Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 66


__ADS_3

Dalam balutan selimut yang sama, Dave memeluk erat tubuh polos Davina. Mendekap erat seolah-olah ingin menunjukkan bahwa saat ini Davina adalah milik dia seutuhnya. Tak hanya itu, Dave juga bangga karna menjadi yang pertama untuk Davina.


Berulang kali Dave mendaratkan kecupan lembut di kening Davina, seraya mengusap pucuk kepalanya. Membuat Davina membenamkan wajahnya di dada bidang Dave untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.


Penyatuan penuh cinta yang baru saja ia lakukan bersama Dave, terus berputar-putar di ingatan. Kehangatan penuh cinta dan kenikmatan itu begitu membekas.


Meski terbilang dingin dan cuek, Davina tak menyangka Dave akan bermain lembut. Melakukan semuanya dengan hati-hati dan selalu memberikan sentuhan dan kecupan yang mampu menghilangkan kecemasan dan rasa takutnya.


"Masih sakit,,?" Tanya Dave. Jemarinya menyusuri punggung polos Davina.


Davina menggelengkan kepala. Tapi meski begitu, Dave yakin kalau sebenarnya Davina sedang menahan sakit dan perih pada daerah intinya.


Penyatuan yang sulit membuat Dave harus sedikit mendorong paksa miliknya, hal itu sudah pasti menimbulkan luka di sana. Karna begitu miliknya bisa menembus kedalam, Davina berteriak keras. Kedua tangannya sampai meremas kuat punggung Dave sampai menimbulkan banyak luka di sana akibat kuku-kuku panjang Davina.


"Maaf,,," Ucap Davina dengan perasaan bersalah. Dia sempat mengecek punggung Dave dan mendapati beberapa goresan di sana, beberapa di antaranya sampai terlihat mengeluarkan sedikit darah.


"Sebaiknya aku obati sekarang biar nggak makin sakit. Dimana kotak,,," Davina menghentikan ucapannya karna Dave menempelkan telunjuk di bibir Davina. Dia juga menahan tubuh Davina karna wanita itu seperti akan beranjak dari ranjang.


"Disini saja, biar saya ambilkan kotak obatnya." Kata Dave. Dia melarang Davina untuk turun dari ranjang, karna pasti wanita itu akan kesakitan dan kesulitan saat berjalan.


Dave lalu turun dari ranjang, dengan bertelanjang dada pria itu berjalan keluar kamar. Davina menatap punggung lebar Dave, awalnya hanya memperhatikan luka di punggung bagian atas saja. Tapi pandang Davina mulai turun ke bawah saat jarak Dave semakin jauh. Sesuatu yang ada di punggung bawah Dave menarik perhatian Davina. Sesuatu yang dari kejauhan seperti tato berwarna hitam dan tidak jelas bentuknya.

__ADS_1


Tak berselang lama, Dave kembali dengan membawa kotak obat dan air mineral dingin.


Dave meletakkan kotak itu di atas nakas.


"Minum dulu,," Kata Dave sembari duduk di sisi ranjang, lalu membuka botol air mineral itu dan memberikannya pada Davina.


Saat ini Davina sedang duduk bersandar di kepala ranjang dan sudah memakai kembali bajunya.


Davina memberikan kembali air itu pada Dave setelah meneguknya. Sementara itu, Dave langsung menghabiskan sisa minuman milik Davina. Membuat Davina mengulum senyum melihatnya.


"Mana obatnya, berikan padaku,," Davina bergeser, duduk tepat di belakang punggung Dave.


Sembari menunggu Dave memberikan salep luka padanya. Davina mencoba mencari tau tato yang tadi sempat dia lihat di bagian punggung bawah Dave. Dia memperhatikan dengan seksama, mencari tato itu yang ternyata sudah tidak terlihat di sana lantaran tertutup dengan celana pendek Dave.


"Davina,,,?" Tegur Dave lembut. Dia sudah menyodorkan salep luka sejak tadi, tapi Davina tak kunjung mengambilnya dan terlihat sedang melamun.


"Ii,iyaa,,," Ucap Davina gugup. Dia langsung mengambil salep itu dan mengoleskan perlahan pada luka di punggung Dave.


"Kenapa, apa masih sakit.?" Tanya Dave. Dia cemas karna melihat Davina melamun. Takut wanita itu sedang menahan sakit.


"Masih sedikit sakit untuk bergeser." Jawab Davina. Sembari mengoleskan salep, sorot matanya menerawang jauh, dia dibuat penasaran dengan tato di punggung Dave. Apa lagi Dave terlihat menyembunyikan tato itu setelah sempat terlihat. Hal itu semakin menimbulkan rasa penasaran Davina untuk melihatnya.

__ADS_1


Dia ingin menurunkan sedikit celana itu agar isa melihatnya, tapi tidak berani melakukannya.


"Apa Om punya tato.?" Akhirnya Davina memberanikan diri untuk bertanya.


"Hemm,," Hanya suara deheman yang keluar dari mulut Dave.


"Tato apa.? Aku boleh liat.?" Davina memajukan wajahnya untuk bisa menatap Dave.


"Bunga, mungkin sudah sedikit pudar karna sudah lama." Jawab Dave. Tapi seperti tidak ada tanda-tanda Dave akan menunjukkan tato itu pada Davina. Dave juga tidak menjawab pertanyaan Davina yang meminta ijin untuk melihat tato itu.


"Sudah selesai.?" Tanya Dave. Tangannya mengulur, meminta salep yang di pegang oleh Davina. Setelah itu menyimpan kembali kedalam kotak di atas nakas.


"Sudah malam, ayo tidur,," Ajak Dave, dia mendaratkan kecupan lembut di bibir Davina.


...***...


Sambil nunggu novel ini up lagi, mampir dulu yah ke novel " Cinta Sendiri ". Karya author AYi.


Jangan lupa langsung masukin ke daftar favorit 😊


Mampir juga ke novel " Nikah Muda ". Di akun kedua ku " Ratna Wullandarrie "

__ADS_1




__ADS_2