
"Kenapa lagi Davina.? Apa ucapan saya kurang jelas.?" Tegur Dave. Pasalnya gadis itu masih saja gelisah, padahal sudah di beri pengertian untuk tidak ikut campur masalah orang lain. Sekalipun orang itu pernah sangat dekat dengannya.
Bukan tanpa alasan Dave melarang Davina untuk tidak membantu Bianca dan Arga bersatu. Dave tak mau Davina terseret dalam masalah mereka jika terjadi sesuatu pada Bianca.
Apalagi Bianca mengatakan akan menggugurkan kandungannya jika Arga tetap tak mau bertanggungjawab.
Jika itu benar-benar terjadi, maka sudah pasti nama Davina akan terseret.
Davina menatap Dave, kemudian menggeleng pelan.
"Bukan itu Om,," Katanya dengan suara yang sedikit merengek.
"Lalu.?" Dave mengerutkan keningnya. Terkadang memahami gadis kecil itu memang sulit.
"Aku nggak mau pulang sekarang, mau ikut Om aja ke kantor." Katanya dengan raut wajah berbinar.
"Boleh kan Om,,?" Ucapnya manja. Dia sampai bergelayut di lengan besar Dave, menatap pria itu dengan tatapan memohon.
Dave sempat menghela nafas berat sebelum akhirnya menganggukkan kepala. Dia mengijinkan Davina untuk ikut bersamanya ke kantor.
Davina tersenyum lebar, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya karna diijinkan ikut bersama Dave. Setidaknya rasa rindunya akan terobati dengan selalu berada di samping Dave.
...*****...
"Ingat, harus jaga sikap dan jaga jarak. Jangan membuat karyawan berfikir macam-macam.!" Tegas Dave memperingatkan.
Davina mengulas senyum sembari menganggukkan kepala.
"Siap Om.!" Serunya kemudian bergegas turun dari mobil Dave.
Dia menunggu Dave turun, kemudian berjalan di belakang Dave dengan jarak beberapa langkah.
Semua karyawan di kantor ini tau kalau Dave sudah bertunangan dengan Jasmine dan sebentar lagi acara pernikahan mereka akan di gelar. Dave tentu saja tak ingin membuat semua orang menaruh curiga padanya. Itu sebabnya dia mengingatkan Davina agar menjaga sikap dengan membatasi obrolan dan interaksi yang berlebihan saya ada orang lain.
Begitu memasuki gedung perkantoran itu, semua pasang mata tertuju pada keduanya. Tak ada yang menaruh curiga, namun tatapan mereka justru terlihat kagum melihat Dave bisa dekat dengan keponakan tirinya itu. Sedangkan selama ini Dave terkenal dingin dan tak banyak bicara hingga sulit dekat dengan siapapun.
Merasa menjadi pusat perhatian, Davina hanya mengukir senyum tipis pada mereka sambil terus mengikuti langkah tegap Dave.
Pria itu memang pantas di juluki manusia es. Dia tak membalas sapaan dan senyuman dari para pekerjanya. Berjalan begitu saja melewati mereka.
Dave membuka pintu ruang kerjanya, setelah itu menyuruh Davina untuk masuk lebih dulu. Dia menghampiri asisten pribadinya untuk bicara dengannya sebelum akhirnya menyusul Davina ke dalam.
Gadis itu masih berdiri, manik matanya mengitari setiap sudut ruang kerja Dave. Ruangan luas dengan design dan interior yang membuat suasana terasa nyaman.
"Duduk di sana dan jangan banyak bicara." Ucap Dave sembari menunjuk sofa yang ada di ruangannya.
__ADS_1
"Kalau mau minum ambil saja di lemari pendingin." Tuturnya kemudian bergegas duduk di kursi kerjanya dengan beberapa berkas yang sudah menunggu di atas meja.
"Ya ampun Om,, sekali saja jangan terlalu kaku padaku." Protes Davina sembari melangkahkan kaki menuju sofa yang tadi di tunjuk oleh Dave, lalu duduk di sana menghadap ke arah meja kerja Dave agar bisa memandangi wajah tampan itu.
Dave hanya melirik saja tanpa berniat menanggapi ucapan Davina karna menurutnya tidak penting membahas hal kecil seperti itu.
Melihat tak ada respon dari Dave dan pria itu sudah sibuk dengan pekerjaannya, Davina memilih diam meski harus memasang wajah cemberut.
Diusianya yang masih sangat muda, tentu saja Davina menginginkan gaya pacaran yang romantis. Saling mengungkapkan perasaan dan menunjukkan perhatian. Menghabiskan waktu berdua dengan membicarakan hal-hal yang menyenangkan.
"Kenapa pria dewasa berbeda,," Gumam Davina lirih. Manik matanya tak pernah lepas dari wajah tampan Dave yang semakin terlihat tampan saat sedang serius bekerja.
Sudah 1 jam berlalu. Dave masih disibukkan dengan pekerjaannya. Sedangkan Davina sudah bosan duduk berdiam diri memperhatikan Dave dan sesekali memainkan ponselnya.
Sampai akhirnya Davina beranjak dari duduknya dan memberanikan diri menghampiri Dave.
"Masih lama ya Om.?" Tanyanya setelah berdiri di samping Dave. Pria itu menoleh, mengalihkan perhatiannya dari layar laptop yang masih menyala.
"Kenapa.? Bosan.?" Ujar Dave. Davina mengangguk cepat sambil menunjukkan wajah cemberutnya.
Dave menarik pelan tangan Davina, menuntun gadis itu untuk duduk di pangkuannya.
"Saya belum bicara dengan Papa kamu mengenai pernikahan kita."
"Menurutmu, apa dia akan mengijinkanmu menikah.?" Tanya Dave lembut. Satu tangannya mengusap lembut punggungnya Davina.
"Emm,, mungkin kalau aku hamil, Papa akan menyetujuinya,," Sahut Davina cepat.
"Kamu nyuruh saya menghamili kamu.?" Tanya Dave tak habis pikir.
Dia terlihat kaget mendengar jawaban Davina. Entah bagaimana bisa Davina berfikir seperti itu. Dave rasa jika dia mengaku telah menghamili Davina, yang ada justru akan mendapat masalah besar. Sandra dan Edwin pasti akan menghajarnya sampai babak belur.
"Bukan hamil beneran Om, tapi pura-pura hamil,," Seru Davina. Entah darimana dia bisa mendapatkan ide gila itu. Memilih jalan menyesatkan agar sangat Papa mau menyetujui pernikahannya dengan Dave.
"Jangan coba-coba mengaku hamil di depan mereka.!"
"Kamu pikir mereka akan diam saja kalau mendengar saya menghamili kamu." Seru Dave kesal.
"Lalu harus bicara apa agar Papa langsung setuju.?" Davina jadi terlihat bingung dan ikut berfikir keras. Pasti tidak akan mudah mendapatkan ijin dari sang Papa untuk menikah sebelum menyelesaikan kuliahnya.
"Kita pikiran lagi nanti." Sahut Dave.
Tangannya yang berada di punggung Davina perlahan mulai bergerak ke depan. Mengusap perut rata Davina yang berbalut dress dengan model dress yang memiliki kancing di bagian depan.
"Om,, bagaimana kalau ada yang datang,," Davina mencegah tangan Dave yang mulai bergerak naik.
__ADS_1
"Memangnya siapa yang akan masuk dengan pintu terkunci." Jawab Dave santai.
Rupanya dia sudah mengunci pintu ruang kerjanya. Pantas saja dengan mudahnya menarik Davina untuk duduk di pangkuannya.
...****...
Davina bergegas turun dari mobil Dave dan lebih dulu masuk kedalam rumah.
Selain enggan terlihat berdua dengan Dave di depan kedua orang tuanya, Davina sebenarnya menahan kekesalan lantaran malam ini Dave dan Jasmine akan pergi makan malam berdua.
Suara manja Jasmine masih terdengar jelas di telinga Davina saat wanita itu sedang membujuk Dave agar mau pergi makan malam.
Yang membuat Davina semakin kesal, Dave tak berfikir lebih dulu sebelum mengangkat telfon dari Jasmine. Padahal saat itu dia dan Dave sedang berciuman.
"Davina,,," Panggil Dave. Dia berjalan cepat menyusul Davina yang sudah berada di lantai 2. Beruntung keadaan rumah sedang sepi. Tak ada Farrel ataupun Edwin dan Sandra di sana.
"Pergi saja sama Jasmine, aku nggak peduli." Seru Davina. Dia tak menoleh sedikitpun, terus berjalan cepat dan bergegas masuk ke kamar.
"Hubungan macam apa ini." Gerutu Davina sembari menutup pintu dan menguncinya.
Dia baru menyadari jika hubungannya dengan Dave bukanlah hubungan yang sehat.
Terlepas keseriusan Dave untuk Menikahinya, tetap saja hanya memberikan kekecewaan selama masih ada Jasmine.
"Kenapa aku bisa sebodoh ini, harusnya aku menjauh saat tau Om Dave sudah bertunangan."
"Bukan malah sebaliknya.!" Davina merutuki kebodohannya sendiri. Jika dia menjauh dan membiarkan Dave menyelesaikan masalahnya lebih dulu, mungkin tak akan seperti ini jadinya.
"Ya ampun,, apa lagi.!" Geramnya kesal, saat mendengar ponselnya berdering untuk kesekian kalinya sejak masih berada di perjalan pulang.
"Sudah aku bilang, aku nggak bisa bantu kamu Bi,," Seru Davina setelah mengangkat telfon dari Bianca.
"Aku mohon Vin, biarkan anak ini lahir dan hidup bersama ayahnya." Suara Bianca tercekat. Dia seperti sedang menangis.
"Aku nggak sanggup melenyapkan bayi ini,," Tangis Bianca pecah.
Davina terdiam, suara isak tangis Bianca membuat hatinya pilu. Dia seakan bisa merasakan kesedihan yang di alami oleh Bianca.
"Aku akan coba membujuk Arga." Ucap Davina sebelum memutuskan sambungan telfonnya.
...*...
...Novel berawal dari dendam di up ulang, jangan lupa masukin daftar favorit ya 😊....
...Ganti judul jadi "Penyesalan Balas Dendam"....
__ADS_1