
Keluar dari mobil, Davina membuntuti langkah Farrel di belakang. Gadis itu terlihat ragu untuk menuruti ajakan Farrel. Takut kalau kedatangannya ke apartemen Dave di ketahui oleh Papa Edwin dan akan membuat keadaan semakin kacau. Papa Edwin sudah memperingatkan Davina untuk tidak bertemu atau berkomunikasi dengan Dave selama waktu yang dia tentukan. Setidaknya sampai Dave jera dengan apa yang sudah dia perbuat pada Davina.
Mengabulkan permohonan Davina untuk tidak mengajukan gugatan cerai, bukan berarti Edwin akan kembali melepas putrinya begitu saja pada Dave. Karna Papa Edwin bilang pada Davina akan selalu mengawasi kehidupan rumah tangannya ke depan. Sang Papa juga berpesan agar Davina langsung bercerita padanya jika suatu saat Dave kembali bersikap kasar padanya.
"Bagaimana kalau ternyata Papa menyuruh orang untuk membuntutiku,," Batin Davina cemas. Seketika dia menghentikan langkah dan mengamati keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang mencurigakan di sana.
"Kenapa berhenti.? Ayo buruan." Farrel menghampiri Davina, menggandeng tangan saudara tirinya itu dan mengajaknya kembali berjalan.
"Nggak usah takut, aku nggak bakal ngaduin ke Papa." Ujarnya. Farrel bisa melihat dengan jelas kecemasan dan ketakutan dari raut wajah Davina.
"Bukan itu masalahnya. Bagaimana kalau Papa menyuruh orang untuk mengikutiku.?" Kata Davina sambil terus memperhatikan sekeliling.
"Papa sudah percaya sepenuhnya padaku untuk menjaga dan mengawasi kamu. Jadi nggak mungkin kalau mengirim mata-mata." Jawab Farrel sembari meyakinkan Davina.
Lagipula dia juga tidak mendengar ada pembicaraan tentang menyuruh seseorang untuk mengawasi Davina.
Kini keduanya sudah sampai di depan pintu apartemen Dave. Saat Farrel akan menekan bel, pintu apartemen itu sudah lebih dulu di buka oleh Dave. Pandangan mata tajam itu langsung mengarah pada sosok gadis cantik di samping Farrel. Menatap dalam penuh kerinduan.
Memperhatikan dari ujung kaki sampai kepala.
"Ck,,ck,,ck. Sepertinya ada yang rindu berat sampai sudah menunggu di belakang pintu." Sindir Farrel. Dia tak habis pikir dengan Om nya yang dingin dan ketus itu, ternyata jauh lebih parah darinya ketika sedang dimabuk cinta.
Dilihat dari Dave yang buru-buru membuka pintu dan caranya menatap Davina, Farrel bisa melihat sepenting apa Davina bagi Om nya itu.
"Masuk," Ucap Dave datar. Menyuruh Davina masuk ke dalam apartemen sembari menggerakkan kepala.
Davin terlihat ragu untuk masuk, beberapa saat masih diam di tempat sampai akhirnya Dave kembali memberikan isyarat padanya untuk segera masuk.
"Buru-buru amat Om.! Ini masih pagi, jangan terobos gawang dulu. Paling nggak nunggu siang dulu,," Ledek Farrel. Dia menatap geli dengan menahan senyum mengejek.
"Kak, jangan bisa sama Papa,,," Pinta Davina. Dia memegang lengan Farrel dengan tatapan memohon.
"Saya bilang masuk." Tegas Dave sambil melepaskan tangan Davina dari lengan Farrel.
Pria itu terlihat tidak suka saat Davina bersentuhan dengan Farrel.
"Sudah sana masuk, jangan sampai ada singa ngamuk."
__ADS_1
"Aku nggak akan bilang sama Papa." Ucap Farrel meyakinkan.
Setelah mendengar ucapan Farrel, Davina baru berani masuk ke apartemen.
"Om, jangan lupa di transfer secepatnya,," Kata Farrel. Senyumnya mengembang sempurna. Bagaimana tidak, selain rahasianya aman, Dave juga menjanjikan sejumlah uang yang nominalnya tidak main-main jika dia bersedia bekerjasama dengannya untuk membawa Davina ke apartemen.
"Hmm.!" Dave hanya berdehem.
"Cepat pergi.!" Serunya. Kemudian langsung menutup pintu apartemen. Tidak memperdulikan Farrel yang terlihat masih ingin mengatakan sesuatu padanya.
Farrel tentu saja membulatkan mata saat melihat Dave menutup pintu dan terdengar menguncinya.
Sudah di bantu membawa Davina ke hadapannya, bukannya mengatakan terimakasih, tapi malah buru-buru mengusirnya.
"Dasar Om sia-lan,,!!" Umpat Farrel geram.
"Kalau bukan ancaman dan uang, mana mungkin aku mau membantunya.!" Farrel menggerutu, meluapkan kekesalannya pada Dave yang selalu menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Termasuk dengan cara mengancamnya.
...****...
Davina sedikit kaget saat tiba-tiba Dave memeluknya dari belakang. Kedua tangan besar itu melingkar di perut Davina, mendekap erat. Meletakkan dagu di pundak Davina dan menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya. Dave sampai memejamkan mata, merasakan aroma parfum yang menguar dari tubuh Davina. Aroma itu seketika mampu mengobati kerinduan yang menggebu. Hanya dengan memeluk dan merasakan aroma tubuh Davina, kerinduan itu tak lagi terasa menyiksa.
Tapi sepertinya Dave tak mau melepaskan pelukannya.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja." Kata Dave sembari mengeratkan pelukannya. Dia meminta Davina untuk tetap diam karna masih ingin memeluknya.
Hening, tak ada suara apapun dan hanya terdengar suara hembusan nafas keduanya yang teratur.
Cukup lama Dave mempertahankan posisinya memeluk Davina, setelah itu melepaskan pelukan dan menggiring Davina untuk duduk di sofa.
"Aku harus kuliah Om. Om juga mau ke kantor kan.?" Tanya Davina. Melihat Dave yang sudah rapi dengan setelan jasnya, sudah pasti pria itu akan berangkat ke kantor.
Dave menatap arloji di tangannya.
"Saya harus berangkat keluar kota." Tutur Dave.
Dia menarik tangan Davina dan menyuruh gadis itu untuk duduk di pangkuannya karna sejak tadi hanya berdiri di depannya.
__ADS_1
Davina menurut tanpa bisa menolak.
"Keluar kota.? Sampai kapan.?" Tanyanya cepat. Raut wajahnya berubah serius menatap Dave. Tiba-tiba merasa sedih saat Dave mengatakan akan pergi keluar kota.
Selama ini Davina tidak pernah mendengar Dave pergi ke luar kota. Davina hanya tau kalau Dave pernah pergi keluar negeri, itupun karna Jasmine.
"Hanya 4 hari." Sahut Dave. Sebelah tangannya mengusap kepala hingga turun ke punggung.
"4 hari.??!" seru Davina. Tatapan matanya terlihat sendu. Selama 4 hari itu dia tidak akan bisa bertemu dengan Dave. Membayangkannya saja terasa sangat lama.
"Kenapa harus selama itu.?" Davina protes tanpa sadar. Ekspresi wajahnya membuat Dave mengulum senyum. Dia jadi bisa merasakan kalau gadis cantik itu tak bisa lama-lama jauh darinya. Sama seperti dirinya yang juga tidak bisa jauh dari istri menggemaskan itu.
"Lebih lama mana dari hukuman Papa kamu.?" Tanya Dave pelan.
"Kenapa harus menunggu 3 bulan untuk boleh menemui kamu." Keluhnya.
Dia sudah tau rencana Papa Edwin yang melarang dia dan Devina untuk saling bertemu selama 3 bulan.
Sudah pasti hal itu akan sulit bagi Dave untuk tidak di langgar. Itu sebabnya dia memperalat Farrel agar tetap bisa bertemu secara diam-diam dengan Davina.
Tapi meski Papa Edwin melarangnya bertemu dengan Davin, Dave masih bisa bersyukur karna Papa Edwin tidak jadi memisahkan dia dengan Davina.
"Jadi Om sudah tau.?" Tanya Davina heran. Dia sampai sedikit memundurkan badannya.
Dave mengangguk sembari mendekap tubuh Davina agar lebih menempel di pangkuannya.
"Saya akan menerima hukuman dari Papa kamu." Lirih Dave. Tatapan matanya semakin dalam seiring dengan wajahnya yang terus mendekat dan sedetik kemudian sudah memagut lembut bibir Davina. Menumpahkan kerinduan pada gadis cantik itu.
Cukup lama tanpa ada balasan dari Davina, Dave melepaskan perlahan pagutan bibirnya. Mengusap bibir Davina yang sedikit basar sambil melemparkan tatapan dalam pada wajah Davina yang merona.
"Tapi sekarang Om membawaku kesini," Ujar Davina. Dave bilang akan menerima hukuman itu, tapi baru sehari sudah membawanya datang ke apartemen.
"Nggak berlaku kalau kita bertemu diam-diam tanpa sepengetahuan Papa kamu."
"Selama 3 bulan Papa kamu nggak melihat kita bertemu, itu artinya hukuman selesai." Tutur Dave dengan nada bicara yang tenang.
"Saya akan antar kamu ke kampus." Dave langsung menurunkan Davina. Gadis nampak diam dalam kebingungan. Bingung harus menuruti perkataan sang Papa, atau menuruti keinginan Dave untuk bertemu secara sembunyi-sembunyi.
__ADS_1
Davina jadi merasa masih menjadi selingkuhan Dave, karna walaupun sudah menikah, dia dan Dave harus mengatur waktu bertemu agar tidak ketahuan.