Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 36


__ADS_3

Dave, Sandra dan Edwin sedang berada di ruang makan untuk makan malam bersama. Sudah hampir 15 menit mereka menunggu Davina turun. Pekerja rumah sampai 2 kali mendatangi kamar gadis itu untuk memanggilnya.


"Bagaimana rencana kamu selanjutnya Dave.?" Sandra mulai memasang mode serius. Sejujurnya dia tak ingin Dave melanjutkan rencananya, tapi apa yang sudah menjadi keputusan Dave tak akan pernah bisa di ubah, apalagi di batalkan.


"Dia masih menolak untuk menikah secepatnya." Jawab Dave. Ada kekesalan dalam nada bicaranya.


"Jalan terakhir aku akan memaksanya. Bila perlu menyiapkan pernikahan ini tanpa sepengetahuan dia." Dave terlihat serius mengutarakan rencana terakhirnya untuk segera menggelar acara pernikahan bersama Jasmine.


"Kakak mendukung apapun keputusan kamu, tapi rasanya nggak tega kalau melihat Jasmine yang harus menanggung semuanya." Sandra mulai bimbang. Sejujurnya Jasmine tak mengerti apapun dan tidak bersalah atas kehancuran yang pernah mereka alami di masa lalu, meski Jasmine berkaitan erat dengan hal itu.


"Bukan hanya dia yang akan menanggung semuanya, aku pastikan mereka bertiga akan menanggungnya." Tegas Dave dengan menekankan setiap kata penuh dendam dan amarah.


"20% saham milik keluarganya sudah saya beli, sesuai yang kamu minta." Kini giliran Edwin yang bersuara. Dia dengan suka rela membantu dan mendukung rencana adik iparnya itu. Bagaimana pun, kejadian itu pernah meninggalkan luka di hati Sandra. Edwin pikir, dia harus ikut adil untuk membalas setiap tetes air mata sang istri.


"Terimakasih Mas,," Ucap Dave. Setidaknya kehadiran Edwin bisa memperlancar rencana yang sejak dulu dia buat.


"Tapi kamu harus tetap hati-hati, suatu saat mereka bisa tau siapa saya." Tutur Edwin.


Dave mengangguk paham.


"Kenapa Davina belum turun.?" Gumam Sandra sembari menoleh ke arah pintu masuk. Dave dan Edwin reflek mengikuti arah pandangan Sandra.


"Aku panggil Davina dulu Mas,," Ujarnya Pada Edwin.


"Kakak disini saja, biar aku yang panggilkan Davina." Dave langsung beranjak sebelum Sandra beranjak dari duduknya.


"Baiklah,," Sandra membiarkan Dave memanggilkan putri sambungnya.


...****...


Sementara itu, Davina baru saja selesai memoleskan riasan tipis di wajahnya. Dia beranjak dari meja rias, meraih coat dan memakainya untuk membalut dress mini yang dia kenakan.


Mama dan Papanya pasti tak akan mengijinkannya keluar dengan pakaian yang memperlihatkan bagian tubuh dan lekuk tubuhnya.


Selesai memakai coat dan mengambil tas, Davina bergegas keluar dari kamar. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamarnya lantaran Dave sudah berdiri tegap di sana dan memberikan tatapan menelisik.

__ADS_1


"Sejak tadi semua orang menunggumu, tapi kamu malah mau pergi.?!" Seru Dave geram.


Siapa yang tidak kesal, mereka sengaja tidak langsung makan agar bisa makan bersama Davina, tapi gadis itu malah terlihat akan pergi.


"Aku pikir kalian sudah makan." Jawab Davina santai.


"Kalau begitu Om langsung makan saja, aku harus pergi. Temanku sudah menunggu." Davina bergeser dari hadapan Dave untuk berlalu dari sana. Namun tangannya di tahan oleh Dave, di genggam erat oleh laki-laki itu dan sedikit menariknya agar kembali berdiri di hadapannya.


"Kamu pikir bisa pergi begitu saja.!" Ketus Dave. Sorot matanya semakin tajam, begitu juga dengan cengkraman di pergelangan tangan Davina.


"Nggak ada yang bisa melarang aku pergi, termasuk Om.!" Davina tak kalah ketus membalas ucapan Dave. Dia berusaha menarik kasar tangannya.


"Lepas.!" Pekik Davina. Setelah beberapa kali mencoba menarik tangannya, Davina berhasil lepas dari cengkraman Dave.


Kedua tangan Dave terlihat mengepal kuat. Urat di lehernya bahkan terlihat, seiring dengan amarah yang kian memuncak.


"Pergilah.!! Pergi kalau kamu ingin melihat saya menikah sungguhan dengan Jasmine.!" Seru Dave. Dia mengancam Davina, berharap Davina mengurungkan niatnya untuk pergi. Dave yakin kalau Davina tak akan membiarkannya menikah sungguhan dengan Jasmine. Karang dia tau gadis itu memiliki perasaan yang besar padanya.


Davina hanya menghentikan langkah. Dia mengulas senyum kecut yang tak bisa dilihat oleh Dave karna dia membelakanginya.


"Aku nggak peduli.!"


"Tidak peduli.? Atau mencoba tidak peduli.?!" Sinis Dave.


"Kamu bahkan cemburu melihat saya menggandengnya.!"


Davina langsung terdiam. Dia menahan segala perasaan yang berkecambuk dalam hatinya.


Dia tak bisa menyangkal ucapan Dave, semua itu benar adanya. Meski berusaha untuk tak peduli, tapi hatinya tak bisa berbohong. Jauh di lubuk hatinya dia sangat terluka, terluka karna berpura-pura acuh pada Dave.


Dia menyiksa dirinya sendiri karna mencoba melakukan apa yang sebenarnya tak bisa ia lakukan.


Davina menarik nafas dalam setelah rasa sesak semakin memenuhi dadanya.


"Om Dave benar, semua itu memang benar.!" Seru Davina tegas. Dia mengakui semua itu untuk mengurangi rasa sesak yang dia rasakan.

__ADS_1


Dia kemudian kembali melangkah, bergegas menuruni tangga dengan langkah cepat. Davina pergi ke ruang makan untuk pamit pada Sandra dan Edwin, setelah itu pergi dari rumah.


Davina sempat berpapasan dengan Dave, tapi mereka berdua tak mengatakan apapun. Dave juga membiarkan Davina pergi begitu saja.


...*****...


Dave pamit pergi selesai makan malam. Ada hal penting yang harus dia lakukan saat ini, apa lagi kalau bukan menyusul Davina ke club. Dia sangat yakin kalau gadis itu pergi ke sana.


Sebenarnya Dave ingin mengikuti Davina sejak gadis itu meninggalkan rumah, namun dia tak mau gegabah. Karna kalau sampai Sandra dan Edwin curiga, mereka bisa mengetahui hubungan dia dengan Davina. Jika itu terjadi, kemungkinan bisa-bisa mereka tak akan mengijinkan Dave tinggal satu rumah lagi dengan Davina.


Hal itu akan membuatnya sulit untuk menjaga dan mengawasi Davina.


Dave menggelengkan kepala melihat mobil Davina terparkir di basemen club. Gadis itu terlihat semakin nyaman dengan dunia luar. Semakin sering mendatangi club, padahal Dave tau betul kalau Davina baru menginjakkan kaki di club beberapa hari sebelum dekat dengannya.


Sementara itu, kondisi di dalam club sedikit gaduh dengan ulah seorang lelaki paruh baya yang sedang merayu gadis belia.


"Lepasin.! Jangan macam-macam.!" Bentak Davina. Dia menyingkirkan tangan laki-laki yang seusia dengan Papanya.


"Dasar Jala- ng,,! Sombong sekali kamu.!" Lelaki itu tak Terima mendapat penolakan dari Davina.


Tangan besarnya mencengkram erat lengan Davina dan setengah menyeretnya. Tak ada yang berani menolong Davina karna laki-laki itu cukup berkuasa, bahkan disebut-sebut sebagai pemilik club ini.


"Lepas.!! Aku nggak mau,, tolong,,,!!" Davina merengek, dia sampai tak bisa menahan air matanya karna ketakutan.


"Mau Anda bawa kemana kekasih saya.!!" Suara tegas Dave terdengar menggema, penuh penekanan dan amarah.


Laki-laki itu segera melepaskan tangan Davina begitu melihat Dave.


Saat itu juga Davina langsung bersembunyi di belakang Dave, kedua tangannya meremas kemeja yang di pakai Dave.


"Dave,, Saya tidak tau kalau,,,


"Sepertinya istri Anda harus tau apa yang baru saja anda lakukan." Tutur Dave sembari merogoh ponsel dari saku celananya.


Laki-laki itu seketika panik dan mencegah Dave, memohon padanya agar tidak memberitahukan hal itu pada istrinya. Dia sampai menawarkan kamar dan minuman gratis untuk Dave. Tentu saja Dave menolaknya mentah-mentah. Dia tak kekurangan uang hanya untuk menyewa kamar dan membeli semua minuman yang ada di sini.

__ADS_1


"Ayo pulang.!" Dave menggandeng tangan Davina, mengajak gadis itu keluar dari club setelah mengadukan hal tadi pada istri pemilik club.


Davina hanya bisa menundukkan kepala, dia tak berani menatap Dave. Terlebih pria itu terlihat sangat marah dan kecewa padanya.


__ADS_2