Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 110


__ADS_3

Dave sesekali melirik Davina yang hanya diam saja menghadap ke luar jendela. Wajah cemberut Davina menarik perhatian Dave lantaran sangat menggemaskan. Karna ketika sedang cemberut, Davina terlihat seperti remaja belasan tahun.


"Temen kamu lucu-lucu, pantesan kamu juga lucu." Suara datar Dave memecah keheningan. Dia mencari bahan pembicaraan agar Davina tidak diam saja.


Davina menatap ke arah Dave.


"Yang bilang sugar daddy jauh lebih lucu dari ku. Om mau kenalan sama dia.?" Tanya Davina dengan nada bicara datar dan santai. Meski begitu, Dave bisa melihat kecemburuan di mata Davina.


"Sugar daddy.? Siapa yang bilang seperti itu.?" Dave menautkan alisnya. Dia memang tidak mendengar saat Silvia menyematkan nama pada Dave dengan sebutan sugar daddy.


"Makanya aku tawarin ke Om buat kenalan sama dia, biar Om tau siapa orangnya." Davina menjawab datar.


"Memangnya dia tertarik sama Om-Om.?"


"Kalau begitu ajak saja temanmu itu ke apartemen ku." Ujar Dave.


Melihat Davina yang tidak mau mengungkapkan kecemburuannya, membuat Dave berfikir untuk meladeni perkataan Davina agar istrinya itu semakin menunjukkan kecemburuannya.


Dan rencana Dave sepertinya berhasil. Davina langsung melotot tajam pada Dave dengan bibir yang semakin mengerucut kesal.


"Om.!!" Nada bicara Davina terdengar merengek manja namun tetap bercampur kekesalan. Tangannya sampai reflek memukul lengan Dave setelah mendengar Dave menyuruh untuk membawa Silvia ke apartemen.


"Kenapa.? Bukannya kamu sendiri yang menyuruhku untuk berkenalan."


"Aku tidak punya waktu kalau harus berkenalan di luar, jadi lebih baik teman kamu saja yang datang ke apartemen." Dave semakin menjadi untuk menyalakan api kecemburuan di hati Davina.


Karna Dave sangat yakin jika Davina masih sangat mencintainya. Hanya saja Davina berusaha untuk menutup perasaan itu dengan luka dan rasa sakit yang di torehkan oleh Dave.


"Dasar menyebalkan.!" Sinis Davina kesal.


Dave hanya mengulum senyum melihat Davina membuang wajah ke arah jendela lantaran semakin kesal dan menahan cemburu.

__ADS_1


...***...


"Kenapa ke sini.?" Tanya Davina yang baru menyadari kalau Dave membelokkan mobilnya ke kawasan apartemen.


"Ada dokumen penting dan setelan jas yang harus aku ambil untuk rapat besok." Jawab Dave.


Dia melirik cemas ke arah Davina, takut istrinya itu akan semakin marah karena di bawa ke apartemen.


Davina hanya diam, dia tampak sedang berfikir.


"Kamu keberatan pergi ke apartemen.?"


Davina menggelengkan kepala.


"Tidak, tapi jangan lama-lama." Pintanya. Dia seakan sudah bisa membaca bahaya apa saja yang akan mengintainya saat berada di dalam apartemen bersama Dave.


Mengetahui Davina tidak keberatan, Dave terlihat mengukir senyum tipis. Kesempatan untuk memperbaiki hubungan akan dimulai meski harus dengan sedikit paksaan. Mengingat sampai detik ini Davina belum juga luluh padanya.


"Kenapa duduk di situ.?" Dave menegur Davina yang duduk di ruang tamu begitu masuk ke dalam apartemen. Padahal dia sudah berharap Davina akan ikut ke kamar untuk membantunya menyiapkan baju kerja yang akan di bawa. Tapi rupanya istrinya itu tidak peka, atau justru memang sengaja tidak mau membantunya.


"Buruan Om ambil dokumen sama bajunya. Jangan lama-lama,," Davina menyuruh Dave untuk buru-buru. Dia seperti takut berlama-lama di apartemen hanya berdua dengan Dave.


Dave terlihat menarik nafas berat. Kemudian beranjak dari ruang tamu sambil berfikir apa yang harus dia lakukan untuk membuat Davina mau masuk ke dalam kamar.


Sudut bibir Dave terangkat, dia mengukir senyum smirk setelah mendapatkan ide untuk membuat Davina masuk ke dalam kamarnya.


Sampainya di kamar, Dave mengambil vas bunga di atas meja. Dia tersenyum geli menatap vas bunga yang rencananya akan dia lempar ke lantai agar menimbulkan suara keras untuk menarik perhatian Davina. Dengan begitu, Dave berharap Davina akan masuk ke kandang buaya.


Dave langsung membanting vas bunga itu tanpa menunggu lama. Dia membiarkan pintu kamar setengah terbuka dan berdiri di belakang pintu.


"Om.??!! Suara apa itu.?!!" Teriak Davina. Dia tak lagi berada di ruang tamu, tapi sudah beranjak dari sana begitu mendengar suara benda yang pecah.

__ADS_1


"Om Dave.??!!" Davina terlihat semakin panik.


Tanpa pikir panjang langsung pergi ke kamar Dave karna takut terjadi sesuatu pada pria itu.


"Om,,? Om ada di dalam?" Davina mengamati seluruh kamar sebelum benar-benar masuk ke dalam. Dia terkejut melihat bunga dan serpihan vas yang berserakan di lantai.


"Om Dave dimana.?" Suara Davina sedikit bergetar, dia memberanikan diri masuk ke dalam kamar untuk mencari keberadaan Dave yang sampai saat tidak bersuara.


Melihat Davina yang sudah jauh melewati pintu masuk, Dave segera menutup pintu dengan perlahan dan menguncinya.


"Om,, jangan bercanda. Om di mana,,?!" Seru Davina. Dia tidak menyadari kalau pintu kamar sudah di kunci, dan seseorang tengah berjalan hati-hati di belakangnya.


"Aku di di sini,," Jawab Dave sembari memeluk Davina dari belakang.


"Apa kamu mencemaskanku.?" Dave terlihat bahagia mengetahui reaksi panik yang di tunjukkan oleh Davina.


"Ya ampun Om.!!" Antara kaget dan kesal, Davina memberontak dari dekapan Dave untuk lepas darinya.


"Jangan terlalu lama membuatku gila. Kamu tidak mau bukan kalau aku benar-benar menjadi sugar daddy.?" Meski berucap dengan santai, namun kalimat itu seolah menjadi ancaman bagi Davina. Apa lagi dia langsung teringat pada Silvia yang kecentilan pada Dave sampai menyebut Dave seperti sugar daddy.


"Aku tidak salah jika memaksamu bermain. Tidak ada suami yang di laporkan ke polisi atas tuduhan pemerkosaan terhadap istrinya sendiri." Tutur Dave. Tangannya mulai merambat kemana-mana. menggerayangi bagian depan Davina.


"Aku akan teriak kalau Om memaksa." Ancam Davina. Dave hanya tersenyum santai.


"Kalau di rumah mungkin teriakan kamu akan membantu, tapi di sini siapa yang akan mendengarnya.? Hanya ada kita berdua." Bisik Dave. Dia mulai liar dengan menggigit kecil telinga Davina dan tangannya meremas salah satu benda favoritnya.


"Om.!!" Tegur Davina.


"Aku yakin kamu juga suka seperti ini,," Jawab Dave. Dia tak menghiraukan teguran Davina, malah semakin menjadi dengan menjelajahi tengkuk Davina menggunakan bibirnya. Dan kedua tangan yang tak bisa dikendalikan setelah sekian lama menganggur.


...***...

__ADS_1


Give away di novel Penyesalan Balas Dendam masih berlaku sampai besok😊.


Jangan lupa komen di sana ya (bab giveaway). Pengumuman tanggal 1.


__ADS_2