
Davina buru-buru turun dari ranjang dan bergegas pergi ke kamar mandi karna mendengar Dave sedang muntah.
"Om,,?" Davina menatap Dave yang tengah berdiri di depan wastafel. Pria itu terlihat mengeluarkan cairan berwarna kehijauan dari mulutnya. Dengan wajah pucat dan mata yang sayu, Dave terlihat sangat lemas.
"Jangan kesini, aku sedang,,, hueekkk,,," Dave kembali memuntahkan cairan itu lagi.
Dia lalu mengisyaratkan gerakan tangan pada Davina untuk keluar dari kamar mandi. Dave tidak mau Davina merasa jijik melihatnya sedang muntah.
Davina langsung pergi dari sana, dia keluar dari kamar mandi bukan karna menuruti permintaan Dave, melainkan untuk pergi ke dapur dan mengambilkan air hangat untuknya.
Sampainya di dapur dan mengambil segelas air hangat, Davina segera kembali ke kamarnya. Sepanjang menuju kamar, dia merasa heran karna sampai sekarang perutnya tidak terasa mual.
Padahal biasanya setiap bangun tidur di pagi hari,. Davina akan merasakan perutnya terasa mual dan tak lama setelah itu pasti memuntahkan isi perutnya. Tapi entah kenapa pagi ini dia tak merasakan apapun.
"Minum dulu airnya,," Davina menyodorkan gelas berisi air hangat pada Dave. Pria itu sudah berhenti muntah, wajahnya semakin terlihat pucat. Tubuh tegapnya yang berotot, kini seolah kehilangan seluruh tenaganya.
Saat Davina masuk ke kamar mandi, Dave bahkan sedang menyenderkan tubuhnya pada dinding. Dia bahkan kehilangan tenaga untuk menopang tubuhnya.
"Makasih,," Lirih Dave. Dia mengulas senyum tipis sembari menerima air hangat dari Davina.
Meneguk nya perlahan sampai habis dan meletakkannya di atas wastafel.
"Sebaiknya ke dokter saja." Kata Davina. Melihat kondisi Dave yang begitu pucat dan lemas, Davina khawatir dengan kondisi suaminya itu.
"Pergi ke dokter bukan solusi, aku sudah 2 kali ke dokter dan masih seperti ini." Tutur Dave pasrah.
Dave tentu saja bukan pergi ke sembarang dokter. Dia bahkan mencari dokter spesialis ternama hanya untuk memeriksakan dirinya. Tapi nyatanya kondisinya tak berubah, walaupun sudah mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter itu.
Lagipula gejala yang dia rasakan bukan karna kondisi kesehatannya terganggu.
__ADS_1
Davina hanya diam saja menatap Dave. Dia sadar kalau sebenarnya Dave sedang mengalami gejala yang sama sepertinya. Dan Davina tau semua itu akibat kehamilan anak pertama mereka.
"Aku akan siapkan air hangat untuk mandi." Davina beranjak untuk mengisi bathtub dengan air hangat.
Sejauh yang dia rasakan sejak mengalami muntah setiap pagi, Davina merasa jauh lebih baik saat berendam air hangat.
Dan mengangguk dan membiarkan Davina menyiapkan air untuknya. Dia hanya diam di tempat untuk mengumpulkan kembali tenaganya yang telah terkuras karna terus muntah.
"Om bisa mandi sekarang,," Kata Davina setelah menyiapkan air di dalam bathtub. Bahkan sudah mencampur air itu dengan sabun dan aroma terapi yang akan membuat Dave jauh lebih baik.
"Kamu mau kemana.?" Dave menahan tangan Davina.
"Kenapa tidak berendam bersama saja." Ucapnya dengan nada mengajak.
"Jangan aneh-aneh, aku harus keluar" Davina menolak mentah-mentah ajakan Dave, dia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Dave agar bisa keluar dari kamar mandi.
"Apanya yang aneh.? Suami istri mandi bersama itu hal yang wajar." Kata Dave lirih. Dia memasang wajah memelas, dan tiba-tiba kembali terlihat lemas seperti sebelumnya.
Karna terlalu ingin mandi bersama dengan Davina, dia mencari alasan yang tepat agar Davina mau mengabulkan permintaannya.
"Kalau aku sampai tidak sadarkan diri dan telat mendapatkan pertolongan, aku,,
"Alasan.!" Ketus Davina kesal. Tapi dia mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar mandi, dan malah berjalan mendekati bathtub.
Melihat hal itu, Dave langsung bersorak senang dalam hati. Dia bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya sampai mengulas senyum lebar.
Dia pergi untuk mengunci pintu kamar mandi, lalu menghampiri Davina.
"Kenapa tidak di lepas semuanya.?" Tanya Dave yang melihat Davina menyisakan celana da -lama dan penutup aset kembarnya.
__ADS_1
Sedangkan Dave sudah melucuti semua kain yang menempel di tubuhnya, dan membuat Davina terus meluruskan pandangan ke depan tanpa berani menatap ke bagian bawah tubuh Dave.
"Untuk apa di lepas, itu hanya akan membuat buaya darat di dalam bathtub kegirangan." Sahut Davina datar. Dia memberikan julukan pada Dave dengan sebutan buaya darat.
Dave hanya mengulum senyum, merasa lucu saat Davina menyindirnya.
"Baiklah, mungkin nanti buaya darat itu yang akan melepaskannya." Sahut Dave santai. Dia kemudian masuk ke dalam bathtub lebih dulu.
Posisi Dave yang membelakangi Davina, membuat wanita itu bisa melihat jelas tubuh polos Dave dari belakang.
Fokus Davina langsung tertuju pada bekas tato yang pudar. Bunga Daisy yang dulu terlihat cantik di punggung Dave, kini sudah tak terlihat bentuknya.
Menghilangnya tato bunga Daisy dari tubuh Dave, sedikit memudarkan rasa kecewa yang ada di hati Davina. Meski luka di hati Davina belum mengering, setidaknya keputusan Dave untuk menghapus tato itu mampu membuat Davina merasa lebih baik.
"Ayo masuk,," Dave membuyarkan lamunan Davina, dia mengulurkan tangan pada istrinya itu agar segera masuk ke dalam bathtub.
Mendekap tubuh Davina dari belakang, Dave meletakkan dagunya di pundak Davina.
Keduanya saling terdiam untuk beberapa saat dalam posisi seperti itu.
“Aku tidak mau kamu bosan mendengar kata maaf diriku." Suara Dave begitu dalam.
"Maaf,, aku akan terus meminta maaf padamu."
"Tidak ada penyesalan yang lebih menyakitkan saat aku melukai perasaan kamu dan melihatmu menangis karenaku." Suara Dave terdekat. Membuat Davina terluka, sama saja seperti melukai diri sendiri. Dave baru menyadari bahwa Davina jauh lebih berharga dalam hidupnya.
"Aku mencintaimu Davina, sangat mencintaimu."
Dave semakin mendekap erat tubuh Davina. Merasakan ketenangan dan kedamaian dalam hatinya saat berada di samping Davina.
__ADS_1
"Saat seseorang diam dan berulang kali memberi kesempatan, jangan pernah berfikir bahwa seseorang itu sangat mencintaimu dan tak bisa hidup tanpamu."
"Terkadang mereka hanya ingin melihat sejauh mana orang yang dia cintai pantas untuk di pertahankan." Ucap Davina penuh penekanan.