
"Di sini saja, jangan pulang." Pinta Dave. Dia sampai mencegah langkah Davina dengan memeluknya dari belakang. Padahal Davina sudah hampir keluar dari apartemen.
"Aku mau pulang, besok harus kuliah." Davina melepaskan kedua tangan Dave yang melingkar di perutnya. Sesaat merasakan debaran jantungnya berdetak cepat ketika tangan Dave menyentuh perutnya. Itu sebabnya dia segera menyingkirkan tangan Dave dari sana.
Mungkin karna ada bagian dari diri Dave yang sedang berkembang di dalam rahim Davina. Dan sentuhan itu untuk pertama kalinya sejak Davina tau akan kehamilan itu.
"Berangkat dari sini saja, besok aku akan mengantar kamu." Bujuk Dave.
Pria itu menatap memohon, seakan tidak mau di tinggalkan sendiri oleh Davina di apartemen.
Bahkan setelah makan siang tadi, Dave terus meminta Davina untuk tetap tinggal di sana.
Kebersamaan yang intens sejak kemarin, tentu membuat Dave semakin tak bisa jauh dari Davina.
Apalagi sudah 2 kali Davina menyuapinya. Hal yang sebelumnya tidak pernah di lakukan.
Dan menahan Davina agar tetap tinggal di apartemen adalah cara terbaik bagi Dave untuk tetap bisa merasakan kebersamaan indah itu.
Davina menggelengkan kepala. Dia tetap tidak mau menginap lagi di apartemen Dave dan memilih untuk pulang.
"Aku mau pulang saja,," Ucapnya lirih.
Sempat menghela nafas berat dengan keputusan Davina yang tak mau tinggal bersamanya lebih lama lagi, Dave akhirnya membiarkan Davina pulang dengan catatan dia yang mengantarkan Davina pulang ke rumah.
...****...
Sampainya di rumah, keduanya di sambut oleh Edwin dan Sandra yang baru keluar dari ruang makan. Keduanya mengajak Davina dan Dave untuk berbicara di ruang keluarga.
“Mau sampai kapan kalian akan seperti ini.?" Tanya Edwin. Nada bicaranya terlihat berat menahan kesedihan. Orang tua manapun tak akan tega melihat putrinya yang sedang hamil harus menjalani pernikahan seperti itu. Pernikahan tanpa arah dan tujuan.
"Papa berusaha memaafkan kesalahan Dave yang lalu, bukan karna ingin membelanya. Semua ini demi kebaikan bersama." Tutur Edwin sembari menatap lembut putrinya. Karna putrinya itu terlihat keberatan menerima keputusan darinya.
__ADS_1
"Ini akan jadi kesempatan terakhir untuk kamu Dave.!" Tegas Edwin. Dia beralih menatap menantu sekaligus adik iparnya.
"Nanti setelah kamu menjadi orang tua, kamu akan tau kenapa Saya bersikap tegas saat kamu menyakiti Davina." Ucapnya dengan sorot mata tajam.
Dave menundukkan kepala dengan rasa bersalah yang menyelimuti. Sadar bahwa apa yang telah ia berbuat bukan hanya menyakiti seorang wanita, tapi juga menyakiti hati orang tua yang sudah merawat dan membesarkan putrinya dengan penuh kelembutan serta cinta.
"Saya mengerti Pah," Jawab Dave.
"Ke depan saya tidak akan membiarkan Davina terluka sedikitpun. Saya akan menjaga dan mencintainya melebihi diri saya Sendiri." Janjinya untuk menebus semua kesalahan yang pernah ia perbuat pada sang istri.
Kini tak ada yang lebih penting selain menjaga baik-baik kesempatan terakhir yang datang padanya.
"Saya pegang ucapan kamu." Sahut Edwin penuh penekanan.
Jika nantinya Dave kembali melakukan kesalahan lagi yang bisa menghancurkan kembali perasaan dan hati Davina, maka tak akan pernah ada kesempatan kedua dari Edwin untuk menantunya itu. Karna tidak ada orang tua manapun yang membiarkan anaknya jatuh kedua kali pada jurang yang sama.
"Davina, Papa harap secepatnya kamu juga membicarakan tentang kondisi kamu yang sebenarnya." Pinta Edwin. Dia ingin Davina memberitahu Dave tentang kehamilan itu. Setidaknya Edwin akan sedikit lega jika Dave tau, jadi pria itu bisa lebih hati-hati dalam menjaga Davina.
Keputusan itu terdengar membahagiakan bagi Dave, karna tinggal kembali bersama Davina adalah keinginannya yang sulit untuk dilakukan mengingat Davina selalu menolak.
Namun sesuatu mengganjal pikiran Dave, tentang ucapan Edwin yang meminta Davina agar memberitahukan kondisinya.
"Papa tidak usah khawatir, aku akan menjelaskannya ketika sudah siap." Sahut Davina.
"Kondisi yang seperti apa maksudnya.?" Dave menatap bingung pada Edwin dan Davina.
Meski dia sedikit memiliki gambaran akan hal itu, namun tak bisa memastikannya karna tak memiliki bukti yang nyata akan kebenaran itu.
"Mas,,," Sandra menyentuh tangan Edwin, mencegah Edwin agar tidak bicara lebih jauh lagi. Karna suaminya itu terlihat akan menjawab pertanyaan Dave.
"Biarkan Davina yang menyelesaikannya, tugas kamu sudah selesai untuk membuat mereka kembali bersama. Kita do'akan saja agar mereka lebih bahagia dalam menjalani pernikahannya."
__ADS_1
"Semua permasalahan ini bisa kalian jadikan pelajaran untuk mendewasakan diri agar kedepannya lebih baik lagi dalam menyelesaikan permasalahan yang ada."
Sandra menatap Davina dan Dave bergantian. Menatap dengan perasaan yang tulus untuk kebahagiaan mereka. Bagaimanapun, mereka juga bagian terpenting dalam hidupnya dan menginginkan yang terbaik untuk mereka.
"Pernikahan itu bukan soal cinta dan kebahagiaan saja. Tapi bagaimana kita bisa saling mengerti satu sama lain dan menerima kekurangan masing-masing."
"Saling terbuka dan percaya, itu akan menjadi kunci penyelesaian masalah terbaik." Ucap Sandra.
Davina dan Dave mengangguk tanpa berani mengangkat wajah. Keduanya sangat merasa bersalah, mengakui jika sama-sama melakukan kesalahan walaupun dengan cara yang berbeda.
Ini akan menjadi pelajaran yang berharga bagi mereka tentunya untuk menyongsong masa depan yang lebih baik dengan keluarga kecil mereka.
...****...
"Iihh,,, apaan sih Om,," Davina menyikut perut Dave lantaran sejak tadi suaminya itu terus menempel padanya. Tak hanya menempel saja, tapi Dave terus mengendus aroma tubuhnya hingga membuat Davina merasa geli.
"Geser sedikit, jangan dekat-dekat.!" Keluh Davina kesal. Dia jadi tidak bisa memejamkan mata lantaran Dave terlalu menempel padanya. Mendekapnya erat dan membuatnya terasa berat untuk bernafas.
"Tidak mau,," Jawab Dave. Dia malah semakin menempel pada Davina karna hal itu membuatnya sangat nyaman dan merasa jauh lebih baik.
"Biarkan aku memelukmu seperti ini." Pintanya dengan suara memelas.
Davina jadi tidak tega untuk menyuruh Dave bergeser lagi. Disisi lain, sebenarnya dia juga mengerti kenapa Dave jadi bersikap seperti itu padanya. Semakin menempel dan sangat manja.
...****...
Mampir juga ke novel baru othor yah 😊🙏🏻
Judul : Penyesalan Balas Dendam
Bisa klik profil othor / ketik di pencarian 😊
__ADS_1