
Suana di meja makan terlihat sangat canggung. Davina lebih banyak menundukkan pandangannya dan fokus menyantap makan malam tanpa mengatakan apapun sejak ia bergabung di meja makan.
Semua makanan yang tersaji di atas meja makan sudah disiapkan oleh Dave saat Davina datang.
Setidaknya di balik sikap dingin dan kasar yang di tunjukan Dave akhir-akhir ini, pria itu masih punya sedikit perhatian untuk menyiapkan makanannya dari kemarin. Walaupun di kurung di apartemen, Dave tak membiarkannya kekurangan makanan.
Davina jadi merasa tidak enak pada Dave. Karna sebagai istri, tak belum pernah sekalipun mengurus dan menyiapkan kebutuhan Dave. Itu sebabnya saat ini dia memilih diam saja. Meski sebelumnya sempat kesal pada Dave karna menyerobot susu miliknya dan meminumnya sampai habis. Di tambah raut wajah Dave yang tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Cepat habiskan makananmu." Ucap Dave datar. Dia memperhatikan Davina sejak tadi. Menatap lekat gadis itu tanpa di sadari oleh Davina.
"Iya Om,," Davina menjawab santai.
"Saya bukan Om kamu lagi. Panggil yang benar." Tegas Dave. Dia memberikan protes atas panggilan Om dari Davina.
"Hah.?" Davina bengong menatap Dave. Bingung karna tiba-tiba Dave protes, padahal sebelumnya tidak masalah saat dia memanggilnya Om.
“Yang benar bagaimana.? Memangnya selama ini aku salah panggil Om.?” Tanya Davina tak mengerti.
"Menurutmu apa ada istri yang memanggil suaminya dengan panggilan Om.?!" Sahut Dave.
Davina seketika menggelengkan kepalanya. Seumur hidupnya dia memang belum pernah melihat seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan Om. Kebanyakan memanggil dengan sebutan sayang, hubby atau Mas. Seperti panggilan Mama Sandra pada Papa Edwin.
"Lalu kenapa kamu memanggil saya Om.?" Protes Dave lagi.
Davina menatap kikuk, terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan Dave. Namun setelah ingat bahwa pernikahannya tak seperti pernikahan pada umumnya, seketika Davina punya jawaban atas protes yang dilakukan oleh Dave.
"Aku rasa nggak ada salahnya aku masih panggil Om. Lagipula mana ada suami yang memperlakukan istrinya dengan kasar dan seenaknya."
"Kalau Om mau mendengar panggilan yang tepat, perbaiki dulu sikap Om padaku."
Davina berbicara lantang. Sedikitpun tak takut melihat tatapan Dave yang semakin tajam.
Itu karna Davina merasa yakin kalau ucapannya benar. Bagaimana dia bisa memanggil Dave dengan panggilan yang semestinya atau romantis, sedangkan Dave saja sudah menjadikan pernikahan ini begitu menyedihkan untuk Davina.
Disaat semua pengantin bahagia setelah menikah, Dave justru menyakitinya. Memperlakukannya dengan kasar sampai mengancamnya akan melakukan hal yang menyakitkan dari itu.
"Saya akan perbaiki kalau kamu nggak panggil saya Om." Jawab Dave tenang. Respon yang tak terduga, karna sebelumya Dave terlihat marah saat Davina menentangnya.
__ADS_1
"Nggak mau, pokoknya Om dulu yang harus rubah sikap.!" Davina menentang keras permintaan Dave.
"Lagipula Om saja belum bisa percaya padaku tentang kejadian malam itu. Padahal aku yakin Om sudah mendengar pembicaraanku dengan Arga." Keluh Davina dengan bibir yang mencebik. Siapa yang tidak kesal kalau orang yang dia cintai tak bisa percaya padanya.
"Saya percaya." Jawab Dave. Suaranya jauh lebih lembut dibanding sebelumnya. Tatapan matanya juga lebih santai, tak setajam dan tegas seperti biasanya.
"Ayo habiskan makanannya, ada tugas penting yang harus kamu lakukan." Ujarnya. Dave memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.
"Tugas.? Tugas apa.?" Tanya Davina penasaran.
"Kamu akan tau nanti."
Dave mengunyah dengan santai sembari membereskan bekas peralatan makannya dan membawanya ke wash tafel.
...*****...
"Mau ngapain Om.?" Davina memberingsut mundur saat Dave mendekat ke arahnya.
Tadi selesai makan malam, Dave menyuruh Davina ke kamarnya untuk membereskan walk in closet. Beberapa barang milikinya yang berjejer di kemarin sedikit berantakan.
"Lepas Om, aku mau keluar." Davina mencoba melepaskan diri dari Dave, namun tangan Dave justru merangkul erat pinggangnya.
"Kamu nggak mau tunjukin bukti lain untuk membuat saya lebih percaya.?" Tanya Dave. Kedua matanya menatap lekat wajah Davina yang saat ini sedang mendongak hingga wajah mereka saling berhadapan.
"Memangnya Om butuh bukti yang bagaimana lagi.? Semuanya sudah jelas kalau aku di jebak. Om saja yang nggak mau tau."
Davina menahan kekesalan. Dia geram sendiri pada Dave karna masih meminta bukti lain, padahal semuanya sudah jelas.
"Saya harus memastikan kalau kamu belum di sentuh sama Justin." Jawab Dave.
"Maksud Om.?" Belum hilang rasa kesalnya pada Dave, kini Davina dibuat bingung dengan ucapan pria itu.
"Apa harus saya jelaskan.?" Dave balik bertanya. Namun tidak ada niatan untuk menjelaskan karna setelah itu dia langsung membungkam bibir Davina dengan ciuman lembut.
Setelah mendengarkan obrolan Davina dan Justin, serta mendatangi Jasmine untuk memastikan jika wanita itu terlihat, Dave memberanikan diri untuk membuktikan langsung dengan cara menjalankan tugasnya sebagai suami di atas ranjang.
Sebelum mendapatkan titik terang, Dave memang tidak berniat untuk membuktikan dengan cara seperti itu. Dia tentu saja tidak mau menyentuh wanita yang sudah pernah tidur dengan laki-laki lain, apa lagi dia melihatnya sendiri malam itu.
__ADS_1
Dia tak mau mengambil resiko, takut kalau Davina dan Justin sudah melakukan penyatuan. Dia yang akan kena imbasnya kalau seandainya Davina hamil anak Justin.
"Om.!!" Pekik Davina. Dia mendorong kuat dada Dave hingga pelukan dan ciumannya terlepas.
Dave sudah menurun dress Davina hingga terjatuh di lantai.
Karna dress itu tanpa lengan, Dave dengan mudah menyingkirkan dress itu. Menurunkan kedua tali spaghetti dari pundak Davina sampai dress itu melorot begitu saja.
"Om mau ngapain.?!" Protesnya sembari menaikan kembali dress nya yang masih berada di kaki.
"Jangan sampai saya memaksa kamu membuka baju." Kata Dave. Dia menahan kedua tangan Davina. Tak membiarkan Davina memakai kembali dress itu.
"Tapi aku nggak mau,,,
Dengan cepat, Dave membungkam lagi bibir Davina. Meny -sap dan melu-matnya sedikit kasar. Sebelah tangannya menahan kedua tangan Davina hingga dress itu kembali terjatuh ke lantai. Dan satu tangannya tak tinggal diam. Dia mulai menggerayangi tubuh bagian belakang Davina. Menyusuri punggung mulus itu dengan tangan besarnya.
Dia kemudian melepaskan pengait br-ra tanpa tali itu. Melemparnya sembarang arah dan langsung menangkup salah satu benda kenyal itu untuk di mainkan.
Davina memberontak. Dia memberikan penolakan. Tidak mau Dave menyentuhnya begitu saja setelah apa yang sudah pria itu lakukan padanya di malam pernikahan mereka. Namun Dave tak memberikan kesempatan pada Davina untuk melepaskan diri.
Kini dia memeluk erat tubuh Davina, menjelajahi leher jenjang Davina dengan bibirnya. Sesekali memberikan kecupan lembut di sana.
Perlakuan Dave membuat tubuh Davina meremang. Merasakan sensasi luar biasa yang menjalar ke seluruh tubuh. Tapi Davina berusaha untuk tidak merespon. Dia juga tidak mau terbawa suasana.
Sebelum Dave mengakui kesalahan dan merubah sikapnya, Davina tak akan membiarkan Dave menyentuhnya dengan mudah.
"Lepas Om.!! Aku nggak mau.!" Suara Davina meninggi. Dia sampai memukul dada Dave karna kesal.
"Nggak ada penolakan, karna ini bukan pilihan." Sahut Dave. Dengan sekali gerakan dia sudah menggendong tubuh Davina yang hampir telan-jang bulat. Hanya tersisa hot pant dan cela-na da lam saja yang menutupi bagian intinya.
"Om Dave.!!!" Davina sengaja berteriak kencang di depan wajah Dave.
"Aku nggak mau, cepat turunkan aku." Pintanya memohon.
"Diam, belum saatnya kamu berteriak." Kata Dave santai. Dia terus berjalan, membawa Davina ke arah ranjang.
Dave mengatakan hal itu karna dia yakin Davina akan berteriak saat pisang besar miliknya menerobos masuk ke dalam sana.
__ADS_1