Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 67


__ADS_3

Karna rasa penasaran dengan tato yang ada di tubuh Dave, Davina sampai tidak bisa tidur nyenyak. Dia jadi terbangun tengah malam, di saat Dave masih tidur pulas dengan hembusan nafas yang membelai wajah Davina karna dia berada dalam dekapan Dave. Pria itu tak melepaskan pelukannya sejak beberapa jam yang lalu. Terlihat sangat nyaman memeluk tubuh Davina.


Menatap lekat wajah Dave, Davina mengamati keindahan yang ada di depan matanya. Semua yang ada di wajah Dave terlalu sempurna.


Begitu juga tubuh yang tak kalah sempurna dengan pahatan-pahatan indah di bagian dada, perut, dan hampir semuanya tidak ada kekurangan sedikitpun.


Tapi sesempurna apapun seseorang, pasti ada secuil kekurangan yang di miliki. Begitu juga dengan Dave. Sikap dingin dan pemarahnya adalah dua di antara kekurangan Dave menurut Davina.


Dia sadar kalau pria yang saat ini menjadi suaminya, kesulitan untuk mengontrol emosi. Membuat Dave lebih mendahulukan amarah.


Seperti halnya saat Davina mengutarakan keinginannya untuk menunda kehamilan, Seketika Dave langsung marah bahkan sebelum Davina menyelesaikan ucapannya.


Davina melepaskan perlahan tangan Dave dari pinggangnya. Kemudian mulai bergeser agar lepas dari pelukan Dave.


"Mau kemana hmm,,,?" Tanya Dave dengan suara seraknya dan mata yang masih terpejam. Dia menahan tubuh Davina karna merasakan istrinya itu bergeser menjauh.


"Aku mau pipis Om,,"


Mendengar jawaban Davina, seketika Dave membuka matanya. Dia beberapa saat lalu melepaskan pelukannya dan bergegas turun dari ranjang.


"Biar saya gendong, pasti sakit kalau jalan sendiri." Kata Dave.


"Jadi Om turun karna mau gandong aku.?" Dave mengangguk cepat.


"Aku pikir Om Dave mau ke kamar mandi juga."


Tanpa menolak tawaran dari Dave, Davina mengulurkan kedua tangannya dan Dave langsung mengangkat tubuh Davina.


Dave menurunkan Davina di kamar mandi dan menunggu istrinya itu di luar. Bersandar di samping pintu sampai kembali tertidur dalam posisi berdiri. Sepertinya Dave sangat kelelahan akibat terlalu lama berjuang untuk bisa memiliki Davina seutuhnya.


"Om,, aku sudah selesai." Davina menyentuh pelan lengan Dave. Seketika Dave membuka matanya dan menggendong kembali tubuh Davina tanpa mengatakan apapun.

__ADS_1


Davina mengulas senyum dalam gendongan Dave. Menatap dekat wajah Dave yang terlihat sangat tampan dalam mode setengah sadar karna baru saja bangun dan terlihat masih sangat mengantuk.


"Kalau Om nggak suka marah-marah pasti makin tampan,," Antara cibiran dan pujian, Davina mengatakannya dengan nada candaan.


"Kalau saya nggak marah-marah, nanti kamu yang repot." Jawab Dave. Wajahnya sangat datar, padahal Davina sedang mencoba untuk membuat Dave tersenyum.


"Kenapa harus repot.?" Dahi Davina berkerut.


"Repot menghadapi puluhan wanita yang akan mendekati saya." Jawab Dave lagi, masih dengan ekspresi datarnya.


Menurutnya sikap buruk yang dia miliki sedikit menguntungkan karna hal itu membuat beberapa wanita tidak berani mendekatinya, bahkan ada beberapa yang menjauh setelah melihat kemarahan Dave yang mengerikan.


Dulu banyak karyawan baru yang selalu mencari perhatian dan berusaha untuk mendekatinya. Hal itu membuat Dave risih sampai muak dengan jenis wanita seperti itu.


Mereka terlalu percaya diri, menganggap Dave bisa dengan mudah di dekati karna sikap baik dan tenangnya.


Dan setelah Dave mulai menunjukkan sikap, serta tidak segan-segan menunjukan kemarahannya, tidak ada yang berani lagi beran mendekatinya. Walaupun masih ada beberapa wanita yang berusaha keras untuk mendapatkan cintanya, termasuk Jasmine.


"Kamu mau mengancam apa.?" Tanya Dave tenang.


Dave menurunkan Davina di ranjang, kemudian dia juga kembali naik ke atas ranjang.


"Aku nggak akan maafin Om kalau ketahuan dekat sama wanita lain." Davina mencebikkan bibir. Dia terlalu serius menanggapi obrolan itu, berbeda dengan Dave yang hanya menganggap sebagai candaan saja.


"Bila perlu aku akan pergi jauh dari Om." Katanya lagi. Dave sampai menahan senyum dengan reaksi Davina yang berlebihan.


"Pergi jauh kemana hmm.?" Dave bergeser mendekat.


"Kamu nggak akan bisa pergi kemana-mana,,"


Davina terkejut saat tiba-tiba Dave membuka baju dan melemparnya begitu saja. Lalu semakin mendekatinya, memegang tangan Davina untuk di arahkan pada benda yang baru saja mengeras.

__ADS_1


"Pasti akan rindu padaku dan dia,,," Kata Dave bersamaan dengan meletakan tangan Davina di sana.


Davina tak memberikan penolakan. Bahkan tidak memindahkan tangannya dari benda itu meski tangan Dave tidak lagi menahannya, karna tangan Dave sedang sibuk mencari kehangatan di balik baju Davina.


Percintaan panas itu kembali terjadi untuk kedua kalinya dalam satu malam, disaat kegiatan itu menjadi yang pertama bagi Davina.


Meski harus menahan perih, Davina masih bisa menikmatinya.


"Lebih cepat honey,,,!" Pinta Dave. Kedua tangannya memegangi pinggang Davina untuk membantu gerakan Davina di atas tubuhnya.


Cukup lama saling mengejar dan merengkuh kenikmatan, Tubuh Davina akhirnya ambruk di atas tubuh Dave.


"Om, tolong ambilkan bajuku,,," Pinta Davina setelah beberapa saat istirahat untuk mengatur nafas.


Dave segera turun dari ranjang, saat itu juga Davina memperhatikan baik-baik punggung Dave untuk melihat tato yang ada di sana. Karna saat itu Dave tidak memakai apapun.


"Bunga Daisy,,"


Gumam Davina dalam hati setelah melihat tato milik Dave.


...****...


Sambil nunggu novel ini up lagi, mampir dulu yah ke novel yang ada di bawah.


...Jangan lupa masukin ke daftar favorit, 🥰...




__ADS_1


__ADS_2