Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 47


__ADS_3

Davina baru keluar dari kamar saat jam makan malam. Dia bergegas pergi ke ruang makan setelah di panggil oleh Mama Sandra untuk bergabung.


Begitu sampai di ruang makan, perhatian semua orang langsung tertuju padanya.


Terutama Papa Edwin dan Mama Sandra memberikan tatapan yang sulit di artikan. Davina sampai diam di tempat, berusaha membaca arti tatapan itu. Davina merasa tatapan mereka seolah mengerti sesuatu yang ia sembunyikan.


Sementara itu, Dave hanya menatap teduh. Sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum tipis yang tak di sadari oleh Davina.


"Malam Mah, Pah,,," Sapa Davina untuk memecah keheningan.


"Dimana kak Farrel.?" Tanya sembari duduk di sebelah Dave dengan jarak 1 kursi.


"Farrel baru saja pergi. Dia bilang mau makan malam sama teman kamu." Jawab Sandra.


Davina melongo, teman mana yang di maksud Farrel.?


Seingat Davina, dia baru mengenalkan satu temannya pada Farrel. Teman yang dia suruh untuk menemani Farrel berkeliling di kampus tadi pagi.


Tapi apa mungkin Farrel pergi makan malam dengannya.? Mengingat teman Davina yang satu itu tak pernah mau di ajak pergi oleh laki-laki.


Belum berakhir rasa penasaran dan keterkejutan Davina, kini dia semakin dibuat terkejut dengan perlakuan Dave.


"Aku pergi dulu Mas, Kak,," Pamit Dave sembari beranjak dari duduknya. Dia lalu sedikit bergeser, mendekat ke kursi Davina dan mengusap lembut pucuk kepala gadis itu dengan memberikan tatapan penuh kelembutan.


"Makan yang banyak,," Ucap Dave pelan.


Davina mendongak, menatap Dave dengan mulut yang semakin terbuka lebar. Dia di buat bengong lantaran kaget dengan perlakuan Dave di depan Papa Edwin dan Mama Sandra. Entah bagaimana Dave berani menyentuhnya di depan mereka. Sementara itu, mereka juga tak terlihat kaget sama sekali. Hanya diam menatap Davina dan Dave dengan senyum tipis.


"Jangan pulang larut Dave,," Pinta Sandra. Dave mengangguk patuh. Dia juga tak mungkin pergi lama-lama dengan Jasmine. Selain menghindari hal buruk yang mungkin saja akan terjadi, Dave juga tidak bisa berlama-lama meninggalkan Davina yang sedang kesal padanya.


Davina hanya diam saja, tak menjawab ucapan Dave dan membiarkan pria itu berlalu dari ruang makan tanpa mencegahnya meski hati kecilnya tak rela membiarkan Dave pergi bersama Jasmine.


"Ayo makan sayang,,," Ujar Mama Sandra pada Davina.


"Iya Mah,,,"


"Bagaimana kuliah kamu,,,?" Tanya Mama Edwin.


"Lancar Pah, nggak ada kendala,,"


"Apapun keputusan kamu kedepannya, Papa harap kamu tetap menyelesaikan kuliah kamu."


"Pendidikan itu yang terpenting." Tutur Edwin.

__ADS_1


"Aku mengerti Pah,,"


Davina mengangguk paham. Dia tak banyak bicara walaupun sangat penasaran karna tiba-tiba Papa Edwin mengatakan hal seperti itu padanya.


Davina jadi merasa kalau sang Papa sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


...****...


Selesai makan malam, Davina pamit pergi. Dia melajukan mobilnya ke club.


Tadi setelah pergi ke kamar, Davina membuka ponselnya dan mendapati puluhan panggilan dan Chat dari Bianca. Saat dia menelfon balik ke nomor Bianca, wanita itu tak kunjung mengangkat telfonnya.


Pesan terkahir Bianca yang akhirnya membuat Davina buru-buru pergi. Dia harus memastikan jika Bianca baik-baik saja.


Memang kesalahan Bianca membuatnya sakit hati dan kecewa, tapi Davina tak akan tega membiarkan hal buruk terjadi padanya.


Bagaimanapun, Bianca pernah menjadi bagian dari hidupnya sebagai sahabat.


"Ya ampun,,, dimana dia,,," Gumamnya panik. Sambil berusaha menghubungi nomor Bianca, Davina mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut club.


"Cepat angkat Bi,,," Gumamnya lagi.


Seorang wanita yang meringkuk seorang diri di sudut ruangan, membuat Davina membulatkan matanya. Dia memastikan jika wanita yang sedang menangis itu adalah Bianca.


"Bi,, are you oke.?" Tanya Davina sembari merangkul bahu Bianca dan mengajaknya untuk berdiri. Tangis Bianca pecah, dia mendekap erat tubuh Davina.


"Apa yang harus aku lakukan Bi, Arga sedang bersama wanita lain." Ucapnya dengan suara yang tercekat.


"Siapa yang akan bertanggung jawab dengan anak ini,,!" Serunya sembari memukul perut dengan keras, membuat Davina reflek memegangi tangan Bianca agar tak lagi memukul janin di dalam perutnya.


"Hentikan Bi,, jangan gila.!"


"Kamu bisa membunuhnya,," Seru Davina kesal.


"Biarkan saja Vin, lebih baik dia mati daripada Arga tak mau mengakuinya.!" Bianca memberontak. Dia masih berusaha memukul perutnya.


"Tenang Bi.! Aku akan membujuk Arga agar mau bertanggungjawab."


"Katakan dimana dia.?"


Bianca mengarahkan jari telunjuknya ke arah tangga. Memberi tau Davina kalau Arga berada di lantai dua. Lantai yang tentu saja di penuhi oleh kamar yang di pakai untuk bersenang.


"Ayo kita ke atas,,," Ujar Devina. Keduanya lalu bergegas pergi ke lantai dua.

__ADS_1


"Arga ada di dalam,,," Bianca menunjuk salah satu pintu kamar. Wajahnya terlihat ketakutan saat menatap kamar itu.


"Kita suruh Arga untuk keluar,," Davina mengajak Bianca untuk mendatangi kamar itu, namun Bianca menggeleng cepat dengan wajah yang pucat.


"Aku takut Bi, Arga akan kembali memukul ku jika dia melihat aku masih ada di sini." Tuturnya sembari bersembunyi di belakang punggung Davina.


"Arga memukulmu.?" Tanya Davina tak percaya. Dia tau betul siapa Arga. Sekalipun Arga tega menyakitinya dengan berkhianat, tapi Arga tak pernah main tangan. Bahkan Davina mengakui jika perlakuan Arga lebih lembut daripada Dave. Rasanya tak mungkin kalau Arga memukul Bianca. Apalagi Bianca sedang hamil.


"Iya,, dia memukul bahkan mendorongku,," Bianca menunjukkan lengannya yang terlihat kebiruan. Kemudian beralih pada lututnya yang juga memar.


Davina sampai syok melihat luka di lengan dan lutut Bianca. Tak menyangka Arga bisa melakukan kekerasan pada wanita.


"Baiklah, kamu tunggu disini. Biar aku yang memanggilnya,,"


Davina membiarkan Bianca menunggu, dia lalu segera menghampiri kamar itu dan mengetuknya berkali-kali.


Tak lama, pintu itu di buka oleh seorang wanita. Wanita yang hanya berbalut selimut tebal dengan rambut yang berantakan dan keringat bercucuran.


Pemandangan itu membuat Davina geram. Ternyata memang benar Arga sedang bersama wanita di dalam kamar dan tengah bermain gila.


"Siapa kamu.?!" Tanya wanita itu dengan tatapan sinis. Dia membenarkan rambutnya yang berantakan.


"Dimana Arga,,?!!" Teriak Davina.


"Untuk apa mencari kekasihku.? Memangnya kau itu siapa.?" Sinisnya. Dia menatap Davina dari ujung kepala sampai kaki.


"Kamu nggak perlu tau aku siapa.!" Geram Davina sembari menyingkirkan wanita itu dan menyelonong masuk ke dalam kamar.


"Arga,,,!! Keluar kamu.!" Seru Davina sembari mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Dia melihat seseorang berbaring di ranjang dengan di balut selimut sampai menutupi wajahnya.


"Kau,,!! Berani sekali masuk ke dalam.!" Teriak wanita itu. Dia berjalan cepat menyusul Davina setelah menutup pintu.


"Sini kamu.!" Tangan Davina di tarik oleh wanita itu.


"Lepas.!!" Bentak Davina. Cengkraman wanita itu semakin kuat. Dia melepaskan selimut dengan satu tangannya. Memperlihatkan tubuhnya yang ternyata masih berbalut dress tanpa lengan.


Wanita itu mengambil sapu tangan di atas nakas, kemudian membungkam hidung dan mulut Davina.


Davina berusaha memberontak, tapi tenaga wanita itu jauh lebih kuat.


"Bi,,Bianca tolong aku,,,!!!" Teriak Davina sebelum akhirnya kesadarannya menurun.


"Dasar wanita bodoh.!" Cibir wanita itu dengan senyum yang mengembang sempurna.

__ADS_1


__ADS_2