Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 64


__ADS_3

"Kak, aku nggak berani,," Davina mencekal pergelangan tangan Farrel yang sedang membantunya menurunkan koper kecil milik Davina.


Kakak tirinya itu sangat semangat, bahkan Farrel ikut membantunya mengemasi baju kedalam koper. Davina jadi menaruh curiga karna Farrel terlihat senang untuk membuatnya tinggal bersama Dave. Tapi entah ada alasan apa di balik antusiasnya Farrel untuk mengantarnya ke apartemen Dave.


"Udah tenang aja, aku pastikan Papa ataupun Mama nggak akan tau."


"Aku juga sudah menyuruh semua pekerja disini untuk tutup mulut. Mereka nggak bakal ngadu kalau kamu pergi dari rumah." Tutur Farrel dengan ekspresi dan nada bicara yang meyakinkan.


"Ayo buruan, Om Dave pasti udah nggak tahan nungguin kamu." Goda Farrel. Tapi yang di goda cuek saja karna tidak tau kemana arah ucapan Farrel yang sebenarnya.


Davina hanya berfikir kalau Dave sudah tidak tahan untuk bertemu dengannya. Padahal maksud Farrel adalah tidak tahan untuk segera menerobos gawang milik Davina.


Farrel melajukan mobilnya menuju apartemen Dave. Mereka baru pergi setelah makan malam sesuai permintaan Dave. Karna pria itu baru pulang dari luar kota pukul 7 malam. Buru-buru menyelesaikan pekerjaannya agar bisa cepat pulang. Padahal rencananya baru akan pulang besok.


"Kamu udah siap belum.? Sepertinya serangan Om Dave cukup kuat." Tanya Farrel sembari melirik sekilas pada Davina. Dia sudah membayangkan yang tidak-tidak sejak tadi. Membayangkan bagaimana hebatnya Dave saat di atas ranjang. Mengingat pria itu rajin olahraga dan sangat menjaga kesehatan dan makanannya.


"Serangan.? Kenapa Om Dave harus menyerang.?" Davina menautkan kedua alisnya. Gaya bahasa Farrel terlalu sulit untuk di mengerti olehnya. Dia tidak paham istilah-istilah seperti itu.


"Ahh sudahlah,, percuma saja bicara sama kamu." Keluhan Farrel.


"Lagian Kak Farrel tuh nggak jelas ngomongnya.!" Sahut Davina kesal.


"Kamunya aja yang be -go,,," Ujar Farrel kemudian tertawa puas.


"Kak.!!" Tegur Davina dengan bibir yang mencebik kesal. Tidak terima di bilang bodoh oleh Farrel.


"Aku aduin ke Om Dave nanti.!" Ancamnya.


"Aduin aja, aku nggak takut. Palingan Om Dave juga setuju sama ucapanku." Farrel terkekeh geli. Dia yakin kalau Dave juga menyadari hal itu. Sadar kalau istrinya tidak terlalu pintar di luar akademis.

__ADS_1


...****...


Begitu Dave membuka pintu apartemen. Davina langsung menatap wajah tampan yang sangat dia rindukan itu. Begitu juga dengan Dave yang menatap lekat wajah cantik Davina. Wajah yang 3 hari terakhir hanya bisa dan lihat melalui panggilan vidio. Dan itupun hanya 2 kali saja.


"Ekhhem,,,!!" Suara deheman Farrel memutuskan pandangan mata yang penuh dengan kerinduan itu.


Dave melirik kesal pada Farrel, sedangkan Davina bergegas masuk karna Dave menarik tangannya, menyuruhnya untuk segera masuk.


"Kabari kalau mereka akan pulang." Ujar Dave pada Farrel.


"Siap. Yang penting jangan lupa uangnya." Farrel mengulas senyum lebar. Kapan lagi dia bisa mendapatkan banyak uang dari Dave dengan mudah.


Seperti biasa, Dave hanya menjawab dengan deheman. Mengambil alih koper di tangan Farrel dan masuk begitu saja ke dalam apartemen tanpa mengatakan apapun pada Farrel yang sudah membantunya untuk tinggal bersama Davina.


"Dasar Om Laknat,,,!!" Umpat Farrel. Dia menendang pintu laku buru-buru pergi dari sana.


Dave membawa koper milik Davina ke kamar. Gadis itu mengikutinya di belakang tanpa bicara apapun. Rasa takut dan cemas membuat Davina merasa canggung. Dia dan Dave sudah menikah, tapi entah kenapa dia merasa kalau sedang menjalani hubungan terlarang dengan Om tirinya itu.


"Kemari,," Dave menepuk sisi ranjang disampingnya. Menyuruh Davina duduk di sana.


"Apa malam itu kamu melihat Justin.?" Tanya Dave serius. Davina menggelengkan kepala.


"Saat aku bangun, nggak ada orang lain di kamar itu kecuali aku."


"Aku juga nggak lihat Justin saat masuk ke club."


"Tapi sebelum wanita itu membiusku, aku melihat ada seseorang yang berbaring di atas ranjang. Tubuhnya di tutup selimut sampai kepala."


Tutur Davina. Sampai sekarang dia juga bingung saat melihat foto yang ditujukan oleh Dave.

__ADS_1


"Memangnya Om belum tau dimana Justin.?" Tanya Davina. Entah kemana perginya laki-laki itu setelah membuat kekacauan.


"Belum,," Sahut Dave.


Tiba-tiba tangannya merangkul pinggang Davina, mengarahkan gadis itu untuk duduk di pangkuannya dengan posisi saling berhadapan.


"Kita lanjutkan kegiatan yang tertunda 4 hari lalu." Suara Dave sedikit berbisik. Satu tangannya merapikan rambut Davina di belakang telinga.


Jemarinya menyusuri wajah cantik itu. Mengusap pipi putih Davina yang merona.


Davina mengangguk pelan. Dia tau kalau Dave ingin meminta haknya.


Dave mengecup bibir Davina, kecupan lembut yang penuh cinta kini mulai menjadi ciuman panas yang menuntut. Saling melu -mat dan menye- sap untuk bertukar saliva.


Tangan Dave yang sejak bergerilya, membuat baju yang tadinya melekat di tubuh Davina, hampir terlepas seluruhnya. Memperlihatkan dua benda kenyal yang kini hanya berbalut br-aa.


Dave menurunkan Davina, dia lalu melepaskan baju dan celananya sendiri. Membuat Davina memalingkan wajah, melihat tubuh besar Dave yang dipenuhi otot. Pria itu hanya menyisakan celana pendek saja.


"Om,,,!" Pekik Davina saat sadar tangannya di arahkan oleh Dave dan diletakkan di atas benda yang sudah mengeras.


"Anggap saja pengenalan biar kamu nggak kaget lagi." Kata Dave dengan tatapan menggoda. Dia menahan telapak tangan Davina di sana. Membiarkan Davina menyentuh miliknya agar memiliki bayangan seperti apa dan sebesar apa benda itu sebelum nantinya Dave membukanya.


...***...


Sambil nunggu novel ini up lagi, mampir dulu yah ke novel " Cinta Sendiri ". Karya author AYi.


Jangan lupa langsung masukin ke daftar favorit 😊


__ADS_1


__ADS_2