Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 76


__ADS_3

Dave menghela nafas berat. Menatap Davina yang berjalan cepat menaiki tangga. Wanita itu tetap tidak mau bicara baik-baik dengan.


Dering telfon memutus pandangan Dave pada wanita yang sudah semakin jauh dari pandangan mata. Dave merogoh ponsel, dia bergegas keluar setelah membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Pria itu mengangkat panggilan telfon begitu sampai di halaman rumah.


"Bagaimana.?!" Tanya Dave.


"Bagus.! Bawa sekarang ke apartemenku." Pintanya lalu mematikan sambungan telfon dan bergegas pergi dari rumah Sandra.


Sementara itu Davina yang sejak tadi berdiri di atas balkon, mengulas tersenyum kecut saat melihat Dave buru-buru pergi setelah menerima telfon dari seseorang.


"Kamu mungkin bisa menyembunyikan rahasia besar dariku, tapi tidak dengan perasaanmu pada wanita itu." Gumamnya penuh kekecewaan.


Perasaan cinta tidak bisa di sembunyikan, sekalipun bibir kita berkata tidak, tapi sorot mata tak akan pernah bisa berdusta.


...***...


Dave meremas foto yang ada di tangannya.


Kini dia tau kenapa Sisy tiba-tiba meninggalkannya dan menikah dengan orang lain.


Orang yang tak pernah dia curiga, ternyata terlibat di dalamnya. Orang yang sama yang sudah memalsukan identitas Sisy hingga Dave tak bisa menemukannya.


Orang yang tak lain adalah mendiang Papanya sendiri.


Sang Papa memang tidak pernah setuju sejak Dave mengenalkan Sisy padanya. Latar belakang orang tua dan status sosial keluarga Sisy, yang membuat sang Papa menentang keras hubungan mereka. Tapi saat itu Dave mengabaikan larangan sang Papa, karna dia pikir tak butuh restu dari orang tuanya itu.


Lagipula sang Papa juga tidak pernah peduli padanya sejak kecil.


"Tunda semua rapat untuk 1 minggu ke depan.!" Pinta Dave pada orang kepercayaannya itu.

__ADS_1


"Tapi Tuan, anda mau kemana.?" Tanya Raka.


"Lakukan saja perintah ku.!" Tegas Dave.


"Kamu boleh pergi sekarang." Setelah mengusir Raka dari apartemennya, Dave masuk ke dalam. kamar dan memasukkan beberapa baju dan keperluan ke dalam koper.


Sebelum dia mendengarkan penjelasan dari mulut Sisy, rasa penasaran itu akan selalu ada dan terus menghantuinya. Dave hanya ingin memastikan kebenaran dan tujuan sang Papa membuat Sisy pergi dari kehidupannya.


...****...


"Ayo pulang,, nggak usah sembunyi lagi kaya kemarin.!" Tegur Farrel. Dia melihat Davina akan bersembunyi dan langsung menarik tangannya.


"Aku nggak akan pulang sama Kak Farrel kalau Kakak akan membawaku ke apartemen." Tolak Davina. Dia menepis tangan Farrel.


"Percaya diri sekali kamu.!" Cibir Farrel.


Penuturan Farrel membuat Davina terdiam sesaat.


"Memangnya Om Dave pergi kemana.?" Tanyanya penasaran. Sekalipun tak ingin peduli dengannya untuk sementara waktu, tapi hatinya tetap tidak bisa acuh pada laki-laki itu.


"Mana aku tau.! Telfon saja kalau penasaran." Jawab Farrel acuh. Dia kembali menggandeng tangan Davina dan buru-buru mengajaknya pulang. Kali ini Davina tak memberikan penolakan lagi. Davina hanya diam dan mengikuti langkah Farrel ke mobilnya.


Sampainya di rumah, Davina bergegas pergi ke kamar. Hal pertama yang dia lakukan adalah mengecek ponselnya yang sejak tadi malam belum dia buka.


Biasanya setiap kali dia pulang kuliah, Davina akan membaca banyak pesan yang dikirimkan oleh Dave padanya.


Davina duduk di sisi ranjang setelah mengambil ponsel dari dalam laci.


Dia membuka ponsel, tapi sayangnya kali ini tak ada satupun pesan atau panggilan dari Dave.

__ADS_1


Davina sampai memastikan dengan membuka aplikasi chat dan memang tak ada satupun pesan dari Dave. Terakhir kali hanya tadi malam sebelum Dave datang ke rumah.


"Apa dia pergi ke luar kota lagi.?" Gumamnya sambil terus menatap layar ponsel. Masih berharap ada pesan masuk dari Dave meski dia tak ada niatan untuk menjawab pesan itu. Setidaknya dia tau kalau Dave masih memikirkannya.


"Atau mungkin,,," Davina langsung menggelengkan kepalanya. Dia berusaha menepis prasangka terburuknya.


Sekalipun dia tau kalau Dave masih memiliki rasa pada Sisy, Davina yakin Dave tak akan setega itu padanya.


Dave tak mungkin datang menemui wanita itu dan lupa dengan statusnya saat ini.


...****...


"Katakan kenapa kamu meninggalkan ku.?!" Sentak Dave. Dia mencekal pergelangan tangan Sisy. Membuat wanita itu meringis kesakitan. Apalagi kondisinya saat ini masih sangat lemah karna masih dalam proses pemulihan paska operasi.


"Kamu menyakiti ku Dave,," Lirih Sisy dengan mata yang berkaca-kaca.


Mendengar hal itu, Dave langsung mengendurkan cengkramannya meski tidak melepaskan tangan Sisy.


"Sudah 8 tahun berlalu Dave, aku rasa nggak ada yang perlu kita bahas lagi. Aku sudah menikah,,"


Tutur Sisy. Dia menatap memohon, berharap ini pertama dan terakhir Dave muncul dalam kehidupannya.


"Aku tidak bertanya kau sudah menikah atau belum.!" Ketus Dave.


"Kamu hanya perlu menjawab kenapa meninggalkanku.!" Bentaknya. Sisy langsung menundukkan kepala, dia ketakutan mendengar Dave membentak dan menatapnya tajam. Sesuatu yang belum pernah Dave lakukan padanya saat dulu masih bersama.


"Kalau aku menjawab, apa semuanya bisa kembali seperti dulu.?" Ucap Sisy dengan suara yang bergetar.


"Semuanya sudah lama berlalu Dave. Aku akan melanjutkan kehidupanku, begitu juga dengan kamu." Sisi menepis tangan Dave. Dia bergegas pergi dari hadapan laki-laki itu dan masuk ke ruang pemeriksaan.

__ADS_1


__ADS_2