
Flashback sebelum lahiran
"Apa sangat sakit.?" Mata Dave memerah, dia menahan tangis sejak tadi karna Davina terus meringis kesakitan setiap kali datang kontraksi.
Laki-laki itu tak mau beranjak sedikitpun dari samping istrinya, terus menggenggam tangan Davina.
Davina mengangguk. Mungkin ini yang di khawatirkan kedua orang tuanya kenapa dulu di minta untuk hamil dulu. Selain usianya yang masih terbilang sangat muda, dia juga belum terlalu siap menghadapi persalinan.
"Bagaimana kalau operasi saja.? Tidak harus cara normal kan untuk melahirkan.?" Tawar Dave. Dia sudah tidak tega melihat Davina tersiksa seperti itu.
"Tidak sayang, aku ingin melahirkan normal saja. Aku yakin bisa melakukannya." Namun meski terlihat tidak kuat menahan rasa sakit, Davina masih bersikeras untuk melahirkan secara normal.
"Tapi Dave benar nak, sebaiknya operasi saja dari pada harus menunggu terlalu lama dan kamu semakin kesakitan." Papa Edwin menimpali.
Dia setuju dengan usulan Dave, karna sebagai orang tua, Papa Edwin juga tak tega melihat putri sematawayangnya harus menahan sakit entah sampai kapan.
Davina baru pembukaan satu, dan masih harus melewati proses yang panjang untuk melahirkan normal. Bahkan sudah 1 jam di rumah sakit, pembukaannya belum bertambah.
"Tunggu 3 lagi Pah, kalau tidak apa kemajuan, aku tidak keberatan untuk operasi." Jawab Davina pada akhirnya. Dia juga enggan membuat semua orang mencemaskannya.
Tak lama Mama Sandra memberi kode pada Davina kalau Nabila dan Farrel sudah datang membawakan kue yang Davina minta.
Davina lalu menatap Dave yang masih setia duduk di samping ranjangnya.
__ADS_1
Tak punya pilihan lain, Davina meminta Mama Sandra untuk membawa mereka masuk.
Tidak masalah kalau harus gagal memberikan kejutan, yang terpenting masih bisa merayakan ulang tahun Dave bersama semua keluarganya.
Bahkan sekarang sudah jam 12 lewat 30 menit.
Mama Sandra akhirnya keluar dari ruangan itu dengan mengajak sang suami. Dia memberikan waktu pada Davina untuk berbicara pada Dave.
"Sayang,,," Davina menggenggam tangan Dave.
Tatapan dan nada bicaranya membuat Dave panik.
"Sakit lagi.?" Tanya Dave penuh kecemasan.
"Aku sangat bahagia menjadi bagian dalam hidupmu."
"Aku bahagia di cintai olehmu."
"Terimakasih untuk semua kebahagiaan dan cinta yang kamu berikan padaku." Air mata Davina luruh. Dia menumpahkan kebahagiaannya yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Sayang,, kamu ini kenapa.?" Dave di buat bingung karna tiba-tiba Davina mengungkapkan isi hatinya dengan kata-kata yang menyentuh.
Melihat pintu yang terbuka, Davina lantas mengarahkan jari telunjuknya untuk meminta Dave menatap ke arah pintu.
__ADS_1
Seketika Dave tak bisa berkata-kata melihat sang kakak memegang kue tart dengan lilin yang menyala di atasnya.
"Happy birthday Mas,," Ucap Davina.
"Maaf sedikit terlambat dan harus merayakannya di rumah sakit." Davina sedikit kecewa karna tidak sesuai dengan rencana yang sudah dia buat.
Dave langsung memeluk Davina dan mendaratkan kecupan di kening dan bibirnya.
"Terimakasih,, ini lebih dari cukup."
"Aku jauh lebih bahagia karna memiliki istri sepertimu." Air mata Dave akhirnya tumpah.
"Anak kita akan menjadi kado terindah di hari ulang tahunku." Dave mengusap perut Davina dan mengecupnya berulang kali.
"Selamat ulang tahun Dave."
Mama Sandra dan Papa Edwin juga mengucapkan selamat ulang tahun pada Dave, di susul dengan Farrel dan Nabila yang juga ikut memberinya selamat.
Kebahagiaan dan haru menjadi satu.
Info selingkuhan om tiri seasons 2 ganti judul "Lahirnya sang pewaris"
Jangan lupa mampir ke seasons 2 dengan judul "Lahirnya sang pewaris"
__ADS_1