Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 37


__ADS_3

"Setelah kejadian ini kamu masih berfikir untuk datang ke club.?!" sentak Dave begitu dia selesai memarkirkan mobil Davina di garasi rumah. Davina hanya bisa menundukkan kepala, dia sadar apa yang baru saja terjadi hampir membahayakan dirinya sendiri. Wajar saja kalau Dave sangat marah padanya.


Pria itu sampai mengepalkan kedua tangannya selama menyetir mobil. Tak mau bicara dan wajahnya memerah karna menahan amarah.


"Datang saja.! Kalau hal itu terulang lagi, jangan harap saya akan datang dan menolong kamu." Ketus Dave.


Dia bergegas turun dari mobil, menutup pintu dan masuk ke dalam rumah.


Jika dia telat datang sedikit saja, entah apa yang terjadi dengan gadis kecilnya itu. Sedangkan di,sana tak ada yang berani menolong Davina karna takut pada pemilik club itu. Beruntung Dave datang tepat waktu setelah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menyusul Davina.


Davina juga bergegas turun dari mobil, dia setengah berlari menyusul Dave yang sudah menaiki tangga untuk menuju kamar.


"Kenapa Om seperti ini.?!" Davina menarik tangan Dave, membuat pria itu berbalik badan menatapnya.


"Kenapa Om.?!!" Tanyanya lagi.


Sorot mata Davina terlihat putus asa dan kacau. Dia tak bisa membohongi perasaannya sendiri, tidak bisa berpura-pura acuh, apalagi mencoba untuk membuang perasaannya terhadap Dave.


"Kenapa seseorang bisa berbuat seenaknya pada orang yang sangat mencintainya.?!"


"Apa karna Om berfikir aku akan terus mengejar dan memohon.?!"


"Sekali saja jangan dingin dan ketus padaku.!" Mata Davina sudah berkaca-kaca, tapi dia berusaha untuk tidak menangis di depan Dave. Laki-laki itu pasti akan semakin berbuat sesuka hati kalau tau dia sangat mencintainya.


Dave terlihat panik, dia melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain di sana termasuk Edwin dan Sandra.


"Kita bicara di dalam." Ucap Dave.


Dave menggandeng tangan Davina, mengajak gadis itu masuk ke kamar, kemudian menguncinya agar tidak ada yang mengetahui mereka berada di dalam kamar Davina.


"Ayolah Davina, jangan lakukan hal itu lagi." Pinta Dave. Apa yang baru saja Davina lakukan bisa membuat semua penghuni rumah tau kalau keduanya memiliki hubungan.


"Kalau Papa dan Mama mu tau, saya nggak akan di ijinkan lagi tinggal di rumah ini." Ada nada kekesalan dalam ucapannya. Dave sengaja meminta tinggal di rumah ini agar bisa lebih dekat dengan Davina dan tentunya untuk menghindari Jasmine. Karna jika masih tinggal di apartemen, Jasmine akan melakukan seribu satu cara untuk menginap di apartemennya. Rencana yang sudah dia susun dengan matang bisa berantakan kalau sampai itu terjadi.


"Aku mengerti.! Aku janji nggak akan mengulanginya lagi. Sekarang Om boleh keluar.!" Davina melepaskan tangannya dari gandengan Dave. Dia beranjak, meletakkan tas di atas nakas kemudian masuk ke kamar mandi. Tapi sebelum dia menutup pintunya, Dave sudah lebih dulu ikut masuk ke kamar mandi. Pria itu menggiring pelan tubuh Davina untuk masuk lebih dalam ke kamar mandi.


"Sudah saya ingatkan, jangan coba-coba mengabaikan saya.!" Geram Dave kesal. Dia tidak suka melihat Davina mengabaikannya.


"Aku nggak boleh mengabaikan Om.? Tapi kenapa Om Dave bisa sesuka hati mengabaikanku, dingin dan ketus padaku.!"

__ADS_1


"Om Dave egois.!" Davina menatap tajam. Dia meluapkan kekesalannya dengan penuh amarah.


Siapa yang tidak akan marah jika diperlakukan seperti itu. Disini sudah jelas kalau Dave yang sudah berbuat seenaknya, tapi Dave sendiri malah tidak terima.


"Siapa yang mengabaikan kamu.?" Dave menatap lekat wajah gadis cantik di hadapannya. Tatapan mata sendunya membuat Dave gelisah.


"Saya memang seperti ini Davina,," Ucapannya penuh penekanan.


"Kalau saya mengabaikan kamu, untuk apa saya menyusul kamu ke club. Untuk apa saya mengijinkan kamu ikut pergi bersama Jasmine."


"Dimana letak mengabaikannya menurut kamu.?"


Dengan nada bicara yang tenang dan santai, Dave menahan emosi yang sebenarnya bergejolak sejak tadi.


"Saya nggak menutup-nutupi hubungan dengan Jasmine yang sebenarnya. Dan kamu tau betul tentang itu,,,"


"Apa yang harus kamu cemaskan dan cemburui darinya.?" Tanya Dave tak habis pikir. Dia merasa sikap Davina terlalu berlebihan setelah melihatnya menggandeng tangan Jasmine. Sedangkan apa yang dia lakukan semata-mata hanya untuk membuat Jasmine cepat pulang dan mengakhiri perdebatan malam itu.


"Tapi aku nggak mau jadi selingkuhan Om Dave.!" Seru Davina. Dia terlihat sedih bercampur kesal dengan situasi dan statusnya saat ini.


"Saya nggak pernah anggap kamu sebagai selingkuhan. Kamu sendiri yang berspekulasi seperti itu." Sahut Dave santai.


Dia tidak berspekulasi sendiri, dia bicara seperti itu sesuai dengan fakta yang ada. Menjalin hubungan dengan seseorang yang sudah memiliki tunangan, bukankah itu selingkuhan.?


"Saya sudah pernah mengatakannya padamu, jangan harap saya akan mengulangi ucapan itu lagi.!" Ucap Dave penuh ketegasan.


...*****...


Davina keluar dari walk in closet setelah mengganti dressnya dengan baju tidur. Kedua matanya menyipit ketika melihat sosok Dave masih berada di dalam kamarnya. Dia pikir Dave sudah keluar dari kamarnya saat dia masuk ke walk in closet, tapi rupanya pria dewasa itu masih betah duduk di sisi ranjang. Bisa dilihat dari posisinya yang sejak awal masih seperti itu.


"Kenapa masih disini.? Sebaiknya Om keluar dan tidur di kamar Om sendiri.!" Sudah ketiga kalinya Davina mengusir Dave, tapi hanya dijadikan angin lalu.


"Kamu nggak kangen sama saya.?" Dave menatap lekat wajah Davina dengan sorot mata dalam.


"Kangen.? Kenapa harus kangen.?!" Davina mengelak. Dia membohongi perasaannya sendiri. Rasa malunya lebih besar daripada untuk mengakui perasaannya saat ini.


"Yang ada aku justru benci sama Om.!" Ketusnya.


"Kalau Om mau tidur dikamar ini, silahkan saja. Biar aku yang tidur di kamar Om.!"

__ADS_1


Langkah Davina langsung di hadang oleh Dave.


"Kamu yakin mau keluar.?" Tanya Dave dengan senyum smirk.


"Kuncinya ada di dalam." Dave menatap ke bagian bawah perutnya. Dia sudah mencabut kunci dan menyimpannya dalam celana pendek miliknya yang dibalut celana jeans.


"Aku akan mengambilnya.!" Seru Davina tegas. Tak ada keraguan sedikitpun dara ucapan dan raut wajah Davina.


"Om pikir aku nggak berani.?" Kini giliran Davina yang mengulas senyum smirk.


Gadis itu langsung berlutut di hadapan Dave, tanpa ragu kedua tangannya memegang celana Dave untuk membuka kancing dan resleting celana.


Ulah Davina membuat Dave gelisah, dia sampai menelan salivanya menatap posisi wajah Davina yang berhadapan langsung dengan miliknya.


"Sii-all.!!" Umpat Dave dalam hati. Dia dibuat panas dingin dengan ulah Davina.


"Jangan coba-coba membukanya Davina.! Atau kamu akan tanggung sendiri akibatnya,,!" Tegur Dave. Dia sampai menahan kedua tangan Davina yang sudah berhasil membuka kancing celana jeans miliknya.


"Om sendiri yang minta, jadi jangan salahkan aku."


Davina mengibas kasar kedua tangannya untuk lepas dari genggaman Dave, kemudian langsung menurunkan resleting itu.


"Davina,,!" Seru Dave dengan suara seraknya yang bercampur gairah.


Tangan Davina menyentuh miliknya hingga membuatnya mengeras dalam hitungan detik.


Tubuhnya semakin panas, sesuatu yang sudah lama tertahan, seperti ingin meledak keluar.


"Aku mau ambil kuncinya Om.!" Geram Davina. Dia tak memperdulikan peringatan Dave dan kini sudah berhasil menurunkan celana jeans itu hingga sebatas paha.


"Aaaa,,,, ya ampun,, besar sekali,,!!" Pekik Davina kaget. Dia sampai terjungkal ke belakang begitu melihat sesuatu di dalam sana menyembul dari balik celana pendek Dave. Walaupun tak melihat langsung seperti apa wujud benda itu, tapi tercetak jelas dari balik celana.


"Davina kau,,,!!!" Dave menatap kesal pada gadis yang sedang menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Bersamaan dengan itu, Dave langsung menaikan kembali celana jeansnya.


"Sepertinya kamu harus diberi pelajaran.!" Geram Dave. Dia mengangkat tubuh Davina dan membawanya ke ranjang.


...*...

__ADS_1


Ampun Om,, jangan di apa-apain, aku masih polos. 🤣


__ADS_2