Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 61


__ADS_3

Dave tiba-tiba mengecup lembut bibir Davina setelah dia menghentikan mobil di depan kampus. Hal itu membuat Davina terkejut sekaligus takut. Pasalnya saat ini mereka sedang berada di tempat umum dan banyak mahasiswa yang lalu lalang di sekitar mobil mereka.


Dengan tenang, Dave menjauhkan wajah setelah mencium Davina. Tangannya mengusap sekilas pipi Davina sembari mengukir senyum tipis.


Pria itu terlihat tidak takut perbuatannya di dalam mobil di ketahui orang lain.


"Pastikan selalu telfon saya kalau ada kesempatan." Kata Dave.


Davina mengangguk paham. Dia lalu menyimpan ponsel pemberian Dave kedalam tasnya. Ponsel yang hanya dibolehkan untuk menghubungi Dave saja karna pria itu tau kalau ponsel milik Davina telah di sita oleh Papa Edwin, hingga Dave tidak bisa berkomunikasi dengan istrinya sendiri.


"Aku turun. Hati-hati di jalan." Ucap Davina. Sudut bibirnya mengembang, melempar senyum manis pada Dave. Anggap saja sebagai hadiah indah sebelum berpisah jarak jauh selama 4 hari.


Agar pria itu selalu mengingatnya.


Dave hanya memberikan anggukan, meski terlihat menahan senyum. Dave terus menatap gadis cantik itu sejak turun dari mobil sampai tak terlihat lagi dari pandangan matanya.


Dave buru-buru menyalakan mesin mobilnya, tapi belum sempat melajukan mobil, ponselnya terdengar berdering. Dave merogoh ponsel dari saku jasnya, menatap nama yang tertera dan segera mengangkat panggilan telfon itu.


Dia mendekatkan ponsel di telinganya, mendengarkan baik-baik suara seseorang di seberang sana. Perlahan sudut bibir Dave terangkat. Mengukir senyum smirk yang mengerikan.


"Kerja bagus.! Pastikan dia tidak melarikan diri sebelum aku datang.!" Tegasnya penuh amarah.


Setelah mengatakan itu, Dave langsung mematikan sambungan telfonnya dan bergegas pergi. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu tempat.

__ADS_1


...****...


"Kamu nggak jadi bolos.?" Tanya Farrel.


Dia tiba-tiba langsung menghadang langkah Davina saat melihat saudara tirinya itu tiba-tiba muncul di kampus. Padahal dia baru saja mengantarkan Davina ke apartemen Dave. Farrel pikir, Dave akan menahan Davina di sana agar bisa melakukan ritual suami istri yang sampai sekarang belum mereka lakukan.


"Kenapa aku harus bolos.?" Davina balik bertanya. Dia kembali melangkahkan kaki yang langsung di ikuti oleh Farrel di sampingnya.


"Aku pikir Om Dave menyuruhku mengajakmu ke apartemennya karna dia mau menerobos gawang."


"Jadi kalian nggak ngelakuin apa-apa.?" Tanya Farrel. Dia terlihat menahan tawa mengejek sampai akhirnya tawanya lepas begitu saja dan terlihat sangat puas.


"Hahaha,,, Om,, Om,,, sial amat nasib lu,,," Ucapnya sambil terus tertawa. Menertawakan Dave yang belum bisa menyentuh Davina padahal mereka sudah sah.


"Apanya yang lucu kak.? Nggak jelas banget ih,,!" Ujar Davina sembari mengangkat kedua bahunya dengan menatap heran pada Farrel. Dia lalu berjalan cepat meninggalkan Farrel. Buru-buru ke kelas karna hampir terlambat.


Farrel menatap kepergian Davina dengan mengulas senyum licik. Otak jahilnya seketika langsung bekerja. Tiba-tiba muncul punya ide untuk mengeruk uang lebih banyak lagi dari Om nya itu.


"Emangnya lu doang yang bisa manfaatin gue. Gue juga bisa manfaatin Lu, Om.!" Gumam Farrel. Senyum semakin lebar saja karna membayangkan berapa banyak uang yang akan diberikan oleh Dave padanya.


Walaupun Mama Sandra juga selalu memberi uang jajan yang tak sedikit untuknya, tapi Farrel selalu membutuhkan lebih banyak uang agar tetap bisa bersenang-senang di luar sana.


"Cepetan Bila, kita terlambat,,,!"

__ADS_1


Teriakan seseorang membuat Farrel reflek menghentikan langkah. Tapi sayangnya gara-gara berhenti mendadak, seseorang yang tengah berlari cepat di belakangnya jadi menabraknya.


Beruntung Farrel bisa menahan tubuhnya sekuat tenaga hingga dia dan wanita itu tidak terjatuh.


"Maa,,maaf,,," Ucap wanita itu dan buru-buru melepaskan diri dari dekapan Farrel.


Saat wanita itu mengangkat wajahnya, Farrel langsung menatap tajam. Sedangkan wanita itu terlihat kaget dan buru-buru untuk pergi dari sana.


"Maaf, aku nggak sengaja,," Ujarnya sembari bergegas pergi. Sayangnya Farrel bisa mengejar dan menahan langkah wanita itu dengan memegang erat pergelangan tangannya.


"Ada apa.?" Tanya wanita itu tanpa berani menatap Farrel.


"Ada apa kamu bilang.?! Setelah berani mempermainkanku, kamu masih berani mengatakan hal itu.?" Sinis Farrel.


"Aku nggak mempermainkan siapapun." Jawabnya.


"Lepasin, aku sudah terlambat." Wanita itu menepis kasar tangan Farrel hingga genggamannya lepas.


"Ya ampun Nabila, kamu baik-baik saja.?" Ujar seorang wanita yang tadi lari bersama Nabila.


Nabila mengangguk dan kembali berlari dengan temannya itu.


Farrel diam di tempat. Menatap tajam wanita yang baru beberapa minggu lalu dekat dengannya. Wanita yang sudah dia curi ciuman pertamanya, tapi tiba-tiba menjauh begitu saja dan kedapatan dekat dengan laki-laki lain di kampus. Nabila juga jadi dingin padanya dan selalu menghindar.

__ADS_1


Hal itu tentu saja membuat Farrel marah. Karna sebelumnya tidak ada wanita yang berani menghindar, apalagi bersikap dingin padanya.


__ADS_2