
"Minum dulu susunya." Sandra memberikan segelas susu pada Davina. Susu yang baru saja di beli oleh pekerja rumah.
"Susu itu bagus untuk nutrisi janin di dalam kandungan kamu, jadi harus minum setiap hari." Tutur Sandra lembut. Dia lalu ikut duduk di samping Davina.
"Makasih Mah,," Ucap Davina. Dia mulai meneguk susu itu sedikit demi sedikit. Lalu meletakkan gelas di atas meja.
"Davina, Mama ingin kita bicara dari hati ke hati. Sebagai Ibu dan anak, bukan sebagai Kakak dari suami kamu,," Sandra meraih tangan Davina untuk menggenggamnya.
Sebagai seorang ibu, sekalipun dia hanya ibu sambung bagi Davina, membantu menyelesaikan masalah dan membuat Davina bisa hidup bahagia adalah tugas dan kewajibannya.
Sandra hanya ingin terbaik untuk putri sambungnya itu. Ingin melihat Davina bisa menjalani hidup dan pernikahan sebagaimana mestinya.
"Mama sudah pernah mengalami semua ini. Tidak mudah menjadi orang tua tunggal apalagi bagi kita yang perempuan. Papa kamu bahkan merasakannya walaupun bisa mencukupi semua kebutuhan kamu."
"Untuk kali ini saja, Mama mohon pikirkan baik-baik ucapan Mama." Ujarnya dengan tatapan penuh ketulusan.
"Perjalanan hidup kamu masih sangat panjang. Usia kamu terlalu muda untuk menjadi orang tua tunggal. Jika kamu merasa bisa menghidupi anak kamu, itu tak akan semudah yang kamu bayangkan sayang,,"
"Harga diri seorang ibu sangat tinggi, tentu ingin menghidupi dan mencukupi kebutuhan anak dengan kerja keras dan keringat kita sendiri."
"Kamu harus sadar kalau saat ini semua kebutuhan kamu bahkan masih di penuhi oleh Papa. Kamu juga belum menyelesaikan kuliah."
"Lalu dengan apa kamu akan mencukupi kebutuhannya jika tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.?"
Sandra berhenti bicara, dia memberikan waktu pada Davina untuk mencerna ucapannya lebih dulu. Namun tatapan matanya tak pernah lepas dari wajah Davina yang tengah menunduk.
Sandra tidak menyalahkan Davina atas keputusannya untuk meminta cerai pada Dave, karna dia juga sadar yang dilakukan oleh Dave sudah keterlaluan. Adiknya itu seolah mempermainkan pernikahan, mengingkari janji yang pernah dia ucapan untuk membahagiakan dan mencintai Davina setulus hati. Tapi pada kenyataannya malah dia berbagi hati.
__ADS_1
Mata Davina berkaca-kaca. Sudut matanya sudah di penuhi air mata yang menggenang.
Dia sudah memaafkan kesalahan Dave, tapi hatinya masih terlalu sakit untuk memulainya lagi. Dia merasa trauma mengalami sakit hati untuk kesekian kalinya.
Dia takut menjalani hubungan lagi. Belum siap jika suatu saat harus merasakan luka yang sama. Disaat hatinya sudah begitu dalam mencintai.
"Pernikahan bukan tentang kebahagiaan saja sayang,," Sandra mengusap punggung Davina. Berharap bisa menenangkan hatinya yang saat ini mungkin sedang rapuh.
"Aku tidak menuntut kebahagiaan, aku hanya ingin di hargai, di anggap keberadaannya sebagai istri dan dicintai dengan layak seperti aku mencintainya." Suara Davina bergetar. Buliran bening mulai membasahi Pipinya.
Dia merasa tak memiliki harga diri sebagai istri karna suaminya masih mencintai wanita lain.
Pernikahan dengan perasaan yang semu. Seolah hanya dia saja yang mengagungkan Dave dengan cinta yang dia miliki untuk laki-laki itu.
"Hanya itu saja, aku tak menuntut apapun selain itu."
Davina menatap dengan sorot mata penuh kehancuran. Dia belum bisa menyembuhkan luka, tapi baik Dave dan kedua orang tuanya seolah mendesaknya untuk segera kembali menjalani pernikahannya lagi.
Sandra merangkul Davina dan membawanya dalam dekapan. Dia mengerti apa yang dirasakan oleh putrinya itu.
"Mama tau kamu masih butuh waktu."
"Kami tidak memaksa kamu untuk cepat-cepat kembali pada Dave. Tapi setidaknya kamu sudah mau membuka hati untuk memulai dari awal, walaupun butuh proses yang panjang,,"
"Ini juga demi kebaikan anak kamu nantinya. Dia akan membutuhkan figur seorang Ayah yang tidak bisa digantikan oleh seorang Ibu. Begitu juga sebaliknya."
Sebisa mungkin Sandra mengucapkan kata demi kata dengan hati-hati agar tidak membuat Davina merasa terpojok dan pad akhirnya hanya membuat Davina semakin sulit untuk membuka hati kembali.
__ADS_1
...****...
"Singkirkan es krimnya, Saya sudah selesai." Perintah Dave.
Raka sontak membuka mulutnya lebar-lebar. Bengong melihat Dave yang tidak mau memakan es krim itu lagi padahal Raka jelas-jelas melihat kalau Dave baru memasukkan es krim itu ke dalam mulutnya sebanyak 2 kali. Bisa di bayangkan sisa es krim di dalam cup berukuran sedang itu. Tentu saja masih sangat banyak lantaran Dave hanya memakannya sedikit.
"Raka.!! Kau tidak mendengarku.?!" Seru Dave.
"Iya Tuan, saya dengar." Raka segera mengambil es krim dari meja Dave dan memasukkan ke dalam lemari pendingin yang ada di ruangan itu.
"Batalkan pertemuan dengan klien sore ini. Saya mau pulang." Dave beranjak dari kursinya. Meraih jas dan memakainya.
"Tapi Tuan,, pertemuan itu,,
"Kamu berani membantah.?!" Tegas Dave dengan tatapan tajam. Membuat Raka menggelengkan kepalanya. Mana mungkin dia berani membantah apa yang sudah keluar dari mulut Dave. Dia masih membutuhkan pekerjaan itu untuk menghidupi keluarganya.
"Bagus.! Lakukan apa yang saya perintahkan."
"Jangan menghubungi saya untuk urusan apapun, saya tidak mau di ganggu." Pesannya lalu keluar begitu saja dari ruangan. Meninggalkan Raka yang terus geleng-geleng kepala karna semakin tidak bisa memahami Dave. Ini bukan sifat bosnya.
Selama bertahun-tahun mendampingi Dave, Raka sudah mengenal dengan baik sifat dan karakter bosnya itu. Tapi kali ini dia sama sekali tidak bisa mengenalinya.
"Tuan Dave membuatku takut saja,," Gumam Raka sembari mengusap kedua lengannya yang terasa merinding. Dia bahkan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan itu. Entah kenapa jadi berfikir ada sesuatu yang tidak beres dalam ruangan Dave.
Dia seolah merasakan ada hal yang tak kasat mata di ruangan itu hingga membuat sikap Dave menjadi aneh.
...****...
__ADS_1
...Di vote ya kalau sudah selesai bacaš¤£...