Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 82


__ADS_3

1 Minggu tinggal bersama di apartemen Dave. Mereka berdua lebih banyak menghabiskan waktu bersama, membuat hubungan keduanya semakin membaik.


Davina menjalankan perannya sebagai seorang istri dengan sempurna. Dia menyiapkan semua keperluan Dave dari hal-hal kecil sampai terbesar.


Davina juga selalu menyuguhkan makanan yang dia buat khusus untuk Dave.


Keahliannya dalam memasak bahkan semakin meningkat karna setiap hari selalu memasak setiap pagi dan sore.


Seperti halnya sore ini, Davina baru saja selesai memasak untuk makan malamnya bersama Dave.


Hanya perlu memanaskan ulang kalau dia dan Dave akan makan.


Suara derap langkah sepatu membuat Davina buru-buru melepaskan apron di badannya, dia lalu mencuci tangan dan bergegas keluar dari dapur untuk menghampiri pemilik suara itu.


Menyambut dengan raut wajah ceria dan senyum yang mengembang sempurna di di bibirnya, Davina merentangkan kedua tangannya sembari berlari ke arah Dave dan memeluknya erat.


Menempelkan kepalanya di dada bidang Dave, bergelayut manja pada pria itu seperti anak kecil yang sedang menyambut kepulangan ayahnya dari kantor.


"Kenapa pulang terlambat,," Nada bicara Davina sedikit merengek.


Jika biasanya Dave pulang pukul 4 atau 5 sore, kali ini Dave pulang pukul 6.


Dave tersenyum, membalas pelukan Davina dengan mendekap tubuh istrinya itu.


"Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan,," Jawab Dave. Sebelah tangannya mengusap lembut pucuk kepala Davina.


"Mau makan malam di luar hari ini.?" Tawar Dave. Dia melepaskan pelan pelukan Davina, menatap teduh wajah cantik istrinya yang dibalut riasan tipis.


"No." Tolak Davina cepat.


"Aku baru selesai memasak tadi."


"Bagaimana kalau sekarang kita mandi dulu, setelah itu makan malam." Ajaknya dengan mengukir senyum menggoda pada Dave.


"Jadi kamu belum mandi.?" Tanya Dave.

__ADS_1


Davina dengan senyum penuh arti, membuat Dave tersenyum gemas dan mengacak lembut pucuk kepala Davina.


Tanpa menunggu lama, Dave langsung mengangkat tubuh Davina dan membawanya masuk ke kamar. Dave bahkan melempar tas kerjanya begitu saja di atas ranjang sambil terus menggendong Davina dan berjalan menuju kamar mandi. Dia menurunkan Davina, keduanya saling memeluk hingga perlahan mulai terjadi kecupan lembut di kening, turun ke bawah dan berakhir pada pagutan bibir yang penuh kelembutan namun begitu dalam.


Tanpa melepaskan tautan bibirnya, baik Dave dan Davina, keduanya saling melucuti kain yang melekat di tubuh masing-masing. Davina sudah berhasil melepaskan jas dan kemeja Dave, dan Dave berhasil menurunkan dress milik Davina hanya dengan membuka resleting di belakang punggung.


Tubuh Davina hanya berbalut kain minim yang menutupi dua benda sensitifnya.


Melihat celana panjang masih melekat di tubuh Dave, Davina dengan sigap membuka kancing dan menurunkan resletingnya.


Dia semakin liar dalam menjalankan kewajibannya sebagai istri. Bahkan terkadang merasa seperti wanita malam.


"Uuhggg,,," Davina melenguh ketika tangan Dave menyusup ke bawah sana dan menyentuh miliknya dengan usapan lembut.


Pria itu juga menye -sap salah satu benda kenyal Davina, membuat tubuhnya semakin memegang dan hanya bisa meremas rambut Dave.


Percintaan panas itu terus berlanjut hingga terdengar suara des -sahan yang menggema, semakin menambah panas permainan memabukkan itu.


Beberapa kali merubah posisi dan berakhir dengan mandi bersama.


Davina hanya mengangguk dalam dekapan Dave. Tak membalas ungkapan cintanya.


...****...


Keluar dari kamar setelah memakai baju dan mengeringkan rambut, keduanya lalu pergi ke ruang makan untuk makan malam.


Menghabiskan waktu lebih dari 1 jam di dalam kamar mandi, membuat tenaga mereka terkuras habis.


Davina menghangatkan makanannya, lalu menatanya di atas meja makan. Dia juga mengambilkannya untuk Dave.


"Malam ini Papa sama Mama akan pulang. Mungkin tengah malam baru sampai di rumah."


"Bagaimana kalau kita ke rumah setelah makan.?" Ajak Davina antusias.


Sudah 2 minggu kedua orang tuanya berada di luar negeri, mungkin Davina sangat merindukan mereka.

__ADS_1


"Kamu lupa kalau Papa masih melarang kita untuk bertemu.?" Ujar Dave mengingatkan.


Masa hukuman yang diberikan oleh Papa Edwin belum berakhir, dia baru menjalani masa hukuman sekitar 1 bulan. Itu artinya 2 bukan lagi mereka baru boleh bertemu secara terang-terangan di depan Papa Edwin.


"Justru karna aku nggak lupa, makanya aku mau ajak Om ketemu mereka."


"Aku akan memohon pada Papa untuk mengakhiri masa hukuman Om." Ujarnya sembari mengulas senyum lebar.


"Aku yakin Papa akan mengabulkannya." Ucapnya lagi.


"Baiklah. Aku juga akan memohon dan meminta maaf lagi padanya." Pada akhirnya Dave menyetujui usul Davina.


Lagipula memang sudah waktunya dia bertemu dengan Papa Edwin lagi untuk meyakinkannya bahwa hubungan dia dan Davina baik-baik saja, dengan menunjukkan kedekatan dan kemesraan di depan mereka.


Saat ini keduanya sudah sampai di rumah Mama Sandra. Davina turun dari mobil, menatap rumah itu dengan senyum yang terukir di bibirnya. Rumah yang selama 1 minggu dia tinggalkan dan membuatnya rindu untuk kembali.


Begitu Dave keluar, Davina langsung menggandeng tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam.


Dia pikir harus istirahat lebih dulu sebelum besok berbicara dengan sang Papa.


"Ckk,, ckk,, ckk,,," Farrel berdecak sembari menggelengkan kepala dengan kedua tangan yang di silangkan di atas dada.


Dia dibuat heran dengan dua manusia aneh itu. Yang terkadang tak mau di pertemukan, tapi begitu bertemu seperti pasangan yang baru di mabuk cinta.


"Kalian berdua membuatku geli,," Komentarnya dengan cibiran.


Davina yang mendengar itu hanya melirik datar. Tak sepatah katapun keluar untuk membalas ucapan Farrel. Padahal biasanya dia selalu semangat untuk perang ucapan dengan kakak tirinya itu.


"Lebih baik kamu diam saja." Tegur Dave.


Keduanya meninggalkan Farrel dan pergi ke kamar Davina.


...****...


Jangan lupa masukin daftar favorit "Penyesalan Balas Dendam."

__ADS_1



__ADS_2