Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 57


__ADS_3

Sampainya di ranjang, Dave membaringkan tubuh Davina dengan perlahan. Menatap lekat wajah istrinya itu. Tatapan dalam yang bercampur gairah, seolah mampu menghipnotis Davina. Amarah dan kekesalan yang sempat meluap, seakan hilang begitu saja dan membuatnya tak bisa berkutik. Diam tanpa memberikan penolakan atas sentuhan tangan Dave di bagian pipi dan leher. Memberikan usapan lembut hingga mampu mengalirkan gairah.


Dave mengungkung tubuh Davina, pria itu mulai merasakan kembali lembut dan manisnya bibir sensual Davina dengan *****-an perlahan namun dalam. Terlihat sangat menikmati setiap inci bibir merah muda tanpa olesan lipstik.


Davina semakin hanyut, terbawa suasana karna tatapan dan perlakuan Dave. Dan tanpa sadar membalas ciuman itu. Memejamkan mata, merasakan gelayar yang menggetarkan hati.


"Maaf,," Ucap Dave dengan nada bicara yang dalam. Dia melepaskan sebentar pagutan bibirnya hanya untuk mengucapkan kata maaf yang membuat Davina tertegun. Setelah itu, Dave kembali melanjutkan ciumannya.


Suara dering ponsel di atas nakas, menghentikan sejenak aktivitas pertukaran saliva itu. Keduanya kompak menoleh pada sumber suara tanpa melepaskan tautan bibir.


Tapi hal itu tak berlangsung lama karna Dave kembali melu-mat bibir Davina. Pria itu membiarkan ponselnya terus berdering tanpa ada niatan untuk mengangkat panggilan telfon yang masuk ke ponselnya.


Dia lebih tertarik melanjutkan aktivitas yang mulai terasa panas.


"Om,, angkat dulu telfonnya." Ucap Davina setelah mendorong dada Dave hingga membuat ciumannya terlepas.


Selain suaranya yang mengganggu, Davina merasa kalau telfon itu sangat penting karna sampai menelfon berulang kali.


"Shi-ttt.! Mengganggu saja.!" Umpat Dave geram. Dia menyingkir dari atas tubuh Davina untuk meraih ponsel yang atas di nakas samping tempat tidur.


Begitu Dave menyingkir, Davina langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Membalas ciuman Dave bukan berarti dia akan memberikan haknya begitu saja. Walaupun Dave sempat mengatakan maaf, tapi pria itu belum mengakui kesalahannya. Dan permintaan maaf itu juga tidak jelas di ucapkan untuk hal apa.


Dave menatap sekilas layar ponsel yang ada di tangannya. Hanya membaca nama yang tertera di sana, setelah itu langsung mematikan ponselnya tanpa pikir panjang. Dia tidak mau seseorang mengganggu kesenangannya, tanpa terkecuali. Sekalipun orang yang tadi menelponnya adalah kakak iparnya sendiri yang merangkap sebagai Papa mertuanya.


Davina terkejut saat melihat Dave mematikan ponsel dan meletakkan kembali di atas nakas. Dia sudah bernafas lega karna berfikir akan punya kesempatan untuk melarikan diri dari kamar Dave saat pria itu sedang mengangkat telfon. Tapi pada kenyataannya, Dave malah mengabaikan panggilan telfon itu.


"Kenapa di matiin Om.? Memangnya siapa yang menelfon.?" Tanya Davina. Kedua tangannya memegangi erat selimut yang menutupi tubuh, takut tiba-tiba Dave akan menarik selimutnya.


"Kamu nggak liat saya sedang sibuk.?" Dave balik bertanya.


"Saya nggak punya waktu untuk angkat telfon." Katanya sembari mendekat kembali ke arah Davina.


"Tapi Om, mungkin saja itu telfon penting." Davina berusaha mengalihkan pikiran Dave agar tidak lagi fokus pada kegiatan sebelumnya.


"Papa kamu nggak pernah membahas hal penting lewat telfon." Sahut Dave cepat. Karna kesal pada Davina yang terus mengajaknya bicara, Dave tidak sadar sudah menyebutkan siapa orang yang baru saja menelfonnya.

__ADS_1


"Apa.?!! Jadi telfon yang Om matikan itu dari Papa.?!" Kedua mata Davina membulat sempurna. Tidak terima lantaran Dave mengabaikan panggilan dari Papa Edwin.


"Tega sekali Om mematikan ponsel gara-gara Papa menelfon." Davina mulai protes.


"Apa Om lupa kalau yang menelfon Om itu adalah mertua Om sendiri."


Raut wajah Davina terlihat kesal dan kecewa pada Dave. Memberikan tatapan tajam pada pria itu hingga membuatnya gelisah.


"Mana, berikan ponselnya padaku." Ucap Davina sembari mengulurkan tangannya pada Dave. Dia meminta Dave memberikan ponselnya.


"Nanti kalau kita sudah selesai." Tolak Dave lembut. Dia masih bersikeras mempertahankan malam indah ini agar tidak ada gangguan dari siapapun.


"Tapi aku maunya sekarang. Cepat ambilkan ponselnya,," Pinta Davina sedikit memaksa. Dave menghela nafas kasar, terlihat kesal namun tidak berani menolak permintaan Davina. Apalagi gadis itu terlihat sangat marah padanya. Kalau dia tidak menuruti keinginannya, sudah dipastikan kemarahan Davina akan berkali-kali lipat dari sebelum.


"Hallo Pa,,," Seru Davina setelah panggilan telfonnya terhubung. Dia yang menelfon lebih dulu.


"Om Dave.?" Ucap Davina saat Papa Edwin menanyakan keberadaan Dave. Davina juga reflek menatap pria yang tengah duduk di sisi ranjang. Pria yang sejak tadi mengawasinya setelah memberikan ponsel. Dia takut Davina akan mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya dia ceritakan pada sang Papa.


Dave menggelengkan kepala. Memberikan kode pada Davina untuk tidak mengatakan apapun.


"Om Dave ada di ruang kerjanya. Mau aku panggilkan.?" Ujar Davina. Manik matanya tak beralih sedikitpun dari Dave. Memperhatikan kecemasan dari wajah dan gerak-geriknya.


"Memangnya ada apa Pah.? Semuanya baik-baik saja kan.?" Davina mengubah posisi duduknya lebih tegap karna panik.


"Baiklah, aku akan ke sana." Davina mematikan telfon. Memberikan ponsel pada Dave sembari beranjak turun dari ranjang dengan berbalut selimut.


"Siapa yang ngijinin kamu pergi.?" Dave menahan tangan Davina. Menariknya dan membuat gadis itu duduk di pangkuannya.


"Bukan aku saja yang harus pergi, tapi Om juga harus ikut."


"Papa menyuruh kita datang sekarang."


Davina turun dari pangkuan Dave.


"Ayo siap-siap sebelum Papa marah." Ujarnya lalu beranjak keluar dari kamar Dave.

__ADS_1


"Da--mn.!!"


Dave meremas kasar rambutnya. Kesal karna kesenangannya terganggu dan batal merasakan malam pertama dengan Davina.


...*****...


Di dalam ruang kerja milik Edwin dan Sandra, Dave sedang di interogasi oleh Papa mertuanya.


Pria paruh baya itu menyodorkan laptop di depan Dave. Memutarkan rekaman cctv yang dikirimkan oleh orang tidak di kenal melalui e-mailnya.


Dave dan Davina langsung terkejut melihat rekaman cctv yang memperlihatkan dirinya tengah di tarik kasar oleh Dave saat berada di hotel.


Keduanya saling pandang. Davina terlihat cemas, sedangkan Dave menatap penasaran dengan orang yang sudah mengirimkan rekaman itu pada Papa Edwin.


"Kamu bisa jelaskan itu Dave.?!" Tegas Edwin. Dia menatap adik ipar sekaligus menantunya dengan tatapan tajam lantaran kedapatan memperlakukan putri semata wayangnya dengan kasar.


Bahkan dia saja yang sudah membesarkan dan memenuhi semua kebutuhan Davina hingga dewasa, tak pernah sedikitpun bersikap kasar atau berbicara dengan nada tinggi padanya.


Tapi Dave berani bersikap kasar dan kedapatan membentak Davina hanya karna sudah menjadi suaminya.


"Saya merestui kamu menikah dengan Davina karna berharap kamu bisa melindungi dan memberikan kasih sayang pada putriku."


"Kalau bukan karna kamu adik Sandra, saya pasti sudah menghajarmu.!" Tegas Edwin penuh amarah.


Sementara itu, Sandra menundukkan wajahnya karna malu dan merasa bersalah. Malu karna sempat mengatakan pada Edwin kalau Dave laki-laki yang bertanggungjawab, penuh perhatian dan lembut pada wanita. Sampai akhirnya Edwin menyetujui niat baik Dave untuk menikahi Davina karna mendengar penutur darinya.


"Saya mengaku salah. Semua itu karna kesalahpahaman saya pada Davina." Dave menundukkan pandangan. Sudah pasti dia menyesal pernah memperlakukan Davina dengan sangat buruk.


"Maafkan saya. Saya pastikan hal itu tidak akan terulang lagi." Ucapnya sungguh-sungguh.


"Tentu saja, karna saya tidak akan membiarkan kamu menyakiti putri saya.!" Sahut Edwin cepat.


"Davina, apa Dave sudah menidurimu.?" Tanyanya. Dia menatap lekat wajah putrinya yang terlihat gelisah.


Davina menggelengkan kepala sebagai jawaban.

__ADS_1


"Syukurlah, Papa tidak akan ragu lagi untuk mengakhiri pernikahan kalian. Sebelum semuanya terlambat.!" Tegas Edwin.


Dia lebih memilih putrinya menyandang status janda diusianya yang masih muda dan baru menikah beberapa hari. Karna dia tidak yakin Dave akan memperlakukan putrinya dengan baik.


__ADS_2