
Seorang pria memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe. Kafe itu tak jauh dari kampus Davina.
Dia bergegas turun dari mobil untuk masuk ke dalam kafe.
Saat pintu kafe terbuka dan menampakkan sosok tampan dengan tubuh tinggi dan setelan jas yang rapi, semua mata pengunjung kafe yang di dominasi oleh mahasiswi itu tertuju padanya. Tak terkecuali semua orang yang duduk 1 meja dengan Davina.
"Kalian kenapa.?" Davina menatap bingung ke 3 temannya yang bengong menghadap ke arah pintu masuk. Pintu masuk yang kebetulan posisinya membelakangi Davina.
"Ya ampun Vi,, ada sugar daddy." Jawab salah satu dari mereka dengan suara lirih. Pandangan matanya tak beralih sedikitpun dari pria tampan yang semakin dekat ke arah mejanya.
"Sugar daddy.?" Kening Davina sampai berkerut.
"Tengok ke belakang Vi,," Kata mereka lirih. Mendengar intruksi dari teman-temannya untuk menoleh kebelakang, Davina bergegas melakukannya.
Dia segera menolah dan saat bersamaan seorang laki-laki berhenti di belakangnya. Davina mendongakkan kepala untuk menatap wajah laki-laki yang berdiri tegap di belakangnya. Meski sebenarnya dia sudah mengenali laki-laki itu dari setelan jas yang dipakai.
"Om Dave,," Lirih Davina tanpa di dengar oleh siapapun. Namun Daveenhulas senyum tipis setelah melihat gerakan bibir Davina yang baru saja mengatakan namanya.
Dave datang ke kafe lebih cepat. Sebenarnya Davina sudah mengirimkan pesan pada Dave agar menjemputnya pukul 3 sore. Tapi lantaran sangat merindukan istrinya itu, Dave sengaja datang 1 jam lebih awal.
"Boleh gabung.?" Ucap Dave yang langsung bertanya pada ke 3 teman Davina.
Mereka yang gugup hanya bisa mengangguk kompak, setuju jika Dave bergabung di meja mereka.
Setelah mendapat persetujuan dari mereka, Dave kemudian duduk tenang di samping Davina. Wanita itu terlihat bengong dengan mata yang melotot, memperhatikan setiap gerak gerik Dave.
Bagaimana reaksi Davina bisa santai melihat Dave yang datang dan bergabung begitu saja tanpa meminta ijin lebih dulu darinya.
"Om baru pertama kali datang ke kafe ini ya.?" Dengan gaya sok kenal, Silvia bertanya pada Dave. Dia sampai menggeser kursi agar lebih dekat denga pria tampan itu.
Davina yang melihat Silvia berulah, semakin membulatkan matanya.
"Mau cari siapa Om.?" Tanyanya Lagi. Silvia terlihat sedikit agresif di samping Dave.
__ADS_1
"Silvia,,!" Michelle langsung menyikut temannya yang kelewat centil itu.
"Apaan sih.? Gue cuma mau ngobrol aja sama dia,," Ucapnya berbisik. Tapi tentu saja suaranya bisa di dengar oleh mereka, termasuk Davina.
"Saya cari,,,
"Aku pulang duluan ya, tiba-tiba sakit perut," Davina memotong ucapan Dave. Dia memasang wajah menahan sakit sembari memasukkan buku dan laptop miliknya ke dalam tas.
"Loh,, mau kemana Vi.? Tugasnya belum selesai. Tanggung sedikit lagi." Ujar Julie. Michelle dan Silvia juga ikut menahan Davina, tapi wanita itu tetap pergi dari sana dengan buru-buru. Menahan kekesalan lantaran melihat Dave berbicara dengan temannya.
"Davina,, tunggu dulu.!!" Panggil Dave sembari berdiri dari duduknya. Mendengar pria tampan itu memanggil Davina, ketiga gadis cantik itu langsung melongo kaget.
"Om kenal sama Davina.?" Tanya Silvia.
"Dia pacar saya." Jawab Dave lalu bergegas pergi menyusul istrinya yang terlihat cemburu.
"Apa.?! Pacar.?!!" Seru mereka kompak. Mereka sama sekali tidak tau kalau pria tampan yang hampir di goda oleh Silvia adalah pacar Davina.
"Oh my God.!" Silvia menepuk keningnya dengan raut wajah cemas. Dia sadar telah melakukan kesalahan besar dengan mengajak bicara pacar Davina di depan Davina langsung.
"Siap-siap Davina akan marah padamu." Timpal Julie.
Mendengar hal itu, Silvia semakin terlihat panik. Dia langsung mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan permintaan maafnya pada Davina. Mengatakan jika dia tidak tau kalau pria tadi adalah pacarnya.
...***...
"Sayang,,, tunggu dulu. Kamu mau kemana.?" Dave terus mengikuti langkah Davina yang keluar dari area kafe.
"Mobilku di depan kafe." Ujar Dave lagi.
Dia setengah berlari agar bisa menghalangi jalan Davina.
"Ayo pulang." Ajak Dave.
__ADS_1
"Aku sudah bilang jemput jam 3, kenapa jam 2 sudah datang." Protes Davina kesal.
"Minggir, aku mau pulang pakai taksi saja." Davina hendak bergeser dari hadapan Dave, tapi pria itu justru mendekap tubuhnya dan berakhir dengan menggendong Davina.
"Ya ampun Om.!! Apa yang Om lakukan.! Turunkan aku.!" Davina memberontak dalam gendongan Dave. Beberapa orang yang ada di sana menatap heran pada Dave dan Davina. Sebagian ada yang menatap curiga.
"Pacar saya marah karna saya telat menjemputnya." Seru Dave pada semua orang yang menatap ke arahnya.
"Perempuan memang suka seperti ini, susah di bujuk. Jadi harus sedikit di paksa." Ujarnya lagi.
Dave berhasil membuat semua orang berhenti menatap ke arahnya lantaran penjelasan Dave langsung di terima oleh mereka. Dan tentu saja mereka memaklumi akan hal itu.
"Benar kak, pacarku juga sering begitu." Celetuk salah satu laki-laki yang ada di sana. Dave tersenyum puas lalu bergegas pergi ke mobilnya.
...****...
"Jangan marah, lain kali aku akan datang tepat waktu. Tidak akan datang lebih awal ataupun telat." Lirih Dave sembari menggenggam tangan Davina. Istri cantiknya itu hanya diam saja dengan pandangan lurus ke depan.
"Kamu mau makan es krim.? Ada es krim enak di salah satu restoran favoritku."
"Kamu pasti suka."
Dave sedang berusaha untuk membujuk Davina agar mau berbicara dengannya lagi.
"Aku mau pulang saja." Jawab Davina datar.
Tidak mau membuat Davina semakin marah, Dave akhirnya memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum pulang ke rumah Sandra, Dave ingin mengajak Davina pulang ke apartemennya lebih dulu.
Dengan alasan ingin mengambil beberapa baju dan dokumen kantor, Dave akan memanfaatkan kesempatan itu untuk membujuk Davina.
Membujuk sekaligus memanfaatkan situasi dan kondisi yang sepi untuk melakukan kegiatan yang sudah lama tidak mereka lakukan.
Berharap setelah melakukan pendekatan seperti itu, Davina akan sedikit luluh padanya dan mau memulai hubungan dari awal lagi.
__ADS_1
...*****...
Give Away Ke 12 ada di novel Penyesalan Balas Dendam. Langsung klik favorit yah. Jangan lupa di baca juga☺