
"Cepat jalan.! Ke apartemenku.!" Titah Dave begitu dia sampai di mobil. Raka mengangguk patuh, dia membuka mobil yang sedari tadi terpaksa di kunci agar Davina tidak kabur.
Begitu Dave masuk, Dia disuguhkan oleh tatapan tajam Davina. Tatapan Tajam yang dipenuhi amarah dan kekecewaan.
"Aku nggak mau ikut sama Om. Tolong buka pintunya." Pinta Davina tegas.
Dave menoleh, dia terlihat menarik nafas lebih dulu sebelum menanggapi ucapan Davina.
"Aku berhak membawamu karna kamu masih istriku." Lirih Dave. Suaranya terdengar berat, bahkan terkesan sulit untuk bicara.
Kondisi yang belum stabil di tambah baru saja mengeluarkan banyak tenaga untuk membentak Farrel, membuat kondisi Dave kembali lemah.
Dia sampai memijat pelipisnya karna terasa berdenyut.
"Kenapa tidak membawa wanita itu saja, dia juga sedang ada disini bersama putrinya." Balas Davina tanpa mau menatap Dave.
Ucapan Davina sempat membuat Dave berfikir keras, tapi setelah itu paham siapa yang di maksud oleh Davina.
"Istriku itu kamu, untuk apa aku membawa istri orang lain." Dave menjawab santai. Dia lalu menyenderkan tubuh dan kepalanya, bahkan langsung memejamkan mata karna merasa semakin pusing.
Semalaman dia tidak bisa tidur setelah mengetahui keberadaan Farrel dan Davina.
Kalau saja dokter tidak melarang, dia pasti sudah meninggalkan rumah sakit malam itu juga. Tanpa perlu menunggu pagi.
"Tidak mau membawa istri orang lain, tapi bisa mencintai dan menemuinya." Sindir Davina dengan senyum kecut. Dia menyilangkan kedua tangan di dada, lalu membuang pandangan ke arah jendela.
Hanya helaan nafas berat yang keluar dari mulut Dave. Sebenarnya dia ingin menjawab ucapan Davina, tapi memilih diam untuk sementara karna kondisinya semakin tak karuan.
...***...
"Aku akan menelfonmu kalau membutuhkan sesuatu." Kata Dave pada Raka.
"Saya mengerti Tuan." Raka membungkuk hormat, lalu pamit pergi dari apartemen Dave.
Sementara itu, Davina langsung duduk di sofa ruang tamu saat Dave menyuruhnya masuk. Dia membuang muka begitu Dave mendekat.
__ADS_1
"Tunggu di sini, aku akan buat sarapan untuk kamu." Dave lalu meninggalkan Davina di ruang tamu dan beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Dave sudah mengubah lagi kode aksesnya, jadi tak khawatir membiarkan Davina di ruang tamu karna wanita itu tak akan bisa keluar dari apartemennya.
"Memasak,,?" Sinis Davina begitu Dave pergi.
"Jalan saja sangat lambat, bagaimana mungkin bisa memasak." Gumamnya mencibir. Davina tidak yakin Dave bisa memasak dalam kondisi seperti itu.
Craakkk,,,
"Oh, sh**itt,,!!" Umpat Dave saat tanpa sengaja menjatuhkan piring ke lantai. Dia langsung menghindari pecah piring yang berserakan di sana.
"Om,,, ada apa,,?!!" Dengan wajah panik, Davina menghampiri Dave di dapur. Berdiri di depan Dave, memperhatikan pria itu dari atas sampai bawah.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja." Kata Dave yang merasa sedang di perhatikan oleh Davina. Karna wanita itu memperhatikannya dari atas sampai bawah dengan tatapan cemas, seolah sedang memastikan tidak ada luka di tubuhnya akibat pecahan piring itu.
"Khawatir.? Siapa yang khawatir.?" Sahut Davina acuh.
"Sebaiknya Om duduk saja.! Jangan membuatku semakin repot nantinya.!" Ketusnya sembari mengambil sapu untuk membersihkan pecahan piring yang berserakan.
"Sini biar aku saja yang memasak,," Kata Dave sembari beranjak dari duduknya.
"Aku masih kuat kalau hanya memasak untuk kita berdua." Lanjutnya. Davina langsung melirik tajam.
"Masih kuat memasak atau masih kuat me jatuhkan piring lagi.?" Sindir Davina halus. Dia tak menghiraukan keberadaan Dave dan terus melanjutkan pekerjaannya untuk membuat sarapan yang kesiangan.
Dave diam saja dengan berdiri di belakang Davina, tak membalas ucapan Davina ataupun menganggu istrinya itu yang sedang memasak.
Diam memperhatikan Davina sambil terus mengulas senyum tipis.
Hampir 1 jam berada di dekat Davina sejak perjalan pulang dari resort, setidaknya hal itu membuat perasaan Dave jauh lebih baik sekalipun kondisi kesehatannya masih terganggu.
"Sepertinya aku sakit karna rindu padamu,," Ucap Dave setelah cukup lama terdiam. Dia memberanikan diri untuk mendekat, mengulurkan kedua tangannya dengan hati-hati untuk memeluk Davina dari belakang.
Tentu saja Davina langsung memberikan penolakan, berusaha untuk melepaskan kedua tangan Dave.
__ADS_1
"Aku mohon biarkan seperti ini sebentar saja." Pinta Dave. Nada bicaranya terdengar putus asa.
"Jangan terlalu lama meninggalkanku, aku bisa gila." Dekapan Dave semakin erat. Dia juga meletakkan kepalanya di pundak Davina.
Mencium dalam-dalam aroma tubuh Davina yang selama ini dia rindukan. Merasakan ketenangan dan kebahagiaan yang sempat hilang sejak Davina pergi meninggalkannya.
"Jangan mengatakan omong kosong. Mana ada seseorang jadi gila hanya karna di tinggalkan."
"bahkan yang pernah di tinggalkan bertahun-tahun saja masih waras dan bisa menyakiti."
"Lepas, aku harus menuangkan makanan ke piring." Davina melepaskan kedua tangan Dave, kali ini Dave membiarkan pelukannya terlepas.
"Aku bantu bawakan ke meja,," Dave mengambil alih piring dari tangan Davina, meletakkan makanan itu ke atas meja makan.
Keduanya makan bersama tanpa mengatakan apapun. Fokus pada makanannya masing-masing.
"Dimana obat yang tadi di bawakan Om Raka.?" Tanya Davina setelah menghabiskan makanannya.
"Ada di ruang keluarga, di atas meja."
"Biar aku ambil,," Sahut Dave.
Tapi belum sempat beranjak dari tempat duduknya, Davina sudah lebih dulu beranjak dan pergi ke ruang keluarga untuk mengambil obat milik Dave.
Dave menatap kepergian Davina dengan seulas senyum. Nyatanya Davina diam-diam masih memperhatikan dan peduli padanya.
Padahal saat Raka memberikan obat itu, Davina sudah masuk dan duduk di ruang tamu.
Itu artinya Davina mendengar ucapan Raka tentang obat milik Dave.
"Makasih,,," Ucap Dave dengan senyum yang mengembang. Dia menerima obat dari tangan Davina. Istrinya itu juga menyodorkan air minum padanya.
Davina hanya diam saja, tak menjawab ucapan Dave.
...***...
__ADS_1
Mampir ke sebelah juga ya, judul "Penyesalan Balas Dendam"