Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 80


__ADS_3

Berjam-jam tak melakukan apapun di dalam apartemen Dave. Davina hanya duduk di ranjang, sesekali mondar-mandir di dalam kamar tamu. Memikirkan apa yang harus dia lakukan jika Dave pulang.


Tidak mudah menerima fakta bahwa suaminya masih terikat dengan masa lalu. Masih mencari tau tentang keberadaan wanita itu meski sudah bertahun-tahun berlalu. Belum lagi tato yang masih melekat di punggung Dave, seolah pria itu tak berniat untuk menghapusnya.


Mungkin takut kenangan tentang masa lalu indahnya ikut hilang jika dia menghapus tato itu.


"Seandainya saja kamu mengatakan akan menghapus tato itu setelah aku mengetahui semuanya, mungkin nggak akan sesakit ini." Gumam Davina lirih. Bibirnya mengukir senyum sinis, terbayang tato bunga daisy yang terukir indah di punggung Dave sebagai bukti betapa besar cinta Dave pada wanitanya dulu.


Ingat ketika hari itu Dave hanya menjelaskan tentang tato yang ada di tubuhnya, tanpa menunjukkan bukti dengan tindakan bahwa dia sudah tidak lagi memiliki perasaan pada wanita itu. Siapa yang akan percaya hanya dengan sebuah ucapan, disaat matanya justru berkata lain.


"Davina, kamu di dalam.?"


Suara Dave dan ketukan pintu, membuyarkan lamunan Davina.


"Tolong buka pintunya," Pintanya memohon.


Davina terlihat menarik nafas dalam sebelum akhirnya beranjak dari duduknya untuk membuka pintu.


Berdiri dengan ekspresi datar, Davina hanya diam menatap Dave yang langsung mengukir senyum padanya begitu membukakan pintu.


"Maaf,,"


Ucap Dave dengan suara berat dan tatapan dalam. Itu sudah cukup menunjukkan jika dave memang merasa telah melakukan kesalahan besar pada istrinya.


Pria itu berjalan mendekat, mengulurkan tangannya pada Davina untuk memeluknya. Namun Davina melangkah mundur dan menepis pelan kedua tangan Dave.


Penolakan itu membuat Dave menatap sendu. Dia sadar telah melukai hati istrinya karna sejujurnya memang masih memiliki perasaan pada Sisy.

__ADS_1


Meski berusaha untuk menyangkal, nyatanya Davina bisa merasakan kalau dia berbohong.


"Aku mengaku salah," Akunya, namun Dave tak pernah bermaksud untuk merusak hubungannya dengan Davina. Ini adalah sisi lemahnya dimana sulit untuk melupakanmu seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidupnya. Tapi bukan berarti saat ini Davina tak berarti untuknya.


"Maaf sudah membuatmu kecewa,," Entah berapa kali Dave mengatakan maaf pada Davina. Bahkan dia sadar sebanyak apapun kata maaf yang dia lontarkan untuknya, mungkin tak akan bisa menghapus kesalahan yang telah dia perbuat.


masih mencari dan memikirkan wanita di masa lalu disaat dia sudah memiliki seorang istri.


"Om itu bicara apa.?" Davina mengukir senyum lebar.


"Paling nggak ganti baju atau mandi dulu sebelum memelukku. Bukannya baru selesai bekerja.?"


"Pasti sejak kemarin Om sangat sibuk di sana." Ucapnya lembut. Davina melepas kancing jas milik Dave, lalu membantunya menyingkirkan jas itu di tubuh Dave.


Hal itu membuat Dave terdiam, menatap lekat wajah Davina yang terus mengukir senyum tipis padanya. Dave sampai kebingungan dengan sikap yang di tunjukkan oleh Davina. Tidak tau apakah Davina benar-benar sudah melupakan permasalahan di antara mereka, atau hanya berpura-pura baik-baik saja.


"Biar aku siapkan baju gantinya." Kata Davina sembari melipat jas itu dan meletakkan di lengannya, lalu berjalan menuju kamar Dave.


"Yes, I'm okey." Nada bicara Davina penuh penekanan. Dia terus berjalan tanpa menoleh pada Dave.


Masuk ke dalam kamar dan pergi ke walk in closet setelah meletakkan jas di keranjang baju kotor, Davina mengambil baju santai dan celana pendek untuk Dave.


Davina menghampiri Dave sembari mengukir senyum. Meletakkan baju ganti milik Dave di atas ranjang.


"Sini biar aku bantu lepaskan," Davina memposisikan diri di depan Dave, berniat untuk melepas kancing kemeja suaminya itu. Namun belum sempat membukanya, Dave memegang kedua tangan Davina yang berada di atas dadanya.


"Aku tau kamu bohong,," Tebak Dave. Dia bisa melihat sorot maya Davina yang mengatakan jika sebenarnya wanita itu tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Apa Om Dave juga bisa membaca perasaan seseorang lewat mata.?" Tanya Davina dengan ekspresi tenang.


"Kalau begitu kita sama,," Kali ini Davina mengukir senyum yang menunjukkan kebanggaan atas hal itu.


Davina menyingkirkan tangan Dave, dia kemudian mengusap perlahan dada bidang Dave dengan gerakan memutar serta tatapannya yang menggoda.


"Otot yang sempurna,," Puji Davina dengan mengarahkan pandangan mata ke dada bidang Dave. Perlahan menggigit bibir bawahnya sambil terus memainkan jemari di atas dada Dave.


Davina mulai membuka satu kancing bagian atas.


Sementara itu, Dave diam mematung dengan tubuh yang mulai menegang. Namun tak memberikan respon apapun karna sejujurnya di buat bingung oleh sikap Davina.


Entah kenapa Dave merasa ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh wanita itu, namun bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja.


Tangan Davina semakin turun ke bawah, membuka satu persatu hingga berakhir pada kancing kemeja terakhir. Tiba-tiba Davina berlutut, membuat Dave reflek menahannya dan menarik kedua tangan Davina agar wanita itu kembali berdiri.


"Apa yang kamu lakukan.?" Tanya Dave lirih.


"Aku hanya ingin membantu melepaskan celananya juga,," Davina menjawab santai.


"Nggak perlu, biar aku saja,," Dave menolak lembut. Mendengar itu, Davina hanya mengangguk. Dia lalu menyingkirkan kemeja panjang Dave yang tadi masih bertengger di tubuhnya. Menjatuhkan kemeja itu di lantai dan berjalan memutar ke belakang Dave.


Dia berdiri tepat di belakang Dave, menatap punggung lebar itu yang polos tanpa sehelai benang. Pandangan mata Davina perlahan turun kebawah, berhenti pada sebuah tato yang masih terukir indah di sana. Hanya saja setengah dari tato itu tertutup celana Dave.


"Aku rindu,," Ucap Davina, jemarinya mengusap punggung Dave dengan gerakan perlahan.


"Apa kamu juga merindukanku, sayang.?" Tanyanya kemudian memeluk Dave dari belakang.

__ADS_1


...***...


...Sambil nunggu up lagi, mampir dulu ke novel "Penyesalan Balas Dendam"...


__ADS_2