Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 93


__ADS_3

"Chiara,, tunggu,,, jangan lari,,,!!" Suara teriakan seseorang yang Davina kenal, membuatnya segera menoleh ke sumber suara.


Dari jarak yang tak terlalu jauh, Dia melihat Nabila tengah berlari mengejar anak perempuan.


Dan anak perempuan itu berlari ke arah Davina, lalu bersembunyi di balik badan Davina.


"Nabila,,?"


"Kak Vina,"


Ucap keduanya bersamaan, mereka sama-sama terlihat kaget karna bertemu di sana.


"Chiara, ayo sini sayang. Mommy cariin kamu,," Nabila berjalan ke belakang Davina dan menggandeng tangan Chiara.


"Kak Vina sama siapa di sini.? Sendirian.?" Tanya Nabila sembari mengedarkan pandangan ke sekitar Davina dan tidak mendapati seseorang yang terlihat bersama Davina.


"Nggak mau Aunty,, aku mau main air,," Chiara berusaha menarik tangannya dari gandengan Nabila.


Sementara itu Davina tidak lagi fokus dengan pertanyaan nabila, dia langsung menatap Chiara saat anak kecil itu memanggil Nabila dengan sebutan Aunty. Saat itu juga Davina langsung mengingat Kakak perempuan Nabila dan yakin kalau anak kecil yang bersama Nabila adalah anak dari wanita masa lalu Dave.


"Chiara,, ayo makan dulu sayang,," Seorang wanita dengan rambut terurai datang menghampiri mereka.


Davina mengalihkan pandangannya pada wanita itu. Wanita yang beberapa fotonya dia temukan di dalam map waktu itu.


Davina mengukir senyum tipis, pantas saja Dave mengoleksi foto-fotonya.


"Makan dulu baru boleh air,," Katanya sembari menggendong Chiara dan membawanya pergi dari saja.


"Kak,,?" Nabila menyentuh pelan pundak Davina lantaran Davina diam saja dan melamun.


"Ah ya,, sorry aku harus kembali ke resort. Kak Farrel sudah menungguku,," Davina melempar senyum pada Nabila sebelum berlalu dari sana.


Dia buru-buru kembali ke resort, masuk ke dalam kamar Farrel dan membangunkan laki-laki itu.


"Bangun Kak, aku mau pulang sekarang."

__ADS_1


"Kalau Kak Farrel nggak bangun, aku akan pulang sendiri,,"


Sembari menggoncang lengan Farrel, Davina sengaja berbicara kencang agar kakaknya itu bangun.


"Hemm,, sebentar lagi, masih ngantuk." Farrel hanya menggeliat dan berganti posisi tanpa membuka matanya.


"Ya ampun, katanya minta di bangunin 2 jam lagi. Ini sudah 2 jam Kak, cepetan bangun,,"


Davina terpaksa menggelitiki pinggang dan perut Farrel.


"Davina stop,,!!" Farrel berniat bangun dengan menarik kedua tangan Davina. Akibatnya Davina terjatuh di atas tubuhnya. Dengan jarak yang sangat dekat, Farrel bisa menatap lekat wajah Davina. Tatapan yang semakin lama memiliki arti.


"Iishh,, jadi jatuh kan.!" Protes Davina sembari berusaha menyingkir dari atas tubuh Farrel. Sedangkan Farrel masih diam di tempat. Memperhatikan Davina yang sudah bangun dari atas tubuhnya.


"Jadi kamu mengantarnya pulang kemari.?!" Dengan suara berat dan sinis, Dave masuk kedalam kamar dengan langkah perlahan. Berjalan menghampiri Farrel dan Davina yang sejak tadi dia perhatikan tanpa sepengetahuan mereka berdua.


"Om.!!" Farrel langsung turun dari ranjang, dia dibuat gugup dan takut lantaran sudah berbohong pada Dave.


Dia mengatakan pada Dave kalau sudah mengantarkan Davina pulang tadi malam, tapi malah membawanya bermalam di resort.


"Katakan.! Kenapa membawanya kemari.?!!" Dave menatap tajam. Langkahnya semakin dekat dengan Farrel.


Dave menatap keponakannya itu seolah sedang menatap rivalnya.


"Tuan,, sebaiknya Anda kembali ke rumah sakit sekarang,," Raka tiba-tiba ikut masuk menyusul Dave. Wajahnya terlihat cemas, tentu saja karna mengkhawatirkan kondisi Dave yang belum membaik tapi memaksa untuk meninggalkan rumah sakit.


Bahkan tadinya Dave ingin pergi tengah malam setelah melacak keberadaan Davina melalui gps dari ponsel istrinya itu.


"Om, aku hanya mengajak Davina menenangkan diri. Dia membutuhkan itu untuk menata kembali hatinya yang sudah Om hancurkan.!!" Suara Farrel menggema penuh amarah.


"Apa Om tau sehancur apa perasaannya.?!! Om tau sudah berapa banyak air mata yang dia keluarkan untuk laki-laki pecundang sepertimu.?!" Farrel mendekat dan mendorong keras dada Dave, membuat pria itu tersungkur karna tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya yang masih lemah.


Raka yang melihat itu langsung mendekat untuk membangunkan Dave, namun tangannya di tepis oleh Dave. Pria itu berdiri sendiri dengan hati-hati.


"Kak,, sudah,," Davina menarik tangan Farrel untuk menjauh dari Dave. Karna Farrel terlihat akan mendorong Dave lagi.

__ADS_1


"Hanya untuk mengejar sesuatu yang semu, Om mengabaikan yang nyata.!!" Teriak Farrel sinis.


Kedua tangan Dave terlihat mengepal. Tatapan matanya semakin tajam pada keponakannya itu.


"Raka.! Bawa Davina ke mobil.!" Titah Dave tegas.


"Baik Tuan,," Raka langsung menjalankan perintah Dave. Menghampiri Davina dan menggandeng tangannya.


"Mari Nona,," Ucapnya.


"Aku nggak mau.!! Lepas.!" Davina memberontak.


"Jangan salahkan Kak Farrel, aku yang mengajaknya pergi kesini.!" Teriaknya pada Dave. Namun Dave seolah tak mau tau.


"Cepat bawa dia.!!" Teriak Dave penuh amarah.


Tanpa pikir panjang, Raka langsung membawa Davina keluar dari resort sekalipun Davina terus memberontak.


"Kau.!! Berani sekali mengajaknya bermalam disini.!" Dave mencengkram kerah baju Farrel.


"Aku menyuruhmu untuk menjaga dan mengantarkannya pulang. Kamu berani membohongiku.!"


Dave lalu menghempaskan kasar cengkeramannya sembari mendorong Farrel hingga terjatuh.


"Jangan coba-coba mendekatinya.!" Tegas Dave lalu pergi dari hadapan Farrel dengan penuh amarah dan kekecewaan. Sekalipun Farrel dan Davina terikat hubungan saudara, tetap saja Dave tidak bisa membiarkan mereka berdua melewati batas. Menginap berduaan di resort bukan hal yang wajar menurutnya.


"Aku menyukainya,,!!" Teriakan Farrel membuat langkah Dave terhenti. Dia terlihat mengepalkan kedua tangannya. Menahan amarah lantaran keponakannya itu berani mengungkapkan perasaannya terhadap Davina padanya.


"Kau dengar itu Om Dave.?!! Aku menyukai istrimu.!!" Teriaknya lagi.


"Jangan menentangku atau kamu akan tanggung sendiri akibatnya.!" Tegas Dave kemudian pergi dari sana.


Kepergian Dave yang dipenuhi amarah, membuat Farrel mengukir senyum sinis pada Omnya itu.


Dia sadar bahwa Dave sangat egois.

__ADS_1


Menginginkan semua berjalan sesuai apa yang dia inginkan.


__ADS_2