
"Minuman apa yang kamu berikan Dave.?!!" Bentak Jasmine. Wanita itu terlihat sangat marah, satu tangannya meremas kuat botol air mineral yang sudah dia teguk setengahnya. Dia kemudian sengaja melempar botol itu di hadapan Dave dengan kencang.
"Brakkk,,,!!!"
Botol itu terlempar ke tembok. Sisa air di dalam botol itu berceceran.
"Untuk apa bertanya kalau sudah tau." Jawab Dave santai.
Sembari menyilangkan kedua tangan di dada, pria itu mengukir senyum smirk.
Dia telah mencampurkan obat perangsang dosis tinggi ke dalam air mineral itu.
Dave sengaja membiarkan Jasmine kehausan dan merengek meminta minum. Dalam kondisi kehausan, sudah pasti Jasmine akan langsung meneguk minuman dalam jumlah banyak.
Terbukti wanita itu langsung menghabiskan setengah air mineral dalam sekali teguk.
Jasmine terlihat meremas kuat ujung bajunya. Dia menahan sesuatu yang bergejolak. Hawa panas mulai menyelimuti. Dia sampai menggigit bibir bawahnya karna sangat menginginkan sentuhan.
Daerah inti dan titik sensitifnya bahkan mulai bereaksi.
"Kamu benar-benar gila Dave.!!" Racau Jasmine. Wanita itu mulai tak terkendali. Kedua tangannya meraba tubuhnya sendiri.
Dave hanya tersenyum sinis. Tak peduli dengan cibiran Jasmine.
"Katakan saja kalau kamu butuh sentuhan, mereka siap memuaskanmu." Ucap Dave sembari melirik 3 laki-laki suruhannya.
Dia sengaja menyewa 3 laki-laki dengan postur tubuh tegap tinggi dan wajah yang terbilang tampan. Dave ingin membuat Jasmine merengek untuk di sentuh oleh mereka.
Jasmine tak menjawab. Dia sudah kesulitan untuk fokus akibat pengaruh obat itu.
"Lakukan sekarang.!" Seru Dave pada 3 laki-laki itu.
"Ingat baik-baik tugas kalian.!" Tegas Dave, lalu beranjak dari duduknya.
"Baik Tuan." Jawab ketiganya.
Mereka terlihat mendekati Jasmine. Menatap wajah wanita cantik itu yang berkabut gairah.
__ADS_1
Setelah itu, ketiganya kompak melepaskan baju mereka di depan Jasmine.
"Tidak.!! Aku mohon jangan lakukan itu Dave.!!"
"Suruh mereka pergi.!!" Teriak Jasmine setelah menyadari ketiga laki-laki itu sedang melepaskan baju di hadapannya.
Dave terlihat tak peduli dengan teriakan Jasmine. Memilih berlalu dari ruangan itu, meninggalkan Jasmine dan 3 orang laki-laki di dalam sana.
Meski begitu, Dave memperingatkan mereka untuk meniduri Jasmine.. Kecuali jika Jasmine sendiri yang memintanya. Dave juga tak mengijinkan mereka mencium Jasmine, ataupun menikmati tubuh Jasmine dengan bibir dan lidah mereka.
Karna Dave hanya ingin membuat Jasmine tersiksa akibat pengaruh obat perangsang.
Memang terdengar kejam, tapi itu balasan yang setimpal untuk Jasmine karna sudah berani mempermainkannya.
Sementara itu, Jasmine menundukkan wajah. Dia tidak kuat berlama-lama menatap tiga laki-laki dengan tubuh gagah di depannya.
Apalagi saat menatap sesuatu yang menonjol di balik celana da- lam mereka.
"Kamu yakin tidak butuh kami, Nona,,?" Goda salah satu dari mereka.
Jasmine hanya diam. Kedua pahanya menghimpit kuat dan saking bergesekan. Dia sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi, hal itu membuatnya frustasi dan tanpa sadar mengatakan minta tolong pada mereka.
Tapi saat ingat peringatan dari Dave, mereka bertiga tak berani berbuat macam-macam pada Jasmine.
...*****...
3 hari sejak Dave pergi ke luar kota, hanya 2 kali panggilan telfonnya di angkat oleh Dave. Pria itu sepertinya sangat sibuk sampai tidak punya banyak waktu untuk mengangkat telfon darinya.
Ada kerinduan yang semakin besar tatkala jarak memisahkannya dengan Dave. Terkadang hal itu sampai membuatnya tak bisa tidur karna terlalu ingin bertemu.
Pagi itu Davina dan kedua orang tuanya serta Farrel, tengah sarapan bersama.
Mereka sarapan lebih awal karna akan mengantar Mama Sandra dan Papa Edwin ke bandara.
Pagi ini mereka akan terbang ke Paris untuk urusan pekerjaan yang mendesak. Karna ada sedikit masalah dengan bisnis baru mereka di sana. Davina bahkan baru di beri tau semalam.
"Papa tidak tau sampai kapan di Paris. Tapi Papa usahakan sebelum 2 minggu sudah kembali." Katanya pada Davina dan Farrel.
__ADS_1
"Hukuman untuk Dave masih berlanjut, jangan sampai kamu dan Dave bertemu di belakang Papa."
"Biarkan Dave merenungi kesalahannya." Tuturnya pada Davina.
Davina mengangguk patuh tanpa mengatakan apapun. Wajahnya terlihat muram sejak tadi.
Edwin sadar hal itu pasti berat untuk putrinya, mengingat Davina terlihat sangat mencintai Dave.
Tapi Edwin juga tidak mau hal itu terulang lagi pada putrinya jika Dave tidak diberikan efek jera.
Pria itu harus sadar jika kekerasan fisik hanya akan menciptakan masalah yang semakin besar.
Belum lagi dampak psikologis yang akan dirasakan oleh seseorang yang mendapatkan kekerasan.
Sekalipun Davina mungkin bersalah, tapi bukan berarti bisa berbuat kasar padanya.
"Tetap awasi Om dan adikmu,," Tegas Edwin sembari menepuk pundak Farrel.
"Jangan sampai mereka bertemu atau pergi bersama."
"Siap Pah, aku pastikan meraka tidak bisa bertemu. Lagipula Om Dave masih di luar kota." Sahut Farrel. Laki-laki itu terlihat santai saja, padahal sudah mengkhianati kepercayaan Papa tirinya. Di beri kepercayaan untuk menjaga dan mengawasinya Davina dari Dave, Farrel malah membawa Davina ke apartemen Dave.
Bahkan saat ini sudah berfikir untuk mempertemukan mereka lagi agar bisa mendapatkan uang lebih banyak lagi dari Dave.
...***...
"Nanti setelah pulang dari kampus, kemasi beberapa baju kamu." Ucap Farrel.
Dia sedang menyetir mobil menuju kampus bersama dengan Davina yang duduk di sampingnya.
"Kemasi baju.? Untuk apa.?" Davina menatap heran.
"Untuk apa lagi kalau bukan tinggal di apartemen Om Dave."
"Dia akan pulang nanti sore."
"Sebaiknya kalian tinggal berdua saja selama Papa dan Mama di luar negeri. Daripada harus bertemu sembunyi-sembunyi, seperti pasangan yang selingkuh saja." Tutur Farrel panjang lebar.
__ADS_1
"Nggak mau Kak, aku takut Papa tau,," Davina menolak. Dia tidak mau mengambil resiko.
Bertemu sebentar saja sudah membuatnya was-was, apalagi kalau sampai harus tinggal. bersama. Pasti tidak akan tenang karna takut ketahuan.