Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 50


__ADS_3

"Pelan-pelan Om,,! Sakit,,!" Pekik Davina. Gadis itu berusaha menyeimbangkan langkah lebar Dave yang saat ini sedang menyeretnya setelah meninggalkan pesta pernikahan mereka.


Dengan gaun pengantin yang panjang, Davina bahkan kesulitan untuk berjalan. Tapi tanpa belas kasihan, Dave menyeretnya dengan langkah cepat. Gadis itu bahkan hampir terjatuh beberapa kali meski pada akhirnya Dave menahan tubuh mungil itu. Tapi kemudian dia kembali menyeret Davina dengan amarah yang terlihat jelas dari raut wajah dan tatapan matanya.


"Ini belum seberapa.! Saya bahkan tak segan-segan menghancurkan wanita itu dan putrinya, kamu lihat sendiri bukan.!" Geram Dave penuh penekanan.


Dia membuka pintu kamar hotel yang sudah dia pesan sejak lama.


Membuka pintu dengan kasar, mendorong Davina masuk hingga wanita itu terjatuh di lantai.


Dave lalu menutup pintu dan menguncinya, berjalan mendekati Davina dengan tatapan membunuh.


"Kenapa Om Dave seperti ini.?!" Bentak Davina dengan rasa sesak di dada atas perlakuan kasar Dave.


"Om ingin menghancurkanku seperti Jasmine dan Mamanya.? Memangnya apa yang sudah aku lakukan.?! Aku tak pernah melakukan kesalahan apapun.!!" Ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa semua ini karna Papa.? Kalaupun Papa berbuat sesuatu pada Om Dave, nggak seharusnya Om membalasnya padaku.!" Davina menatap kecewa pada Dave. Dia tidak tau kesalahan apa yang sudah dia perbuat sampai Dave tega memperlakukannya seperti ini.


Dave mengukir senyum sinis. Dia berjongkok di depan Davina. Tangannya mencengkram dagu Davina. Menatap penuh kebencian karna teringat perbuatan Davina dengan Justin.


"Kamu nggak tau kesalahan apa yang sudah kamu perbuat.?! Atau pura-pura nggak tau.?!" Sentak Dave. Dia semakin mencengkram kuat dagu Davina. Tak peduli meski tatapan sendu Davina membuatnya gelisah. Namun langsung di tepis oleh rasa kecewa yang dia rasakan.


"Untuk apa aku harus pura-pura kalau aku nggak merasa melakukan kesalahan apapun.!" Seru Davina. Dia menepis kasar tangan Dave, kemudian mencoba berdiri dengan susah payah karna gaun yang dia kenakan.


"Aku mau pulang.!" Davina berjalan menuju walk in closet untuk mengganti gaun. Dia berniat kembali ke rumah dari pada harus menghabiskan malam di hotel bersama Dave.


Pernikahan yang baru saja terjadi tak memberikan kesan apapun bagi Davina. Sedikitpun dia tidak meras bahagia meski menikah dengan Dave pernah menjadi keinginan terbesarnya. Tapi itu dulu sebelum sikap Dave berubah padanya.


Sampai detik ini Davina masih bertanya-tanya, tidak kesalahan apa yang sudah ia perbuat hingga pria itu terlihat sangat marah padanya dan berniat untuk membuat hidupnya hancur.


"Kamu jahat Om,,," Suara Davina bergetar. Dia berani menangis setelah pergi dari hadapan Dave.


Karna percuma saja jika dia menangis di depan suaminya itu, Dave tak terlihat memiliki belas kasihan sedikitpun padanya.


Sementara itu, Dave sedang menerima telfon dari seseorang. Rahangnya semakin mengeras dengan wajah memerah.


"Saya tidak mau tau.! Cepat cari si brengsek itu sampai ketemu.!" Suara kemarahan Dave memenuhi kamar hotel.


Dia lalu mematikan sambungan telfonnya.

__ADS_1


Sudah 3 hari dia menyuruh orang untuk mencari keberadaan Justin yang telah menghilang sejak malam itu.


Awalnya Dave ingin menyeret Justin untuk menggantikan posisinya sebagai pengantin pria yang lebih berhak bertanggungjawab atas Davina. Namun begitu tau bahwa Justin menghilang, Dave tetap memilih untuk melanjutkan pernikahannya. Dia pikir dengan cara menikahi Davina, maka akan memudahkannya menyakiti Davina. Tak peduli walaupun masih ada sedikit perasaan untuk gadis itu.


...**...


Dave sedang duduk di sofa, menyesap rokok di tangannya dengan pandangan mata mengarah pada pintu walk in closet. Dimana gadis yang sudah menjadi istrinya itu tengah berada di dalam untuk mengganti baju dan tak kunjung keluar sampai sekarang.


Dave yang geram, langsung mematikan rokoknya. Beranjak dari sofa dan masuk begitu saja ke walk in closet.


"Kenapa masih disini,,,,"


Suara tegas Dave berakhir dengan suara lirih yang mengambang di udara setelah melihat Davina terlelap di atas sofa kecil dalam keadaan meringkuk.


Dave menghela nafas kasar. Belum puas rasanya menyiksa gadis itu, tapi sudah tertidur pulas.


"Sudah saya peringatkan jangan pergi ke club dan menjauhi Justin, tapi kamu sengaja pergi dan melempar tubuhmu ini.!" Dave menatap penuh kecewa. Dia kemudian mengangkat tubuh Davina untuk di pindahkan ke ranjang.


Dia membiarkan Davina tidur disana, sedangkan Dave sendiri berbaring di sofa setelah mengganti baju.


Tidak tidur dalam satu ranjang adalah keputusan yang sudah dia buat sejak memutuskan untuk tetap menikahi Davina. Dia enggan tidur dengan wanita yang sudah pernah menghabiskan malam dengan pria lain. Terlebih dia melihat dengan mata kepalanya sendiri.


...*****...


"Cepat bangun.!!" Bentak Dave. Dia mendorong kasar koper Davina di dekat ranjang hingga terjatuh dan menimbulkan suara bising. Sengaja untuk membangunkan Davina yang masih tertidur.


Davina membuka mata perlahan. Dia di sambut oleh amarah di wajah Dave dan tatapan tajamnya yang mengerikan.


"Jangan diam saja, cepat bangun.!" Dave menarik kasar selimut yang menutupi tubuh Davina. Kemudian menarik tangannya untuk turun dari ranjang.


"Bawa kopermu.! Kita pulang sekarang.!" Titah Dave. Tak ada belas kasihan sedikitpun pada Davina yang baru saja bangun dari tidurnya. Gadis itu bahkan terlihat kebingungan. Masih berusaha mencerna kenapa semua ini terjadi.


Dave berjalan cepat, dia narik koper miliknya sendiri. Kamar yang sudah dia sewa selama 3 malam, hanya dia gunakan semalaman saja dan memilih pulang. Percuma saja dia menginap di hotel, karna tak akan pernah terjadi sesuatu antara dia dan Davina sekalipun mereka sudah menikah. Dave tentu saja enggan menyentuh istrinya itu, mengingat Davina sudah tidur bersama Justin.


"Sampai kapan Om akan seperti ini padaku.?!!" Teriak Davina setelah lama terdiam.


Dave menghentikan langkah tepat di depan pintu. Mengurungkan niatnya saat akan membuka pintu dan kini berbalik badan menatap Davina.


"Sampai saya puas melihatmu menderita.!!" Jawabnya sinis.

__ADS_1


"Tapi kenapa Om.?!! Aku bahkan nggak tau apa salahku.?!!" Davina menatap putus asa.


"Apa perlu saya ingatkan kesalahanmu.?!" Geram Dave. Dia mulai melangkahkan kakinya, berjalan cepat menghampiri Davina dengan penuh amarah.


Dave merogoh ponselnya. Membuka galeri foto dan menunjukkan foto yang beberapa malam lalu dia ambil sendiri dengan ponselnya.


"Kamu lihat ini.?! Kalian menjijikkan.!!" Bentak Dave.


Davina hanya diam tanpa bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Dia tidak merasa melakukan hal itu, namun foto itu terlihat asli dan itu benar-benar dirinya yang tengah tidur bersama Justin dalam kamar di sebuah club. Davina masih ingat dengan kamar itu.


"Dari mana,,,


"Saya yang mengambil foto ini dengan ponsel dan tangan saya sendiri.!!" Potong Dave cepat.


"Kamu masih mau pura-pura.?!! Atau justru mau menyangkalnya.?!!" Sinis Dave dengan senyum kecut.


"Nggak mungkin,, aku nggak mungkin tidur dengan Justin, Om. Pasti ada yang menjebakku.!"


Davina tidak mau mengakuinya karna memang dia tak merasa tidur dengan Justin. Bahkan malam itu dia tak melihat Justin ada di club.


"Malam itu aku memang pergi ke club, tapi atas permintaan Bianca. Aku masuk ke kamar itu untuk memanggil Arga yang sedang bersama wanita lain."


"Setelah itu,,,


Davina tak meneruskan ucapannya setelah mengingat kembali apa yang terjadi malam itu. Seorang wanita di dalam kamar yang sudah membuatnya tak sadarkan diri.


Tapi begitu bangun, tak ada siapapun di kamar itu dan dia juga masih mengenakan pakaian lengkap.


"Setelah itu kamu bertemu dengan Justin dan melewati malam panas bersamanya.?" Lanjut Dave dengan suara sinis.


Davina langsung menggeleng cepat.


"Aku bahkan nggak lihat Justin ada disana, Om.!" Sahut Davina.


"Bianca.! Pasti dia yang sudah menjebakku. Malam itu setelah aku bangun, dia menelfon dan meminta maaf karna dia bilang sudah menjebakku."


"Pasti,,,


Dave terkekeh sinis mendengar penjelasan Davina.

__ADS_1


"Kamu melemparkan kesalahan pada orang yang sudah meninggal.?!" Sinisnya. Tentu saja Dave tak percaya pada Davina. Dia lalu memili berlalu, meneriaki Davina untuk segera keluar dari kamar hotel dan mengikutinya.


__ADS_2