
Setelah pergi dari rumah sakit, Davina meminta untuk pulang. Dia tidak jadi pergi ke pesta ulang tahun temannya.
Farrel bahkan terus bertanya pada Davina, kenapa tiba-tiba meminta untuk pulang sedangkan saat di rumah sakit Davina menyuruhnya untuk buru-buru agar bisa segera pergi ke party itu.
"Jangan banyak tanya kak, pokoknya anterin aku pulang.!" Dengan nada bicara yang terdengar geram, Davina meminta Farrel untuk diam.
Pertanyaan Farrel hanya membuat suasana bising di dalam mobil. Belum lagi pertanyaannya di ulang berkali-kali.
"Makanya jawab dulu pertanyaanku." Keluhan Farrel.
"Kamu itu sebenarnya kenapa.? Nggak usah pura-pura cuek kalau emang masih cinta."
"Bukannya menyiksa diri sendiri.?"
Farrel hanya bisa menatap bingung. Dia tak mengerti dengan jalan pikiran Davina. Entah apa yang diinginkan oleh wanita itu dari keputusannya untuk tetap berpisah dengan Dave, sedangkan Farrel tau jika Davina masih mencintai Dave.
"Aku butuh ketenangan untuk menerima semua ini." Jawab Davina tegas.
"Seandainya kak Farrel ada di posisiku. Memiliki seorang istri yang masih mencintai masa lalunya dan terus mencari keberadaannya hingga diam-diam bertemu di belakang kak Farrel, apa kakak akan diam saja dan menerima semua itu.?"
"Mencoba untuk menerima dan memahami perasaannya karna menganggap itu hal yang wajar.?" Davina mengukir senyum miris. Menutupi luka besar di dalam hati yang menganga.
"Kalau aku nggak mengetahui semua itu, dan wanita itu belum menikah, aku yakin dia akan terus menemuinya di belakang ku."
"Apa lagi aku ini hanya wanita bodoh baginya yang mudah untuk di kelabuhi." Sinisnya dengan nada penuh amarah. Davina tak pernah menyangka Dave bisa memperlakukannya seburuk itu.
Membuatnya seolah tak berarti dan tidak dihargai keberadaannya.
"Tapi pada kenyataannya kamu masih mencintai Om Dave." Sela Farrel. Dia paham bagaimana sakitnya hati Davina. Tapi sepertinya berpisah bukan pilihan yang tepat di saat Davina masih terlihat mencintai Dave.
"Kenapa nggak mencoba memulai dari awal lagi.?"
__ADS_1
"Om Dave juga terlihat sangat menyesalinya."
Sejujurnya dia bingung harus berada di pihak siapa. Farrel merasa kasihan jika melihat mereka berdua seperti itu.
Kalau memang masih bisa di perbaiki, dia berharap itu yang terbaik untuk mereka.
Davina menundukkan kepalanya. Bahunya terlihat bergetar dan tak lama air matanya menetes. Tangisnya semakin pecah tanpa suara.
Hal itu membuat Farrel cemas hingga langsung menepikan mobilnya.
"Aku minta maaf kalau ucapanku membuatmu semakin tertekan."
Farrel meraih pundak Davina dan membawanya dalam dekapan. Dia hanya bisa memeluk Davina sembari mengusap lengannya untuk membuatnya lebih tenang.
Dia tak menyuruh Davina untuk berhenti menangis, karna mungkin saja dengan menangis bisa membuat Davina merasa lebih baik.
"Aku hanya ingin mendapatkan cinta yang tulus, seperti Papa mencintaiku." Suara Davina tercekat. Hatinya terasa disayat berulang kali saat membayangkan kisah percintaannya selalu membuatnya terluka.
"Apa mereka tidak bisa melihat ketulusanku.? Sampai mereka tega menyakitiku.?" Tanya Davina di sela isak tangisnya.
"Mungkin aku tak seperti kebanyakan wanita di luar sana, tapi bukan berarti aku pantas mendapatkan perlakuan seperti ini."
Davina memeluk Farrel, membenamkan wajahnya di dada Farrel dan semakin terisak.
Meluapkan segala kekecewaan dan rasa sesak di dalam hati.
Arga dan Dave, mereka berdua telah menghilangkan kepercayaan Davina akan ketulusan cinta. Dan membuatnya merasa bahwa cinta hanya perasaan yang berakhir menyakitkan.
Farrel melepaskan pelukan Davina setelah tangisnya reda. Dia membenarkan rambut Davina dan mengusap sisa air mata di pipinya.
"Kita ke pantai saja, kamu akan merasa tenang di sana." Kata Farrel. Davina hanya diam saja, tak menolak ataupun mengiyakan.
__ADS_1
Farrel memarkirkan mobilnya di pesisir pantai. Dia keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Davina.
Adik tirinya itu masih saja diam dengan sorot mata yang begitu sendu. Di balik sikapnya yang selama ini terlihat baik-baik saja, kini Farrel bisa melihat sisi lain Davina yang begitu rapuh karna cinta.
"Duduk di sini saja." Kata Farrel. Dia mengajak Davina duduk di samping mobilnya, bersandar
pada mobil dengan menghadap pantai.
Keduanya duduk bersebelahan, saling diam dengan pandangan lurus ke depan.
Davina memejamkan mata perlahan, menghirup dalam-dalam udara yang terasa sejuk. Menajamkan pendengaran pada deburan ombak beraturan yang begitu menenangkan.
Rasa sesak di dada perlahan berkurang. Davina mulai merasa ketenangan dalam hatinya, meski tak bisa mengurangi rasa sakit yang ada.
"Aku terlalu percaya padanya sampai menggantungkan harapanku. Berfikir dia akan seperti Papa yang bisa menjaga, melindungi dan mencintaiku sepenuh hati."
Farrel menoleh, menatap wajah Davina dari samping. Wanita itu masih memejamkan mata, di mengukir senyum yang menyayat hati setelah mengungkapkan isi hatinya akan kekecewaannya pada Dave.
Tak memberikan respon, Farrel hanya menatap Davina dan mencoba untuk menjadi pendengar saja.
Karna saat ini yang dibutuhkan oleh Davina bukanlah nasehat, melainkan tempat untuk mendengarkan keluh kesah hatinya.
"Saat jatuh cinta, aku menaruh harapan besar akan kebahagiaan yang nantinya bisa aku dapatkan dari orang yang aku cintai."
"Ternyata itu sangat keliru. Harusnya aku justru menyiapkan hati untuk segala kemungkinan buruk yang terjadi, agar tak serapuh ini." Davina kembali mengukir senyum. Senyum yang serupa dan kali ini membuat Farrel merasa ikut sakit melihatnya.
Dia tau jika Davina wanita yang baik, wanita yang jarang dijumpai di luar sana. Dia selalu berfikir baik terhadap semua orang di sekitarnya dan selalu memberikan ketulusan pada semua orang.
...***...
...Jangan lupa vote buat yang belum😊...
__ADS_1
Bantu naikin viewers, karna setelah masuk rangking vote viewersnya naik drastis, ðŸ¤