
Davina menatap tak percaya pada layar besar di depannya. Di sana jelas ada kantung di dalam rahimnya. Kantung itu yang akan menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya darah daging Dave.
Usia kehamilan yang baru menginjak usia 4 minggu, membuat isi di dalam kantung itu belum terlihat jelas.
Awalnya dia menolak saat dokter pertama yang memeriksanya, menyarankan untuk memeriksakan diri ke dokter obgyn lantaran dari hasil pemeriksaan menunjukkan gejala kehamilan awal. Tapi Mama Sandra dan Papa Edwin langsung membawa Davina ke dokter obgyn untuk memastikan dugaan itu.
"Tapi dok,, bagaimana mungkin saya bisa hamil.? Sejak awal saya meminum pil penunda kehamilan." Tuturnya dengan rasa penasaran.
Davina tak menyangka kebiasaanya yang selalu muntah setiap pagi akhir-akhir ini, ternyata karna di dalam rahimnya sedang berkembang janin.
"Itu bisa saja terjadi, apalagi jika telat mengkonsumsi obat tersebut walaupun hanya telat meminumnya sehari." Jawabnya.
Davina langsung terdiam, seketika dia ingat
pernah tak meminum pil itu sekali.
Dia pikir jika hanya telat meminum sekali, tak akan membuatnya hamil.
"Davina, kenapa kamu melakukan semua itu sayang.?" Tanya Sandra. Dia sedikit sedih mendengar Davina yang ternyata sengaja menunda kehamilan.
Sementara itu, Edwin hanya bisa menarik nafas dalam. Kini dia tak akan lagi menuruti permintaan Davina untuk terus melanjutkan proses perceraiannya dengan Dave.
Edwin tak akan tega membiarkan Davina mengakhiri pernikahannya disaat sudah ada darah daging Dave.
"Maafkan aku Mah, Pah,," Davina menunduk sendu.
...****...
"Papa akan membatalkan gugatan perceraian kamu dsn Dave.! Dia harus bertanggungjawab atas anaknya." Tegas Edwin setelah mereka masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Tapi Pah, aku tetap ingin bercerai." Davina tidak setuju dengan keputusan sang Papa yang akan membatalkan perceraian itu.
"Bertanggungjawab atas anak ini bukan berarti aku dan Om Dave harus hidup bersama kan.? Banyak di luar sana yang masih bisa memberikan tanggungjawabnya terhadap anak meski sudah bercerai."
Perkataan Davina sontak membuat Edwin dan Sandra syok mendengarnya. Pemikiran seperti itu biasanya hanya untuk orang yang sudah dewasa dan mampu menghidupi dirinya tanpa bergantung pada orang lain. Mengakhiri rumah tangga dalam keadaan sudah memiliki anak juga bukan hal yang murah untuk di jalani.
Mengingat usia Davina yang baru 20 tahun, tentu Edwin tak akan membiarkan Davina melewati semua kesulitan itu. Walaupun dia masih kecewa dengan menantunya, tapi mana mungkin Edwin bisa melihat putrinya menjadi single parent di usia muda.
"Menjadi orang tua tunggal tidak mudah sayang, Papa tidak akan membiarkan kamu mengalami semua kesulitan itu." Ucap Edwin.
Nyatanya memang seperti itu, karna Edwin juga mengalami hal serupa selama 8 tahun lamanya menjadi single parent dan itu tidak mudah di jalani.
"Papa akan telfon Dave agar dia datang ke rumah. Dave harus tau tentang kehamilan kamu." Tegas Edwin.
Davina menggeleng cepat, dia tidak setuju dengan keputusan sang Papa yang akan memberitahukan kehamilan itu pada Dave secepatnya.
"Baik Pah, aku tidak keberatan untuk membatalkan gugatannya. Tapi aku mohon jangan beri tau Om Dave tentang kehamilanku secepat ini. Aku masih butuh waktu sendiri. Biarkan aku yang memberi taunya nanti." Pinta Davina dengan tatapan memohon. Wajah sendunya membuat Edwin menarik nafas dalam. Dia diam sejenak sampai akhirnya mengangguk setuju menuruti permintaan Davina.
...****...
"Kamu sudah mengganti baju dan parfummu.?!" Teriak Dave.
"Sudah Tuan. Saya baru saja membeli parfum yang Tuan rekomendasikan." Raka menjawab sembari menahan kekesalan. Dia sudah 3 kali mengganti setelan jasnya lantaran Dave terus mual setiap kali dia ada di dekatnya. Padahal dia sudah mengganti parfumnya, meski masih dengan merk yang sama.
Sampai akhirnya Dave menyuruh Raka untuk mengganti baju kerjanya lagi serta mengganti merk parfumnya seperti merk parfum yang di pakai oleh Dave.
Jadi dari pagi sampai pukul 12 siang, Raka hanya dibuat mondar-mandir pulang ke apartemen dan ke mall untuk membeli parfum.
Mengetahui Raka sudah mengganti parfumnya, perlahan Dave mulai membuka hidung.
__ADS_1
Dia menghirup perlahan dan merasakan aroma yang menguar di dalam ruangan setelah Raka masuk.
Merasa jika tidak ada yang aneh dengan aroma tubuh Raka, Dave langsung bernafas lega.
Akhirnya dia tidak merasakan mual yang menyiksa lagi.
"Apa saya sudah boleh kesitu.?" Tanya Raka hati-hati. Dia meminta ijin untuk mendekat ke meja Dave.
Anggukan Dave langsung membuat Raka mendekat sembari membawa makan siang yang di pesan oleh Dave.
"Ini makan siangnya,," Raka menyodorkan makanan yang dia beli di salah satu restoran mall. Dia meletakkannya di atas meja Dave.
"Aku belum ingin makan, tolong bawakan eskrim vanila dan strawberry." Pinta Dave dengan entengnya. Dia menyingkirkan box makanan itu ke samping karna perutnya terasa tidak enak saat melihat box makanan itu.
"Es krim.? Tapi bukannya Tuan Dave tidak suka es,,,
"Jangan membuat saya mengulangi ucapan yang sama. Bawakan saja apa yang saya minta." Tegas Dave.
Tanpa memberikan protes lagi, Raka langsung pamit dan keluar dari ruangan Dave untuk membeli es krim yang di minta olehnya.
Hari ini dia dibuat emosi dengan perubahan sikap Dave yang aneh. Begitu juga dengan permintaannya yang tak biasa.
"Sial.!! Ada apa dengan perutku ini.!" Gerutu Dave geram. Dia bahkan bingung dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba merasa mual, lalu hilang begitu saja dan kembali mual lagi hanya karna melihat atau mencium aroma tertentu.
Dan sekarang tiba-tiba dia ingin memakan es krim. Makanan yang tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, lalu membuatnya ingin segera menyantap es krim itu.
Dave beranjak dari meja kerjanya dengan membawa box makanan yang tadi di bawakan oleh Raka. Dave memindahkan makanan itu di meja yang lain karna tidak bisa melihatnya dari jarak dekat. Lantaran akan membuat perutnya terasa mual.
...****...
__ADS_1
...Jangan lupa di VOTE, wajib vote disini pokoknya 🤣...