Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 58


__ADS_3

Dave keluar dari ruang kerja dengan langkah lesu. Raut wajahnya terlihat sangat frustasi dan kacau. Bagaimana tidak, pernikahan yang baru beberapa hari ia jalani terancam kandas akibat kesalahannya sendiri. Dia terlalu gegabah dalam bertindak. Hanya menyimpulkan apa yang dia lihat dan langsung menghakimi bahwa Davina bersalah dan pantas mendapatkan balasan darinya tanpa berusaha untuk menanyakan langsung kejadian itu pada Davina.


Dan disaat Davina sudah mengatakan kebenarannya, Dave seolah tak mau tau dan menutup mata.


"Kenapa lu Om, kok mukanya ditekuk gitu,,?" Dengan tampang santai, Farrel sengaja bertanya untuk memancing kekesalan Dave.


Dia sudah tau permasalahan apa yang sedang di hadapi oleh Om nya hingga membuat wajah tampan itu terlihat kusut.


Dia tau karna Edwin sempat memutar rekaman cctv itu di ruang keluarga yang di saksikan sendiri oleh dia dan sang Mama. Dan pada saat menunjukkan vidio itu, Edwin marah besar. Papa sambungnya terlihat sangat kecewa pada Dave. Lagipula orang tua mana yang akan diam saja melihat putrinya diperlakukan kasar.


"Nggak usah berisik kamu.!" Tegur Dave geram. Tatapan tajamnya membuat Farrel bergidik ngeri. Lebih mengerikan dari yang biasa Dave tunjukkan ketika pria itu tengah marah.


"Makanya Om, punya istri cantik tuh dilembutin, bukan,,,,


"Bukan urusan kamu.!" Potong Dave sembari berlalu dari hadapan Farrel dan keluar dari rumah Sandra.


Dave harus menerima akibat dari perbuatannya, yaitu tidak di ijinkan untuk bertemu ataupun membawa pulang Davina ke apartemennya.


Meski sudah memohon dan meminta maaf berulang kali, hal itu tak mampu meluluh hati seorang ayah yang kecewa karna putrinya di perlakukan buruk olehnya.


Edwin juga tetap bersikeras untuk mengakhiri pernikahannya putrinya. Sebagai seorang ayah, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk melindungi putri tercintanya dari laki-laki kasar dan emosional.


Masuk kedalam mobil dengan membanting pintu, Dave memukul kemudi untuk melupakan emosinya.


"Harusnya aku tidak membiarkan wanita itu hidup.!" Geram Dave penuh amarah. Nyatanya meski sudah balas dendam dan membuat keluarga itu hancur, Dave masih dibuat geram dengan ulah Jasmine.


Dave lalu bergegas pergi dari sana, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Dia akan mencari cara dan berusaha untuk mendapatkan maaf dari Papa Edwin, agar bisa membawa pulang Davina ke apartemennya.


...****...


"Apa saja yang sudah Dave lakukan sama kamu.?"


"Apa dia memukul atau melukaimu.?" Tanya Edwin cemas. Dia sampai pindah duduk di samping Davina dan menatap lekat putrinya untuk memastikan tidak ada luka fisik di tubuh Davina yang di tinggalkan oleh Dave.


"Om Dave nggak seperti itu. Papa hanya salah paham,," Tutur Davina untuk memberikan pembelaan pada Dave.

__ADS_1


Bukannya dia terima begitu saja atas perlakuan buruk Dave. Tapi dia sadar kalau semua itu tak sepenuhnya kesalahan Dave.


Davina bisa mengerti kenapa Dave begitu marah dan melampiaskan kemarahan padanya. Itu hanya bentuk dari kekecewaan dan rasa sakit hati karna merasa di khianati.


"Salah paham bagaimana.? Apa bukti itu belum cukup.?" Edwin sedikit kecewa karna putrinya malah memberikan pembelaan untuk Dave. Padahal rekaman cctv itu sudah cukup membuktikan bagaimana kasarnya perlakuan Dave pada Davina. Menyeret tangan Davina hingga putrinya itu kesulitan mengikuti langkah Dave


"Om Dave sudah mengaku salah dan meminta maaf."


"Lagipula ada masalah lain yang nggak bisa aku ceritakan sama Papa. Masalah yang membuat Om Dave jadi bersikap kasar padaku."


Untuk kali ini Davina mengurungkan niatnya meminta cerai dari Dave. Dia merasa kalau Dave akan memperbaiki kesalahannya dan bersikap lembut padanya.


Ditambah raut wajah Dave saat tadi memohon sampai berlutut di kaki Papa Edwin. Davina bisa merasakan ketulusan dan penyesalan darinya.


Hal itu membuat Davina tidak tega jika harus meninggalkan Dave.


"Memangnya sebesar apa masalah itu sampai Dave bisa berbuat kasar sama kamu.?" Tanya Papa Edwin dengan nada bicara yang sedikit meninggi


"Apapun masalahnya, kekerasan tidak bisa di benarkan."


"Papa bahkan tidak pernah kasar sama kamu." Tutur Edwin.


Davina rela memohon, memegang tangan Papa Edwin dan menatapnya memohon.


...****...


Pagi itu suasana di ruang makan cukup tegang karna baru saja terjadi perdebatan antara putri dan ayahnya. Sandra juga tak bisa banyak membantu Davina untuk mengabulkan keinginannya. Karna semua kekacauan itu berasal dari adiknya dan Sandra tidak berani menentang ucapan Edwin.


"Kamu harus berangkat dan pulang sama Farrel. Papa nggak mau dengar kamu pulang terlambat, apa lagi dengan alasan bertemu Dave." Tegas Edwin.


"Biarkan saja dia merenungi kesalahannya sampai benar-benar bisa memperbaiki sikap dan mengontrol emosinya."


"Dia harus merasakan arti kehilangan agar menyadari seberapa berartinya kamu."


Davina hanya menganggukkan kepala tanpa berani menjawab perkataan Papa Edwin.


Mungkin memang keputusan itu yang paling tepat saat ini. Menjaga jarak dan tinggal terpisah dari Dave untuk saling merenung dan introspeksi diri.

__ADS_1


"Jangan cemberut terus nanti cantiknya ilang,," Kata Farrel setelah menyusul masuk ke dalam mobil. Davina hanya menoleh dengan mengulas senyum tipis.


Tadi malam dia tidak bisa tidur karna memikirkan Dave. Papa Edwin bahkan sampai menyita ponselnya agar dia dan Dave tidak bisa berkomunikasi.


"Makanya masih bocah tuh nggak usah gaya-gayaan nikah, gini kan jadinya."


"Papa sampai turun tangan." Tutur Farrel santai.


"Kak Farrel juga, masih bocah udah modusin puluhan cewe di kampus.! Jadi orang jangan suka PHP anak orang.!" Sahut Davina tak mau kalah.


"Memangnya nggak bisa setia sama 1 orang.?"


"Kasian kan si Nabila, di PHP in sama buaya."


"Jadi nyesel udah kenalin dia ke Kak Farrel."


Davina terus menggerutu. Tapi Farrel tak menghiraukannya karna menurutnya, apa yang dia lakukan bukan sebuah kesalahannya. Wajar jika dia mendekati banyak wanita sekaligus di usia muda yang memang waktunya untuk bersenang-senang. Lagipula tak ada ikatan resmi dengan wanita mana pun, jadi Farrel merasa berhak untuk dekat dengan siapa saja.


"Kak Farrel dengerin aku nggak sih.?!" Seru Davina. Dia sudah bicara panjang lebar tapi Farrel tidak memberikan merespon.


"Iya bawel."


"Jangan berisik, aku lagi fokus nyetir. Kalau terlambat sedikit saja, kartu As ku akan di bongkar di depan Mama. Bisa mati aku." Keluhnya dengan wajah yang terlihat frustasi.


Davina mengerutkan kening, tidak paham maksud ucapan Farrel.


"Terlambat apaan sih Kak.? Jam kuliah masih 30 menit lagi. Sebentar lagi juga sampai kampus." Sahut Davina. Tapi lagi-lagi Farrel tak menanggapi. Dia fokus menyetir dan sedikit menaikan kecepatan.


"Loh,, kok belok.? Kamu salah ambil jalan Kak. Harusnya masih lurus." Tegur Davina. Dia kebingungan lantaran Farrel tidak mengarahkan mobilnya menuju kampus.


"Sejak kapan apartemen Om Dave bisa lewat jalan itu." Jawab Farrel datar.


Davina melongo. Tidak berfikir kalau Farrel akan membawanya ke apartemen Dave.


Farrel sepertinya ingin mencari perkara dengan Papa Edwin. Farrel dilarang untuk membiarkan Davina bertemu dengan Dave, tapi laki-laki itu justru mengantarkan Davina pada Dave.


"Jangan gila Kak, Papa akan marah kalau tau,," Ucap Davina panik.

__ADS_1


"Aku lebih takut Om Dave marah padaku.!" Sahut Farrel cepat.


"Selama kamu diam, Papa nggak akan tau." Ujarnya lagi.


__ADS_2