
Suasana di ruang keluarga seketika tegang setelah Edwin menyuruh Dave untuk bergabung dengan bicara ketus dan tatapan tajam padanya.
"Saya sudah memberikan kesempatan padamu atas permintaan Davin, tapi kamu tidak mau berusaha untuk belajar dari kesalahan dan justru menyia-nyiakan kesempatan yang sudah di berikan oleh Davina padamu.!"
Edwin menatap kecewa.
Untuk kedua kalinya hatinya dibuat hancur sebagai seorang ayah yang putrinya diperlakukan buruk oleh menantunya.
Seseorang yang seharusnya bisa dia percaya untuk menjaga dan melindungi putrinya, justru dialah orang menorehkan luka hingga membuat putrinya menangis.
Edwin bahkan tidak tau permasalahan apa yang sedang mereka hadapi, karna Davina tak mau menceritakan apa yang telah dilakukan oleh Dave padanya. Putrinya itu hanya meminta bantuan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Dave, dan meminta untuk meneruskan studi di luar negeri.
Terlepas apa yang sudah di lakukan Dave pada Davina, Edwin bisa merasakan jika putrinya sangat hancur dan terluka. Karna seumur hidupnya, Edwin baru melihat kehancuran begitu besar di mata Davina untuk kedua kalinya. Yaitu pada saat dia kehilangan Mama kandungnya, dan kehancuran yang ditunjukkan saat ini.
Dave menatap bingung, mencoba memahami situasi yang sedang terjadi. Dia menyadari kalau Edwin telah mengetahui sesuatu tentangnya hingga terlihat begitu marah. Namun kali ini dia dibuat bingung lantaran merasa hubungannya dengan Davina baik-baik sampai detik ini.
"Ada apa ini.? Aku tidak mengerti." Dave menatap Davina dan Edwin bergantian untuk meminta penjelasan. Dia juga sempat menatap Sandra, namun kakaknya itu langsung mengalihkan pandangan setelah menatap kecewa ke arahnya.
"Harusnya saya yang bertanya seperti itu padamu.?!" Tegas Edwin.
"Kegilaan apa lagi yang sudah kamu perbuat pada putriku sampai dia begitu hancur,!" Edwin menatap tajam.
Jika sudah menyangkut soal anak, dia tak akan pernah tinggal diam. Apalagi selama bertahun-tahun dia yang telah merawat dan membesarkan Davina seorang diri dengan penuh cinta, kelembutan dan perhatian penuh.
Tak pernah membuat putrinya itu menangis karenanya.
Dave seketika terdiam. Dia semakin paham dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
Menoleh dan menatap lekat wajah Davina, Dave bisa merasakan perubahan sikap dan raut wajah Davina yang begitu sendu. Istrinya itu bahkan sedikit bergeser untuk. membuat jarak dengannya. Davina juga tak mau menatap ke arahnya sedikitpun.
"Harusnya memang sejak awal putriku mengakhiri pernikahan kalian. Tanpa harus merasakan sakit untuk kedua kalinya.!" Amarah Edwin semakin meluap.
__ADS_1
"Untuk apa harus di akhiri.? Kami berdua baik-baik saja," Jawab Dave yakin.
Davina seketika menoleh, menatap dalam dengan tatapan penuh luka dan keputusasaan.
"Mungkin Om yang baik-baik saja, bukan aku." Ujar Davina.
Tentu saja Dave baik-baik saja karna tidak merasakan bagaimana sakitnya menikah bersama seseorang yang masih terbelenggu dalam cinta masa lalu. Seolah kehadirannya tak berarti apapun untuknya.
"Aku ingin kita bercerai.!" Tegas Davina tanpa keraguan sedikitpun. Dia sudah memikirkan matang-matang keputusannya sejak 1 minggu yang lalu.
Jika berpisah bisa bisa membuatnya bahagia, untuk apa harus bertahan dengan luka dan air mata.
Cinta bisa pudar seiring berjalannya waktu, tapi luka akan meninggalkan bekas sekalipun telah di sembuhkan.
"Kenapa tiba-tiba seperti ini.?" Tanya Dave lirih. Dia hendak memegang tangan Davina, namun segera di tepis pelan.
"Nggak ada yang tiba-tiba karna telah melewati banyak proses yang sulit dan menyakitkan." Sahut Davina datar.
"Aku sudah yakin dengan keputusanku Pah. Tolong percepat proses perceraian kami." Pinta Davina memohon.
"Aku ingin istirahat,," Davina beranjak dari duduknya.
Melihat Davina yang akan pergi, Dave langsung memegang tangannya.
"Kita tidak akan bercerai. Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan kamu." Ucap Dave tegas. Davina hanya tersenyum kecut, dia menyingkirkan tangan Dave bergegas pergi dari ruang keluarga.
Tidak ada kesempatan bagi hati yang sudah mendua, sekalipun Dave tak menjalin hubungan dengan wanita itu.
Sebagai seseorang yang pernah merasakan sakit karna di khianati, permasalahan ini bukanlah hal biasa. Dave salah jika mempermainkan perasaan Davina dan hanya menjadikannya sebagai pelampiasan semata.
...*****...
__ADS_1
"Davina,, kamu nggak sarapan dulu sayang.?" Sandra mencegah langkah Davina yang hendak pergi ke garasi.
"Papa sudah menunggu di meja makan, ayo sarapan dulu,," Ajaknya lembut.
"Maaf Mah, aku harus berangkat sekarang. aku akan sarapan di kampus saja."
"Aku berangkat,," Pamitnya lalu kembali melangkahkan kaki.
Davina melajukan mobilnya ke luar halaman rumah. Seseorang yang menghadangnya di luar gerbang, membuat Davina terpaksa menghentikan mobil.
"Kita harus bicara Davina. Aku akan memperbaiki semuanya,," Dave mengetuk pelan kaca mobil Davina.
"Aku mohon maafkan aku." Dave menatap sendu.
Dia menyesal karna tidak menghargai keberadaan Davina di sisinya.
Davina menghela nafas berat, dia mematikan mobil dan bergegas turun.
"Bicaralah, 10 menit dari sekarang." Tegasnya sembari menatap jam di pergelangan tangannya.
Dia hanya memberikan waktu selama 10 menit pada Dave untuk berbicara.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku,," Ucap Dave. Dia menunduk dan perlahan berlutut di depan Davina.
"Aku mohon maafkan kebodohanku kali ini saja. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan memulai dari awal." Suara Dave tercekat.
Tak ada yang bisa dia lakukan selain memohon pada Davina, karna Papa Edwin tak akan merubah keputusannya kecuali Davina sendiri yang merubahnya.
"Kamu boleh menghukum ku dengan cara apapun, tapi tidak dengan cara meninggalkanku."
Dave menatap memohon, berharap Davina akan berubah pikiran dan mengurungkan niatnya untuk tidak bercerai.
__ADS_1
"Bukan aku yang meninggalkan Om, tapi Om sendiri yang tanpa sadar sudah membuatku pergi.!"