Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 53


__ADS_3

"Arga,,!" Panggil Davina dengan sedikit berteriak. Laki-laki itu terlihat berjalan lesu menuju parkiran usai jam kuliah berakhir.


Davina sengaja memanggil Arga untuk memastikan seperti apa kronologi yang sebenarnya. Dia juga ingin menanyakan pada Arga, mungkin saja laki-laki itu tau sesuatu tentang penjebakan yang dilakukan oleh Bianca padanya.


Arga menghentikan langkah. Dia berbalik badan hingga Davina bisa melihat raut wajah Arga yang sendu. Seolah ada beban dan kesedihan mendalam yang dia rasakan.


Rasanya tak perlu di tanyakan apa yang membuat Arga jadi seperti itu. Sebagai orang terakhir yang pernah dekat dengan Bianca, Davina yakin Arga merasakan kesedihan dan penyesalan mendalam. Bagaimanapun mereka pernah menjalani hari-hari bersama, bahkan dengan kedekatan yang sangat intim. Pasti ada kenangan indah, meski hubungan mereka sudah berakhir sebelum kejadian mengenaskan ini.


"Ada apa.?" Arga bertanya lembut. Tak lupa sembari mengembangkan senyum tipis walau terlihat di paksakan.


"Bisa bicara berdua.?" Davina menghampiri Arga dan berhenti di depannya.


"Ada hal yang ingin aku tanyakan,," Ujarnya lagi.


"Tentang Bianca.?" Tebak Arga. Davina langsung mengangguk cepat.


Arga kemudian menyetujui permintaan Davina untuk. berbicara 4 mata. Namun laki-laki itu mengajak Davina untuk pergi ke kafe yang terletak di seberang kampus.


Keduanya kemudian pergi bersama menggunakan mobil Arga.


Cukup lama keduanya diam. Mereka terlihat sama-sama bingung untuk memulai pembicara meski sudah duduk di kafe hampir 15 menit yang lalu. Minuman yang mereka pesan bahkan sudah habis setengahnya.


"Malam itu aku sempat bertemu Bianca di club,," Ucap Davina lirih. Dia membuka pembicaraan dengan hati-hati karna merasa akan sangat sensitif membicarakan seseorang yang telah tiada.


"Sebelum kejadian, dia mengatakan padaku kalau saat itu tengah hamil."


"Dia juga bilang kalau kamu yang menghamilinya dan nggak mau bertanggungjawab."


"Malam itu dia terus menelfon dan mengirimkan pesan. Berbicara sambil menangis, mengatakan kalau kamu baru saja memukulinya dan pergi menghabiskan malam dengan wanita lain di club."


Davina menceritakan dengan detail kejadian malam itu. Mulai dari dia terpaksa datang ke club karna tak tega pada Bianca, sampai berakhir pada pembiusan dan dibuat seolah tidur dengan laki-laki lain, setelah itu bangun dalam keadaan seorang diri di dalam kamar.


"Bianca menjebak ku. Tapi sampai sekarang aku belum tau alasan dia melakukan semua itu." Keluh Davina dengan helaan nafas berat. Akibat ulah Bianca, hubungan dia dengan Dave jadi memanas. Dave berubah membenci dan bersikap kasar padanya.


"Kamu masih ingat dengan kekasihku.?" Tanya Davina.


"Dia jadi membenciku karna berfikir aku benar-benar tidur dengan laki-laki lain dan mengkhianatinya." Nada bicara Davina terdengar putus asa.


Kejadian buruk ini membuat Davina ingin memutar waktu. Andai saja malam itu dia tidak datang menemui Bianca, pasti tak akan seperti ini akhirnya.

__ADS_1


Sejak tadi Arga hanya diam, namun raut wajahnya jelas menunjukan kalau dia sangat terkejut mendengar semua penuturan Davina.


"Jadi foto itu hanya rekayasa.?" Tanya Arga.


Dengan cepat merogoh ponsel miliknya dan membuka galeri.


"Foto.? Apa itu fotoku saat berada di kamar club.?" Tanya Davina penasaran. Dia sampai mencondongkan badannya karna tidak sabar melihat foto yang di maksud oleh Arga.


Arga mengangguk, dia kemudian menyodorkan layar ponselnya di depan wajah Davina.


"Bianca yang mengirimkan foto ini padaku." Ucapnya.


Kedua mata Davina membulat sempurna. Dia semakin terkejut dan penasaran. Entah apa sebenarnya motif dibalik semua ini. Rasanya tak ada untungnya bagi. Bianca melakukan penjebakan padanya jika akhirnya wanita itu mengakhiri hidup.


Davina memperhatikan foto itu dengan seksama. Menatap 2 foto yang diambil dari sudut yang berbeda. Bahkan kedua foto itu tak sama dengan foto yang ada di ponsel Dave.


"Apa yang Bianca katakan setelah mengirimkan foto itu.?" Tanya Davina penasaran.


"Seperti aku yang nggak bisa memiliki kamu, kamu juga nggak akan bisa memiliki Davina." Ucap Arga. Dia mengatakan pesan yang dikirimkan oleh Bianca sesaat setelah foto itu dikirimkan padanya.


Arga terlihat menarik nafas berat.


Dan menghitung usia kehamilan Bianca, rasa tak mungkin kalau dia yang menghamilinya.


"Aku mengakhiri hubungan dengannya karna dia ketahuan berselingkuh hingga hamil. Bukan karna pemer- kosaan yang dia ceritakan pada kamu."


"Tapi dia malah memaksaku untuk menikahinya."


Ada nada kekesalan dan tatapan kekecewaan dari sorot mata Arga.


"Yang aku butuhkan saat ini bukan permintaan maaf dari kamu Ga. Aku butuh kesaksian kamu untuk mengatakan kebenarannya pada kekasihku."


Pinta Davina. Saat ini keterangan dan bukti chat dari Bianca di ponsel Arga sangat dia butuhkan untuk meluruskan kesalahan pahaman yang terjadi.


"Jadi hubungan kamu dan laki-laki itu masih berlanjut.?" Tanya Arga. Dia harus menelan kekecewaan saat tau bahwa Davina masih memiliki hubungan dengan orang lain.


Davina hanya mengangguk tanpa menjawab. Dia juga tidak berani mengatakan kalau statusnya saat ini sudah menjadi seorang istri. Karna tak mau berita pernikahan itu heboh di kampusnya.


"Aku menyesal sudah mengkhianati kamu,,," Ucap Arga.

__ADS_1


"Seandainya,,,


"Saya menyuruhmu pulang tepat waktu." Suara tegas dan maskulin Dave, membuat Davina tersentak kaget dan langsung menoleh ke sumber suara.


"Oo,,om,, sejak kapan,,,


"Cepat pulang.!" Dave menggandeng tangan Davina dan menariknya agar beranjak dari duduknya.


"Tunggu dulu Om, ada hal penting yang harus Om dengarkan."


"Arga, tolong jelaskan padanya dan tunjukkan chat Bianca padanya,," Pintanya sembari menahan tubuh agar Dave tidak lagi menariknya untuk pergi.


"Sejak tadi dia duduk dibelakang kamu. Pasti dia sudah mendengarkan semuanya, aku rasa nggak perlu di jelaskan lagi."


Jawaban Arga membuat Davina semakin terkejut. Dia menatap Dave untuk meminta penjelasan. Namun bukannya membenarkan ucapan Arga, Dave justru menarik tangan Davina hingga membuat wanita itu terpaksa harus mengikuti langkah Dave.


"Jadi Om sudah lama duduk di dalam.?" Tanya Davina sambil menyeimbangkan langkah Dave menuju mobilnya yang terparkir di halaman kafe.


"Om sudah dengar semuanya bukan.? Aku nggak bohong. Aku memang di jebak oleh Bianca."


"Sekalipun malam itu aku nggak sadar, tapi aku berani bersumpah kalau aku dan Justin nggak melakukan hal itu." Tuturnya panjang lebar. Davina berharap Dave akan semakin percaya padanya dan menghapus kebencian yang dilemparkan Dave padanya.


Dave hanya diam saja dengan memasang wajah tegas. Dia menghentikan langkah di samping mobil dan membukakan pintu untuk Davina.


"Cepat masuk.!"


Davina menatap tajam. Kesal karna Dave tak mau mendengarkan penjelasannya, bahkan masih bersikap dingin padanya meski sudah tidak terlihat kebencian yang mendalam dari sorot matanya.


Malas berdebat, Davina memilih menuruti perintah Dave. Dia bergegas masuk ke mobil dan menutup pintu dengan kasar.


Membuang pandangan ke luar jendela tanpa berniat untuk menatap Dave yang kini sudah masuk kedalam mobil dan mulai melajukan mobilnya.


"Aku akan minta pada Papa untuk mengurus perceraian.!" Seru Davina tegas. Dia tak akan peduli lagi dengan perasaan cintanya pada Dave, daripada harus menjalani pernikahan menyakitkan seperti ini. Sepertinya Dave tak akan pernah isa percaya padanya.


Ucapan Davina membuat Dave menoleh dengan tatapan tajam. Dia terlihat tidak suka mendengar Davina mengucapkan kata cerai.


"Percuma saja aku berusaha mencari bukti tapi Om masih bersikap seperti ini padaku.!" Ketusnya, lalu kembali membuang pandangan keluar jendela.


Dan Dave masih saja diam tanpa memberikan komentar apapun. Hanya fokus mengendari mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2