Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 48


__ADS_3

Dave terlihat mengepalkan sebelah tangannya saat sedang menerima telfon dari nomor ponsel Davina, namun yang seseorang yang berbicara diseberang sana bukanlah pemilik ponsel itu, melainkan pelayan disalah satu club.


"Baik, saya segera ke,sana.!" Tegas Dave dengan nada penuh amarah. Dia mematikan telfon dan memasukkan ponselnya dalam saku celana, kemudian beranjak dari duduknya.


"Dave, ada apa.?" Jasmine menahan tangan Dave.


"Kamu mau kemana.? Filmnya belum selesai," Suara Jasmine sedikit memohon.


Saat ini mereka memang sedang berada di bioskop. Jasmine memaksa Dave untuk pergi menonton setelah makan malam.


"Saya ada urusan."


"Nanti saya suruh supir untuk jemput kamu dan antar kamu pulang ke rumah." Kata Dave sembari melepaskan genggaman tangan Jasmine di pergelangan tangannya.


Tak peduli dengan ucapan Jasmine yang memintanya untuk tidak pergi, Dave tetap berlalu dengan langkah cepat dan keluar dari ruang teater.


Pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju club. Soroti matanya begitu tajam, dipenuhi amarah. Dia mencengkram kuat stir mobil hingga otot-otot di sekitar tangannya terlihat. Sesekali mengumpat kasar dan memukul stir.


Dave tak menyangka Davina akan pergi lagi ke club seorang diri hanya karna sedang marah padanya.


Padahal dia sudah memperingatkan Davina untuk tidak pergi ke club kecuali jika pergi bersamanya.


Selesai memarkirkan mobilnya, Dave bergegas turun. Berjalan cepat memasuki club.


"Tuan Dave,,!!" Seru pelayan. Dia sudah sangat mengenal Dave karna sejak dulu Dave sering datang ke club ini. Pelayan itu juga yang menelfon Dave menggunakan ponsel Davina. Dia tau kalau Dave dan Davina memiliki hubungan spesial karna beberapa kali melihat mereka bersama di club ini.


"Dimana gadis itu.?!" Tanya Dave setelah menghampirinya.


"Ini tas dan ponselnya,," Pelayan itu memberikan tas dan ponsel milik Davina.


"Dia ada di atas, mari saya antar,,"


Dave mengikut pelayan itu di belakang. amarahnya semakin memuncak saat tau dimana keberadaan Davina. Dia pikir Davina hanya tak sadarkan diri karna terlalu banyak minum, tapi rupanya berada di lantai 2 yang di penuhi kamar.


"Seorang pria memesan kamar ini selama 2 jam, tapi sudah lebih dari 2 jam tidak keluar. Kami sudah mengetuknya berulang kali dan tidak ada jawaban, jadi terpaksa kami mendo,,,,


Belum selesai pelayan itu menjelaskan kronologinya, Dave langsung menyingkirkan pelayan itu dan menerobos masuk ke dalam kamar itu. Membuka pintu dengan kasar hingga pintu itu membentur dinding dan menimbulkan suara dentuman cukup keras.


Dave tak bisa menahan diri setelah pelayan itu mengatakan jika kamar yang si tempati oleh Davina adalah kamar yang sudah dipesan oleh laki-laki.

__ADS_1


"Justin,,!!" Pekik Dave.


Matanya membulat sempurna, menatap Justin dan Davina yang tengah berbaring di atas ranjang yang sama dalam keadaan tanpa busana dan hanya berbalut selimut.


Terlihat dari baju keduanya yang berserakan di lantai.


Kedua tangan Dave mengepal kuat. Perasaan cintanya pada sosok gadis itu perlahan mulai di tutupi oleh kekecewaan dan kebencian.


Gadis yang selama ini dia anggap sangat polos, rupanya bisa bermain kasar dengan berselingkuh hanya karna marah padanya lantaran dia pergi makan malam bersama Jasmine.


Dave melempar tas milik Davina ke ranjang hingga mengenai bagian kaki Davina. Tak peduli dengan apa yang baru saja dia lihat di depan mata, Dave memilih pergi dari tempat itu. Membawa rasa sakit hati dan kebencian.


Dia bahkan tidak punya niatan untuk membangunkan mereka berdua, dan tidak tertarik sedikitpun untuk meminta penjelasan dari mereka.


Dave tau betul siapa Justin. Tidak mungkin Justin melakukannya dengan cara pemaksaan, karna pria itu pandai merayu dan membujuk. Bahkan banyak wanita yang dengan suka rela melemparkan tubuhnya di atas ranjang Justin.


Jadi sekalipun Dave tak mendengarkan penjelasan dari Davina, dia sudah tau jawabannya.


...****...


"Ya ampun,,, kenapa kepalaku pusing sekali,,," Gumam Davina lirih. Dia berusaha membuka matanya perlahan meski terasa sulit. Memijat pelipisnya beberapa kali sebelum benar-benar membuka matanya.


"Kenapa aku ada disini.?" Davina dibuat bingung lantaran sudah berada di atas ranjang saat membuka mata. Dia turun dari ranjang, mengamati keadaan kamar yang sepi tanpa ada orang lain selain dirinya.


Dia masih ingat saat masuk ke dalam kamar ini, tiba-tiba wanita yang dia tau sebagai kekasih Arga, membungkam mulutnya dan setelah itu kesadarannya mulai hilang.


Davina tidak mengerti tujuan wanita itu membuatnya tak sadarkan diri. Tapi sekarang hanya meninggalkannya di kamar itu seorang diri.


"Bianca,,, dimana dia,,,?" Davina meraih tas miliknya di atas nakas, dia setengah berlari keluar dari club dan masuk kedalam mobilnya.


Davina masih saja mencemaskan Bianca. Dia mengkhawatir kondisi kesehatan Davin yang terlihat tidak baik-baik saja secara mental. Davina bisa melihat dengan jelas tatapan mata Bianca yang berbeda. Penuh dengan keputusasaan.


Mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Davina langsung menghubungi Bianca.


Tak berselang lama, Bianca mengangkat panggilan telfon dari Davina.


"Halo Bi,, kamu dimana.? Kamu baik-baik saja kan.?!" Tanyanya cemas.


Davina sedikit berteriak lantaran mendengar suara bising kendaraan yang lalu lalang dari ponsel Bianca. Sepertinya Bianca sedang berada di jalan.

__ADS_1


"Vin,,, maafin aku,,," Tangis Bianca pecah.


"Aku bohong tentang kehamilan ini. Janin ini bukan anak Arga, tapi beberapa orang sudah memper- kosaku,,," Suara Bianca bergetar. Davina bisa merasakan ketakutan dan trauma dalam diri Bianca.


"Aku tulus mencintai Arga, tapi sepertinya dia terlalu baik untukku."


Pengakuan Bianca bahkan ikut membuat perasaan Davina bercampur aduk. Entah apa jadinya jika dia yang berada di posisi Bianca. Pantas saja Bianca terlihat kacau akhir-akhir ini. Bahkan sebelum hubungannya dan Arga berakhir.


"Aku minta maaf sudah menjebak kamu,,"


"Terimakasih karna pernah menjadi sahabat terbaik yang peduli padaku."


"Selamat tinggal Vin,,"


"Bi,, apa yang kamu lakukan,,??!" Teriak Davina. Firasatnya mengatakan kalau Bianca akan melakukan hal yang fatal.


Ucapan Bianca seperti orang yang akan pergi untuk selama-lamanya dengan meninggalkan pesan terakhir.


"Hallo, Bi,,,! Bianca,,!! Aku mohon jangan lakukan itu.!!"


Davina tak bisa mendengar apapun lagi karna sambungan telfonnya sudah terputus.


Tangisnya pecah. Pikirannya kalut. Dia tidak tau harus pergi kemana untuk mencari keberadaan Bianca.


"Nggak mungkin.! Kamu nggak mungkin melakukan hal gila itu kan Bi,?" Gumam Davina dengan air mata yang terus mengalir. Dia kembali menghubungi Bianca, tapi nomor ponselnya tidak isa di hubungi. Hal itu membuat Davina semakin gelisah. Dia kemudian meninggalkan club, memilih untuk pulang dan menceritakan masalah ini dengan Dave dan keluarganya.


Dia juga ingin meminta Dave agar mau mencari keberadaan Bianca.


...****...


Davina memarkirkan mobilnya di garasi. Dia mengedarkan pandangan, mencoba mencari mobil milik Dave yang ternyata tidak ada di sana.


Perasaan Davina yang tadinya sedih, kini berubah penuh kekecewaan lantaran Dave belum pulang ke rumah sejak pamit pergi bersama Jasmine.


Sedangkan saat ini sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Balas dendam yang berujung jatuh cinta.?!" Gumam Davina dengan senyum sinis.


Dia kesal lantaran Dave terlalu mendalami peran sebagai tunangan Jasmine, padahal itu hanya bagian dari rencana Dave sendiri untuk balas dendam Tapi Dave tak bisa tegas pada Jasmine karna selalu menuruti premannya.

__ADS_1


Davina masuk kedalam rumah, dia menunggu Dave dengan duduk di atas balkon. Namun hingga pukul 1 malam, mobil Dave tak kunjung memasuki halaman rumah. Kekecewaan Davina semakin bertambah. Belum lagi dia memikirkan apa yang dilakukan oleh Dave dan Jasmine di luar sana.


Bahkan meski keduanya tidur di atas ranjang yang sama, dia tak akan tau.


__ADS_2