
Satu minggu berlalu sejak Davina kembali pulang ke rumah. Hubungan dia dan Dave masih diam di tempat, tak ada perubahan sedikitpun.
Meski setiap hari Dave selalu menyempatkan waktu untuk mengantar atau menjemput Davina, tapi tak pernah ada pembahasan untuk kelanjutan hubungan mereka.
Dave sengaja tak membuka pembicaraan soal permasalahan mereka karna takut membuat Davina kesal.
Begitu juga dengan Davina, dia tak mau menolak tawaran Dave lantaran malas berdebat atau berinteraksi terlalu lama dengan pria itu. Jadi memilih ikut saja saat Dave tiba-tiba datang ke rumah atau menjemput di kampus.
"Pagi Mah, Pah," Sapa Davina saat masuk ke ruang makan. Kedua orang tuanya sudah menunggunya sejak tadi untuk sarapan bersama.
"Pagi sayang."
"Pagi sayang,, ayo makan." Jawab Sandra dan Edwin.
Davina kemudian bergabung di meja makan, duduk di depan kedua orang tuanya.
"Kak Farrel belum turun Mah?" Tanya Davina.
"Farrel sudah berangkat sayang. Baru saja dia kesini untuk pamit,,"
Davina hanya mengangguk saja. Dia tak berkomentar apapun meski sebenarnya ingin bercerita pada Sandra jika akhir-akhir ini Farrel seperti menghindarinya.
Sikapnya juga tak seperti biasanya. Farrel lebih membatasi obrolan dan interaksi saat hanya berdua.
Tak mau memusingkan soal itu, Davina mulai menyantap sandwich di tangannya. Baru satu kali gigitan, dia merasa perutnya bermasalah.
__ADS_1
"Huuekk,,," Davina langsung menutup mulut dengan tangannya setelah meletakkan sandwich di piring. Davina lalu beranjak dari meja makan dan setengah berlari pergi ke kamar mandi yang tak jauh dari sana.
"Davina, kamu kenapa.?" Edwin dan Sandra reflek beranjak dari duduknya, keduanya segera menyusul Davina ke kamar mandi dan menunggu di depan pintu sembari mengetuk pintu yang di kunci dari dalam oleh Davina.
"Apa Davina sakit.?" Tanya Edwin pada Sandra. Pasalnya 1 minggu belakang Edwin jarang melihat Davina karna selalu pulang malam. Dia hanya punya kesempatan melihat dan mengobrol dengan Davina saat sarapan bersama.
"Tidak," Sandra menjawab yakin.
"Sejak kemarin Davina baik-baik saja. Tapi 3 hari belakangan aku perhatikan dia banyak makan es krim dan salad buah setiap pulang dari kampus. Belakangan ini juga selalu menghindari nasi setiap sarapan. Mas liat sendiri kan Davina lebih memilih makan sandwich." Tuturnya.
Sandra tidak menemukan tanda-tanda Davina sedang sakit. Dia masih mau makan dan beraktifitas seperti biasanya.
"Kamu tunggu disini, ajak Davina ke depan setelah keluar dari kamar mandi. Aku akan menyuruh supir untuk menyiapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang." Pinta Edwin. Dia pergi buru-buru untuk memberi tahu supir agar menyiapkan mobil.
Edwin terlihat cemas dan panik, ini pertama kalinya dia melihat Davina seperti itu. Apa lagi mendengar suara Davina yang sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi.
"Kalau baik-baik saja mana mungkin tadi muntah-muntah." Jawab Edwin cepat.
"Papa harus memastikan kamu baik-baik saja." Nada bicara Edwin yang tegas, membuka Davina tak berani lagi membantah dan mengikuti kemauan sang Papa untuk pergi ke rumah sakit.
"Papa kamu benar sayang. Kalaupun kamu merasa tidak sakit, paling tidak kita akan tau penyebab kamu muntah-muntah seperti itu." Ucap Sandra lembut.
Dia memegang tangan Davina dan mengusapnya pelan.
Davina hanya bisa mengangguk tanpa memberikan komentar apapun.
__ADS_1
...***...
Sementara itu, di waktu yang bersamaan namun tempat yang berbeda. Seseorang tengah menutup hidungnya lantaran merasa mual saat mencium aroma yang begitu menusuk hidung.
"Parfum apa yang kamu pakai.?! Baunya tidak enak sekali.!" Ketus Dave sembari menatap tajam ke arah Raka.
Sedangkan asisten pribadi sekaligus orang kepercayaannya itu dibuat kebingungan sejak masuk ke dalam ruangan Dave. Karna tiba-tiba bosnya itu langsung mual dan segera menutup hidung sampai sekarang.
Bahkan menyuruhnya untuk menjaga jarak sejauh mungkin dari hadapannya.
"Tidak enak.?" Raka semakin mengerutkan dahi. Dia reflek mencium aroma tubuhnya sendiri dengan menghirup dalam-dalam untuk memastikan aroma tubuhnya tak bermasalah.
Dan memang benar, dia tak mencium bau yang aneh apalagi bau tidak enak seperti yang Dave bilang. Aroma tubuhnya tentu saja masih sangat wangi dengan parfum ternama dan mahal yang dia pakai. Di tambah lagi, Raka baru saja sampai di kantor. Sudah dipastikan aroma tubuhnya belum bercampur dengan keringat.
"Tapi saya memakai parfum dengan merk yang sama Tuan. Merk yang setiap hari saya pakai,," Tutur Raka. Bahkan selama bertahun-tahun bekerja bersama Dave, bosnya itu tak pernah mengomentari aroma tubuhnya. Baru kali ini Dave mengatakan aroma parfumnya tidak enak.
"Itu parfum mahal dan terkenal, sudah pasti wangi." Ujarnya lagi dengan sangat yakin.
"Kamu mau bilang indera penciuman saya bermasalah.?!" Ketus Dave. Dia semakin kesal saja karna ucapan Raka seolah menyudutkan dirinya bahwa letak kesalahannya bukan pada parfum milik Raka, melainkan karna penciumannya.
"Tapi saya tidak bilang seperti itu." Jawab Raka.
"Tuan sendiri yang,,
"Cepat keluar dari ruangan ku sekarang juga.! Kau tidak tahan dengan baunya.!" Seru Dave geram. Dia bangun dari duduknya, berjalan cepat menuju toilet karna merasa ingin mengeluarkan isi perutnya yang terasa diaduk-aduk setelah mencium aroma tubuh Raka. Membuat perutnya terasa mual.
__ADS_1
"Sepertinya Tuan Dave tidak bercanda." Gumam Raka karna dia mendengar Dave muntah setelah masuk ke dalam kamar mandi.
"Aneh sekali, apa dia sakit parah sampai penciumannya bermasalah.?" Raka bertanya pada dirinya sendiri sembari berjalan keluar dari ruangan Dave.