapan, keduanya meninggalkan rumah untuk pergi ke kampus dan kantor.


"Usahakan jangan pulang terlalu malam." Pesan Davina sebelum keluar dari mobil Dave.


"Akan aku usahakan,," Jawab Dave lembut. Dia mengusap pipi Davina, sembari menatap dengan sorot mata penuh cinta. Namun tatapannya itu hanya di balas datar oleh Davina.


"Makasih, Om. Aku masuk dulu." Davina buru-buru keluar dari mobil Dave dan memasuki kampus dengan langkah cepat serta menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kak Vina,! Awas,,!" Nabila tiba-tiba menarik Davina ke samping karna Davina hampir menabrak tembok tiang yang ada di depannya.


Davina terlihat kebingungan, tapi beberapa detik kemudian bisa memahami situasi.


"Makasih Bila," Davina tersenyum kaku, lalu membuang wajahnya ke arah lain.


"Kak Vina baik-baik saja.? Apa kakak menangis.?" Nabila berusaha untuk melihat wajah Davina, karna dia sempat melihat Davina meneteskan air matanya sebelum akhirnya membuang wajah ke arah lain dan terlihat mengusap pipinya.


"Aku baik-baik saja, tapi sepertinya mataku terkena debu jadi sedikit perih,," Davina menjawab sembari menatap Nabila, membuat Nabila bisa memastikan Davina tidak sedang menangis meski matanya sedikit merah.


"Aku pikir Kakak menangis."


"Kalau begitu aku duluan kak,,"


Nabila hendak pergi dari sana, namun Davina memegang tangan Nabila untuk mencegahnya.


"Om Dave baru saja 1 minggu yang lalu. Dia bilang habis pergi menemui Kakak mu." Suara Davina terkesan datar namun penuh penekanan.


"Emmm soal itu, Kak Sisy juga menelfon ku."


Raut wajah Nabila terlihat menahan kekesalan. Bagaimana tidak, karna dia yang di salahkan setelah Dave datang menemui Sisy. Mengira kalau informasi kepulangan Sisy ke Indonesia berasal dari mulut Nabila.


"Sepertinya Om ku itu masih sangat mencintai kakakmu dan belum bisa melupakannya." Ujar Davina. Ekspresi dan sorot matanya sulit di artikan.


"Aku tau itu." Nabila menjawab yakin.


"8 tahun belum bisa membuat Kak Dave berhenti mencari tau dan menanyakan kabar tentang Kak Sisy. Apa lagi namanya kalau bukan masih cinta."


"Tapi Kak Sisy sudah bahagia dengan keluarga kecilnya, semoga Kak Dave bisa melupakan Kak Sisy dan menjalani hidupnya dengan bahagia."


"Tolong sampaikan itu padanya,," Pinta Nabila dengan tatapan memohon.

__ADS_1


Davina hanya mengangguk sembari mengulas senyum kaku.


...*****...


"Papa,,," Davina berlari cepat ke arah Papa Edwin yang tengah duduk di ruang keluarga bersama Mama Sandra.


Dia langsung duduk di samping sang Papa dan menghambur ke pelukannya. Mendekapnya erat dengan membenamkan wajahnya di sana.


Ulah Davina membuat Edwin dan Sandra saling berpandangan, bingung pada Davina yang langsung memeluknya saat baru saja sampai di rumah.


"Ada apa sayang.?" Tanya Edwin lembut. Dia balas memeluk Davina dan memberikan usapan di punggung putrinya. Namun apa yang di lakukan oleh Edwin justru membuat pelukan Davina semakin kencang dan tubuhnya mulai bergetar.


"Davina, kamu kenapa sayang.?" Raut wajah Edwin berubah cemas saat menyadari putrinya sedang menangis dalam pelukannya.


"Aku kangen sama Papa,," Suara Davina tercekat.


"Kenapa lama sekali pulangnya, aku kesepian,," Davina semakin menyembunyikan wajahnya.


"Ada apa dengan putri Papa.?" Edwin mencoba melepaskan pelukan Davina, tapi putrinya itu terus memeluknya dan enggan melepaskan pelukannya.


Melihat sikap Davina yang tak biasa, Edwin bisa merasakan jika ada sesuatu yang terjadi pada putrinya itu.


Karna setiap kali ada masalah atau merasa lelah, Davina akan menangis di pelukannya seperti saat ini.


"Katakan ada apa sayang.?" Desak Edwin. Dia tak bisa melihat putrinya menangis seperti itu.


"Apa kamu ingin bicara berdua dengan Papa mu.?" Tanya Sandra.


"Kalau begitu Mama ke dalam dulu,," Sandra beranjak dari duduknya, dia sempat mengusap kepala Davina dan tersenyum pada Edwin. Memberikan kode pada Edwin untuk menenangkan Davina lebih dulu dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Bicaralah, apa yang membuat kamu menangis seperti ini.?" Edwin menarik nafas dalam. Dia tak pernah bisa melihat putri semata wayangnya menangis. Rasanya lebih menyakitkan dari apapun.

__ADS_1


"Maaf, maaf karna aku nggak mendengarkan perkataan Papa waktu itu." Tangis Davina semakin pecah.


"Aku menyerah,," Lirihnya dengan suara yang bergetar.


__ADS_2