
Davina menoleh, menatap Dave baru saja tertidur dengan satu tangan yang memeluknya dari belakang. Karna malas berdebat, Davina terpaksa menuruti permintaan Dave untuk tidur satu ranjang dengannya.
Hampir 1 jam Dave memeluk Davina sampai akhirnya pria itu tertidur.
Dengkuran halus menandakan jika Dave sudah terlelap dan mungkin sedang berada di alam mimpi.
Dengan hati-hati dan pelan, Davina mengangkat tangan Dave dari pinggangnya. Menyingkirkan tangan Dave agar bisa beranjak dari ranjang.
Begitu lepas dari pelukan Dave, Davina turun dari rajang dan keluar dari kamar itu untuk pindah ke kamar tamu.
Davina tak mau memberi harapan pada Dave atas keinginan pria itu untuk diberikan kesempatan lagi.
Dia sengaja pindah kamar untuk menghindari tidur satu ranjang dengan Dave, agar pria itu bisa berfikir bahwa kesempatan itu mungkin tak akan pernah ada.
...****...
Pagi itu Davina sengaja bangun lebih awal. Pukul 6 lewat 30 dia sudah selesai menyiapkan sarapan untuk Dave, juga menyiapkan obat milik Dave dengan meletakkannya di atas meja makan supaya Dave bisa langsung meminumnya setelah sarapan.
Begitu memastikan kebutuhan Dave sudah di siapkan, Davina membawa sarapan miliknya ke dalam kamar. Dia kembali menghindari Dave, kali ini dengan sarapan di dalam kamar agar tidak bertemu dengan pria itu.
"Apa yang harus aku lakukan," Gumamnya sendu.
Davina dibuat pusing dengan gugatan perceraiannya yang di tolak oleh Dave, hingga membuat proses perceraiannya di persulit dan terus mengulur waktu.
"Seandainya aku mengatakan mencintai laki-laki lain dan ingin hidup bersamanya, apa dia akan melepaskanku.?" Davina bertanya pada dirinya sendiri. Dia terlalu dipusingkan dengan permasalahan rumah tangganya yang belum menemukan titik terang untuk mengakhirinya.
"Davina,, buka pintunya,," Panggil Dave sembari menggedor pintu kamar.
Davina mengusap air matanya, dia beranjak dari kursi dan berjalan ke arah pintu.
"Aku akan keluar kalau Om membiarkanku pulang.!" Sahutnya berteriak.
"Sudah 2 hari aku disini. Mau berapa lama lagi Om mengurung ku.?!" Nada bicara Davina terdengar penuh kekesalan.
__ADS_1
Ini sudah hari kedua dia berada di apartemen Dave menuruti keinginan Dave atas dasar paksaan sekaligus kasihan mengingat kemarin kondisi Dave masih sangat lemah.
"Aku akan mengantarmu pulang setelah makan, tapi buka dulunya pintunya." Pinta Dave.
Dia pikir dengan membawa Davina ke apartemennya, bisa membuat hubungannya membaik.
Aku bisa pulang sendiri." Sahut Davina tegas.
Helaan nafas berat keluar dari mulut Dave. Membujuk Davina untuk membuka pintu saja tidak berhasil, entah bagaimana untuk membujuk Davina memaafkan kesalahan yang sudah dia perbuat.
Dia terlalu yakin bisa mendapatkan kembali kepercayaan dan cinta Davina setelah menghabiskan waktu bersama di apartemen meski hanya 2 hari. Tapi pada kenyataannya semua itu tak mengubah apapun, tak memberikan pengaruh baik sedikitpun bagi hubungannya dengan Davina. Karna Davina tetap saja masih membencinya dan bertahan pada keputusannya untuk bercerai.
Saat ini Dave sedang mengantarkan Davina pulang. Setelah melalui proses yang lama dan perdebatan panjang, akhirnya Davina bersedia di antar pulang oleh Dave.
Namun sepanjang perjalanan keduanya saling diam. Dave sudah mengajak Davina untuk berbicara dengan membuka obrolan, tapi Davina tak memberikan respon apapun. Dia memilih diam, membuang pandangan ke arah jendela.
"Makasih." Ucap Davina datar. Dia langsung membuka seatbelt begitu Dave menghentikan mobilnya di halaman rumah Sandra.
Pria itu menatap dalam dengan segala perasaan yang berkecambuk. Rasa bersalahnya semakin besar karna hingga detik ini belum bisa memperbaiki pernikahannya.
Dave mendekat, tiba-tiba mendaratkan kecupan di kening Davina. Ulah Dave membuat Davina membulatkan matanya karna kesal. Dia langsung menjauhkan diri dari Dave.
"Sampai kapan akan menyiksaku seperti ini, hemm.?" Tanya Dave lembut. Dia mengusap sekilas pipi Davina sembari memaksakan senyum. Senyum di tengah dadanya yang terasa sesak. Rindu akan kebersamaannya dengan Davina. Bisa menyentuh dan memeluknya tanpa ada rasa bersalah dan sakit karna penolakan.
"Aku mohon jangan meneruskan gugatannya, aku akan menunggu sampai kamu mau memaafkan dan menerimaku lagi." Pinta Dave.
Davina menarik tangannya dari genggaman Dave, tanpa memberikan jawaban apapun, Davina segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Dave terlihat frustasi menatap kepergian Davina. Dia tak bisa berbuat apapun saat ini. Di kejar ataupun tidak di kejar, Davina akan tetap menjauhinya.
Permintaan maaf dan pengakuan rasa bersalahnya yang tulus, seakan tak bisa membuka kembali hati Davina untuknya meski hanya secuil.
Dave membuang nafas kasar. Kehancuran yang dia rasakan saat ini akibat kebodohannya sendiri. Kini dia sedang menuai rasa sakit dan penyesalan atas kebodohannya itu.
__ADS_1
Keputusan Davina untuk tinggal terpisah dengannya, membuat Dave merasakan kehampaan dalam hidupnya.
...****...
"Kak, Kak Farrel baik-baik saja.?" Dengan wajah cemas, Davina masuk begitu saja ke dalam kamar Farrel untuk memastikan jika kakaknya itu tidak mendapatkan kekerasan dari Dave 2 hari yang lalu.
Farrel bahkan masih berada di atas ranjang. Dia terbangun karna mendengar suara Davina yang cukup keras memenuhi kamar.
"Emmm,,," Farrel menggeliat. Dia belum sepenuhnya membuka mata.
"Aku tanya, apa kakak baik-baik saja.?" Ujar Davina lagi. Dia langsung duduk di sisi ranjang. Memperhatikan dengan seksama wajah Farrel, takut jika ada luka di sana akibat ulah Dave.
"Aku baik-baik saja. Kapan pulang.?" Tanya Farrel. Dia mulai bangun dan ikut duduk di sisi ranjang.
"Syukurlah,," Davina langsung bernafas lega.
"Aku pikir Om Dave memukulmu."
Melihat tatapan Dave yang begitu marah pada Farrel pagi itu, Davina jadi berfikir jika Dave akan menghajar Farrel. Tapi untung saja hal itu tidak terjadi.
"Apa Mama dan Papa sudah pulang.?" Tanya Davina.
Farrel tak langsung menjawab, dia malah menatap dalam ke arah Davina. Setelah beberapa detik dia baru mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Mereka bilang baru akan sampai siang ini." Sahut Farrel. Dia lalu beranjak dari ranjang.
"Aku mau mandi, sana keluar.!" Usirnya tegas. Setelah bicara seperti itu sembari menatap Davina, Farrel langsung pergi ke kamar mandi.
Davina mengerutkan dahi. Bingung melihat Farrel yang tiba-tiba berubah sikap. Mulai dari nada bicaranya yang berubah ketus dan raut wajah serta tatapan matanya yang terlihat kesal.
"Ckk.!! Ada apa dengannya." Gerutu Davina sembari beranjak dari ranjang. Dia bingung sendiri dengan sikap Farrel.
"Om dan keponakan sama saja kalau sedang mode ketus dan dingin." Gumamnya lalu keluar dari kamar Farrel.
__ADS_1