Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 45


__ADS_3

Davina baru saja selesai memakai gaun pengantin yang di pilihkan oleh Dave. Gaun berwarna putih itu lebih tertutup dibanding dengan gaun yang sempat ingin di pilih oleh Davina. Dava sengaja memilihkan gaun yang tidak menunjukkan belahan dada dan punggung Davina.


Memangnya siapa yang rela tubuh wanitanya menjadi konsumsi mata para lelaki.


Berlebihan memang, tapi itulah Dave. Hanya dia yang boleh melihat semua itu.


"Om,,," Davina mengibaskan tangannya di depan wajah Dave. Laki-laki itu kedapatan melamun sejak Davina keluar dari ruang ganti. Soroti mata dan raut wajahnya terlihat kagum dengan kecantikan yang di pancarkan oleh Davina dengan balutan gaun pengantin.


Bahkan tanpa riasan di wajah dan rambutnya, Davina tetap terlihat sangat cantik.


Tak heran jika Dave terpesona melihat gadis kecilnya itu.


"Hemm. Ada apa,,?" Tanya Dave. Tiba-tiba ekspresi wajahnya datar seperti biasa. Pria itu seperti enggan menunjukkan kekagumannya di depan Davina, bersikap santai seolah-olah perasaannya terhadap Davina tak jauh lebih besar dibanding dengan perasaan Davina padanya.


"Bagaimana,, bagus nggak Om.?" Davina meminta pendapat Dave sembari memutar tubuhnya. Memasang wajah menggemaskan yang membuat Davina terlihat jauh lebih muda dari usianya.


Dave mengangguk cepat.


"Itu jauh lebih baik daripada gaun yang kamu tunjuk." Komentar Dave dengan suara datar.


Davina memasang wajah cemberut. Dia tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Dave. Tak ada pujian untuk dirinya sama sekali, padahal dia sangat berharap Dave akan memujinya. Paling tidak, memuji dengan mengatakan "kamu cantik memakai gaun itu."


Tapi ekspektasi Davina terlalu tinggi di tujukan untuk manusia es itu. Memangnya sejak kapan Dave bisa memuji atau mengucapkan kata-kata romantis.


"Hanya itu saja.? Nggak ada komentar yang lain.?" Tanya Davina. Dia sedikit mendesak, berharap Dave mengerti maksud ucapannya.


"Memangnya kamu ingin saya berkomentar apa.?" Dave balik bertanya. Pria itu memang tidak peka sama sekali. Tak paham bagaimana caranya menyenangkan hati wanita walau hanya dengan sebuah ucapan sederhana.


"Iisshh,,, percuma saja bicara dengan Om." Davina berdecak kesal.


"Yasudah yang ini saja. Aku mau lepas gaunnya." Ujar Davina sedikit menggerutu. Dia menatap pelayan butik, memberikan kode pada pelayan itu agar kembali membantunya di dalam ruang ganti.


Sembari mengangkat ekor gaun, Davina berjalan kesal menuju ruang ganti dengan sedikit menghentakkan kakinya. Kesal karna tak mendapat pujian apapun dari Dave.


"Biar saja saya." Ucap Dave pada pelayan yang hendak mengikuti langkah Davina.


"Baik tuan,," Pelayan itu membungkuk sopan, dia membiarkan Dave yang menyusul Davina ke ruang ganti.


"Apa semua laki-laki dewasa seperti itu.?" Gerutu Davina sambil terus berjalan. Dia bermaksud berbicara dengan pelayan butik yang akan membantunya melepaskan gaun.


"Kenapa sulit sekali mengungkapkan perasaan. Bahkan untuk memuji saja terasa berat.!"


"Mba tau,,? Aku nggak akan mau menikah secepat ini kalau bukan karna pria tampan itu.!"

__ADS_1


"Mba lihat sendiri bukan.? Calon suamiku sangat tampan. Tapi sayang dia juga menyebalkan.!"


"Rasanya aku ingin meninju mulutnya agar mau bicara romantis padaku.!" Geram Davina dengan kekesalan yang semakin meluap. Dia membuka pintu ruang ganti dengan kasar, lalu bergegas masuk.


Dave sampai mengerutkan keningnya mendengarkan ocehan Davina yang mencari maki dirinya bahkan berniat ingin meninjunya.


Gadis kecilnya itu memang berbeda, tak seperti kebanyakan wanita yang dia temui selama ini.


"Kamu mau meninju saya.? Coba saja kalau berani.!" Tegas Dave. Bersamaan dengan itu, dia menutup pintu dan menguncinya.


Davina langsung menoleh, dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Dave. Gadis itu sampai menelan saliva. Kini dia merutuki dirinya sendiri karna baru saja mencaci maki Dave yang rupanya mengikutinya sejak tadi.


"O,,,oom,,, bagaimana Om Dave bisa ikut kesini,,?" Tanya Davina gugup. Dia berjalan mudur, seiring dengan Dave yang berjalan mendekat ke arahnya.


Ekspresi wajah Dave membuat Davina berfikir macam-macam. Dia sangat yakin Dave akan melakukan sesuatu padanya. Apa lagi kalau bukan sesuatu yang berhubungan dengan kontak fisik.


"Ja,,jangan macam-macam Om,, ini tempat umum." Ucap Davina. Dia berusaha mengingatkan Dave jika saat ini mereka sedang berada di butik.


"Kemari,,!" Pinta Dave tegas.


"Nggak mau,!" Davina reflek menggelengkan kepala. Dia takut Dave akan berbuat nekat di tempat umum. Mau ditaruh dimana wajahnya jika ketahuan berbuat mesum di butik ini.


"Mending Om Dave keluar saja, terus panggilkan pelayan yang tadi." Ujar Davina.


"Saya nggak akan mengulangi ucapan saya, Davina.!" Tegas Dave. Soroti matanya tajam, perintahnya enggan di bantah.


Meski takut, Davina akhirnya berjalan mendekat. Rupanya dia lebih takut Dave marah padanya dibanding ketahuan berbuat mesum di tempat umum.


"Janji jangan macam-macam ya Om, ini bukan di rumah,," Pinta Davina memohon. Dave acuh saja, tak menanggapi ucapan Davina.


Begitu gadis itu berdiri di hadapannya, sebelah tangan Dave langsung menarik pinggang Davina dan membuat gadis itu berada dalam dekapannya.


Kali ini bukan hanya sebelah tangan Dave, kedua tangannya sudah mendekap erat tubuh Davina. Berada tepat di punggung Davina dan perlahan bergerak naik.


Gadis dalam pelukan Dave hanya diam saja. Dia tak mau bereaksi apapun karna takut Dave akan semakin tak terkendali.


"Srrreettttt,,,"


Suara resleting gaun yang diturunkan oleh Dave, terdengar menggema di dalam ruangan yang sunyi itu.


"Cepat lepas gaunnya, aku harus kembali ke kantor sekarang." Ucap Rave datar.


Dia kemudian melepaskan pelukannya setelah menurunkan resleting gaun Davina.

__ADS_1


Gadis itu sampai bengong dengan wajah yang merona karna malu. Dia sudah berfikir macam-macam pada Dave, tapi ternyata pria itu hanya ingin membantunya melepaskan gaun.


"Jangan bengong Davina, ayo buruan." Tegur Dave.


Dia mengambil baju milik Davina yang di gantung. Lalu kembali mendekati gadis itu.


"Apa yang kamu pikirkan.?!" Kata Dave sembari mengetuk kening Davina dengan telunjuknya.


Davina hanya menggeleng saja, kemudian bergegas melepaskan gaun yang melekat di tubuhnya. Setelah itu memakai baju miliknya yang ada di tangan Dave.


...****...


"Siapa.?" Tanya Dave setelah Davina mematikan sambungan telfonnya.


"Bianca. Sahabat yang ngambil Arga dari aku,," Tutur Davina sembari memasukkan kembali ponselnya kedalam tas.


Dave mengukir senyum kecut mendengar jawaban Davina. Dia kemudian melajukan mobilnya meninggalkan butik.


"Untuk apa dia menelfon kamu." Tanya Dave lagi. Sebenernya dia paling malas untuk ikut campur urusan orang lain, bahkan tak tertarik sedikitpun untuk ingin tau. Tapi melihat gelagat Davina yang gelisah dan terus diam sejak menerima telfon, Dave jadi penasaran. Dia ingin tau apa yang membuat Davina gelisah seperti itu.


"Bianca hamil, tapi Arga nggak mau tanggung jawab." Ujarnya sembari menatap Dave.


"Dia bilang, lebih baik menggugurkan kandungannya daripada anak itu lahir tanpa seorang ayah." Tuturnya lagi dengan raut wajah sendu.


"Lalu apa yang membuat kamu gelisah.?"


"Itu bukan urusan kamu, untuk apa dipikirkan." Tegas Dave.


"Tapi Om, anak itu nggak bersalah kan.? Kasihan kalau harus di gugurkan."


"Aku harus membantu Bianca agar Arga mau tanggung jawab."


Sebesar apapun luka yang pernah ditorehkan oleh Bianca dan Arga padanya, tak lantas membuat Davina berbuat keji pada dua orang itu. Dia masih tetap peduli dan ingin membantu Bianca menyelesaikan masalahnya.


"Untuk apa membantunya, biarkan saja dia mengambil jalan sendiri."


"Mau di gugurkan atau nggak, itu bukan urusan kamu. Jadi berhenti memikirkan orang lain." Tegas Dave. Dia tidak setuju Davina berurusan lagi dengan dua pengkhianat itu.


"Lebih baik pikirkan bagaimana caranya menyenangkan hati suami. Ingat, kamu akan menikah sebentar lagi.!" Ucap Dave penuh penekanan.


...**...


...Penyesalan Balas Dendam...

__ADS_1



__ADS_2