
Perlawanan dan penolakan Davina mulai mengendur. Dia tak berusaha lagi untuk menolak ataupun menghentikan apa yang di lakukan oleh Dave. Bahkan saat kedua tangan Dave menyusup masuk kedalam baju yang di pakai oleh Davina, wanita cantik itu terlihat pasrah saja. Tidak ada upaya untuk mencekal tangan Dave seperti yang dia lakukan di awal.
Sentuhan dan kecupan lembut dari Dave, agaknya berhasil membuat Davina terang-sang. Dilihat dari wajah Davina yang mulai memerah dengan sorot mata berkabut gairah. Begitu juga tubuhnya yang semakin menegang seiring gerakan tangan Dave di balik bajunya.
Dave menghentikan aksinya, dia kemudian memutar tubuh Davina untuk berhadapan dengannya. Sembari mengecup singkat bibir sensual itu, Dave mulai mengangkat tubuh Davina. Dia membuat Davina seperti bayi koala dalam gendongannya.
"Sepertinya berat badan kamu tambah lagi." Komentar Dave. Terakhir dia mengangkat tubuh Davina rasanya tak seberat saat ini.
"Itu artinya aku sangat sehat." Sahut Davina cepat. Mengingat dirinya sedang mengandung anak Dave, masalah berat merupakan sesuatu yang memang perlu di perhatikan.
Kenaikan berat badan adalah hal yang cukup baik, selagi tidak berlebihan selama masa kehamilan.
Harusnya Davina mengikut sertakan calon anak mereka saat menjawab komentar Dave mengenai berat badannya. Namun karna dia merasa belum siap memberitahukan Dave, Davia hanya menjawab seperti itu.
"Aku senang mendengarnya. Bahkan tidak masalah kalau berat badan kamu masih bisa bertambah."
"Justru kamu semakin terlihat seksi." Goda Dave. Pria itu sampai mengedipkan satu matanya.
"Laki-laki memang paling pandai soal merayu." Davina menjawab acuh, disertai ekspresi wajahnya yang menahan kesal namun terlihat menggemaskan.
"Aku tidak pandai merayu, hanya pantai memuaskanmu." Balas Dave.
Dia langsung mendudukan Davina di sisi ranjang. Lalu kembali memulai pemanasan yang sempat tertunda.
Dave melepaskan satu persatu kain yang menempel di tubuh Davina. Dia terlihat tidak sabaran dalam melucuti kain yang menutupi pahatan indah milik istrinya.
Baju milik Davina bahkan berserakan di mana-mana.
Davina hanya bisa menatap heran mendapati suaminya yang semakin agresif. Terlihat tidak bisa bermain cantik dan lembut.
Mungkin karna efek terlalu lama tidak menyentuh tubuh Davina.
Setelah memastikan Davina siap untuk melakukan penyatuan, dengan menyentuh area di bawah sana yang mulai basah, kini giliran Dave yang melepaskan semua kain miliknya.
Dave memposisikan diri. Sebelum melakukan penyatuan, dia lebih dulu memandangi wajah Davina. Memberikan usapan lembut di pipi menggunakan jemarinya.
__ADS_1
Pria itu mengukir senyum, senyum yang memiliki banyak arti dilihat dari sorot matanya.
"Terimakasih untuk kesempatan terakhir ini." Ucap Dave. Suaranya terdengar dalam dan tulus.
Tidak ada yang lebih berharga di dari kehadiran Davina dalam hidupnya dan juga kesempatan yang saat ini diberikan oleh Davina.
"Aku akan menjadi pria yang paling bodoh dan menyedihkan jika kembali menyia-nyiakan kesempatan berharga ini." Tatapan mata Dave semakin dalam.
Dia menyadari bahwa Davina lebih berarti di banding seseorang yang lebih dulu ada di hatinya.
Perasaan dia terhadap Davina murni karna cinta, tidak bercampur dengan obsesi.
"Dan aku akan menjadi wanita paling bodoh jika memberikan kesempatan pada seseorang yang kembali mengulangi kesalahan serupa."
"Maka jangan membuat diri sendiri dan aku terlihat sangat bodoh." Nada bicara Davina sedikit bergetar.
Dia tidak mau mengulang hal yang sama setelah memberikan kesempatan kesekian kalinya pada Dave. Karna itu dia sangat berharap Dave menepati janjinya.
"Aku tidak akan pernah mengulang kesalahan yang sama"
"Aku sangat mencintaimu,," Bisikan Dave di telinga Davina. Dia kembali menghujani ciuman, bahkan meninggalkan jejak kemerahan di leher dan dada Davina.
Perlahan tapi pasti, Dave mulai mengarahkan sesuatu di bawah sana dengan hati-hati.
Meski Davina bukan lagi seorang gadis, namun penyatuannya selalu membutuhkan kesabaran.
"Pelan-pelan,," Davina memperingatkan Dave sembari menahan dada Dave agar tidak terlalu cepat mendorongnya.
Dave yang sedang dikuasai gairah dan menginginkan kenikmatan, tidak begitu mendengar ucapan Davina. Dia sedang fokus berusaha agar benda itu tenggelam sempurna dalam tempat hangat yang memabukkan.
"Aww,,!! Aku bilang pelan-pelan,,!" Pekik Davina. Tubuhnya sampai terguncang lantaran Dave mendorongnya menggunakan tenaga yang cukup kuat.
"Sorry baby,," Ucap Dave. Dia memberikan kecupan sekilas lalu mulai memburu rasa yang sudah lama dia dambakan.
Sementara itu, Davina dibuat cemas dengan gerakan Dave yang semakin tak terkontrol.
__ADS_1
Namun di sisi lain Davina juga merasakan kenikmatan yang mulai menjalar ke seluruh tubuh.
Dia menikmati permainan itu di selimuti rasa cemas dan takut. Memikirkan kondisi kehamilannya yang bisa saja terganggu akibat gerakan Dave yang terlalu bersemangat.
Sedangkan dokter pernah mengatakan jika usia kehamilan trimester pertama masih sangat rentan mengalami pendarahan dan berakhir kehilangan janin.
"Om,, pelan-pelan,,," Pinta Davina dengan suara menahan des--sahan.
Dave terlihat tak menghiraukan ucapan Davina. Sebagai laki-laki yang sudah lama tidak melakukannya, sudah pasti Dave sangat bersemangat.
"Om tidak dengar.?!! Aku bilang hati-hati.!! Om bisa membahayakan anakku.!"
Karna kesal, Davina sampai berteriak di tengah-tengah permainan yang semakin panas.
Dave yang sudah melayang menikmati permainan itu, seketika menghentikan gerakannya dan menatap kaget.
"Anakku.??" Dave mengulangi ucapan Davina.
"Jadi kamu beneran hamil.???" Dengan tatapan serius, Dave menatap lekat wajah Davina. Sekilas pria itu menatap perut Davina yang memang sedikit lebih menonjol. Tidak rata seperti sebelumnya.
Walaupun Dave sudah menyadari keanehan itu sejak lama, namun dia tidak bisa memastikan bahwa Davina memang sedang hamil. Apalagi Davina dan keluarganya tak pernah mengatakan apapun.
"Om sudah tau.?" Davina balik bertanya. Karna pertanyaan Dave seolah mengatakan bahwa pria itu sudah pernah mengetahui tentang kehamilannya.
Seketika Dave menyingkir dari atas tubuh Davina. Dia tidak memikirkan kenikmatan yang belum dia dapatkan.
"Ada darah dagingku di dalam sini.?" Tanya Dave dengan mata yang berkaca-kaca dan suara tercekat. Dia mengusap lembut perut Davina, kemudian mendaratkan kecupan di sana.
Dave begitu bahagia mengetahui kehamilan Davina. Bahkan kini mulai meneteskan air matanya.
"Kenapa menangis.?" Davina menatap bingung.
"Aku bahagia, sangat bahagia." Sahut Dave yang langsung mendekap erat tubuh Davina.
Kehadiran darah dagingnya dalam rahim Davina merupakan hal yang sangat membahagiakan dalam hidupnya hingga sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata.
__ADS_1