Selingkuhan Om Tiri

Selingkuhan Om Tiri
Bab 73


__ADS_3

Dave terdiam, menatap lekat wajah Davina yang sedang fokus menggosok bagian dada bidangnya.


Walaupun Davina tidak menunjukkan kesedihan atau kekecewaan, tapi Dave yakin sikap tenang Davina hanya dibuat-buat untuk menutupi perasaan yang sebenar.


Dave memegang tangan Davina yang bergerak di dada bidangnya. Dia menghentikan aktifitas Davina agar wanita itu mau menatapnya.


Tapi Davina langsung menarik tangannya, dia lalu beranjak dari bathtub tanpa mengatakan apapun.


"Katakan kamu baik-baik saja." Ucap Dave yang memperhatikan Davina berjalan ke arah shower.


Davina menoleh, dia mengukir senyum lebar tanpa memperlihatkan giginya.


"Bagaimana baik-baik saja kalau aku menikah dengan seseorang yang masih terikat masa lalu."


"Sebelum menanyakan aku baik-baik saja, buang jauh-jauh dulu perasaan Om padanya."


"Aku bisa melihatnya." Kata Davina sembari mengukir senyum sinis. Dia lalu menyalakan shower, membersihkan sisa busa sabun di bawah guyuran shower dan bergegas keluar setelah memakai handuk.


Feeling seorang wanita sangat kuat, apalagi pada seseorang yang sangat kita cintai. sepandai apapun Dave berusaha menyembunyikan perasaan itu, Davina tetap bisa merasakan jika cinta Dave untuk wanita itu masih ada.


...****...


"Kamu mau kemana.?" Dave mencekal pergelangan tangan Davina. Wanita itu baru saja keluar dari kamar tamu dengan pakaian yang sudah rapi.


Tadi setelah keluar dari kamar mandi, Dave pikir Davina masih berada di kamar mereka, tapi rupanya mengunci diri di kamar mandi selama hampir 1 jam.


"Bukankah Papa melarang kita bertemu selama 3 bulan. Jadi nggak seharusnya aku masih disini." Ujar Davina sembari menyingkirkan tangan Dave dari pergelangan tangannya.


"Aku sudah bilang jangan berfikir macam-macam padaku." Kata Dave. Dia sudah memperingatkan Davina, tapi melihat sikap Davina yang tiba-tiba berubah, Dave yakin Davina jadi berfikir macam-macam tentangnya dan Sisy.

__ADS_1


"Aku nggak berfikir apapun." Jawab Davina cepat.


"Lalu kenapa kamu seperti ini dan tiba-tiba ingin pulang.?" Dave menatap lekat, memastikan bagaimana perasaan Davina saat ini melalui sorot matanya.


"Aku hanya ingin memberikan waktu agar Om Dave menyelesaikan cinta di masa lalu yang belum usai.!"


"Aku bisa tahan saat di perlakukan kasar, tapi nggak akan pernah bisa hidup bersama orang yang masih terikat dengan masa lalu." Tutur Davina. Soroti matanya begitu tajam menatap Dave. Selama cinta Dave masih ada untuk wanita itu, Davina tidak yakin bisa bersikap baik pada Dave.


Davina lalu beranjak pergi dari hadapan Dave.


Tentu saja Dave tak bisa diam saja membiarkan Davina pergi. Pria itu berjalan cepat untuk menyusul Davina.


"Davina, jangan seperti ini,,," Pinta Dave lembut.


"Jangan mencegahku atau aku akan membuat pernikahan kita benar-benar berakhir.!" Tegas Davina tanpa menoleh. Dia terus melangkahkan kaki menuju pintu.


"Kalau papa tau Om Dave masih menunggu seorang wanita selama 8 tahun, bahkan masih mencari tau keberadaan wanita itu sampai saat ini, aku yakin Papa nggak akan membiarkanku hidup bersama dengan Om Dave.!" Ucapnya penuh penekanan.


Dave masih berdiri di tempat, dia tak berani mencegah Davina. Pernikahannya bisa hancur jika Davina benar-benar mengadukan masalah ini pada Edwin. Itu sebabnya Dave membiarkan Davina pergi, memberikan waktu pada Davina untuk menenangkan diri setelah mendengar semuanya. Pasti tidak akan mudah bagi Davina setelah tau bahwa tato yang ada ditubuhnya adalah bagian dari masa lalu Dave.


...****...


"Cantik.?" Davina tersenyum sembari menahan air matanya yang hampir tumpah.


"Bunga itu benar-benar jelek.!!" Gerutunya kesal. Davina menyesal pernah mengatakan jika tato di tubuh Dave sangat cantik.


Entah apa yang ada di pikiran Dave saat dia memuji bunga itu. Mungkin saja Dave langsung teringat padanya.


Davina menarik nafas dalam. Rongga di dadanya seolah kehabisan oksigen sampai dia harus menghirup dalam-dalam agar tak lagi merasakan sesak.

__ADS_1


Dia tak menyesal sudah mencintai Dave, karna menurutnya cinta itu adalah anugerah yang mungkin tak bisa dirasakan oleh semua orang.


Namun Davina menyesalkan sikap Dave yang tak bisa melepaskan kisah masa lalunya yang belum usai disaat dia telah memilih untuk menikah.


Belum lagi, tentang Dave yang tau bahwa wanita itu telah kembali setelah menghilang selama 8 tahun. Tak menutup kemungkinan jika selama itu Dave terus mencari kabar tentang keberadaan wanita masa lalunya.


Davina turun dari taksi, dia buru-buru masuk ke dalam rumah. Berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya.


Dia bahkan tak menyapa ataupun melirik Farrel saat berpapasan di dekat kamar mereka, membuat Farrel yang hendak menuruni tangga mengurungkan niatnya dan berhenti di tempat. Dia bengong menatap Davina yang setengah berlari masuk ke dalam kamar.


"Davina.?! Kau kenapa.?!" Teriak Farrel sembari menggedor pintu.


Sementara itu, Davina yang mendengar teriakan dan gedoran pintu, memliki tak menghiraukannya. Dia melempar tas di atas sofa, berjalan cepat ke arah ranjang dan membaringkan tubuhnya di sana.


"Kenapa orang lain bisa dengan mudah mengatakan cinta pada seseorang, disaat hatinya masih menyimpan satu nama." Davina mengukir senyum kecut. Dia mengingat ucapan cinta Dave di saat mereka sedang bercinta.


...****...


Davina membuka mata perlahan, mengamati keadaan kamar yang sedikit gelap.


Manik matanya langsung menatap jam di atas nakas. Rupanya dia tertidur dan baru terbangun pukul 8 malam, bahkan sampai melewatkan malamnya.


Beranjak dari ranjang, Davina mengambil ponselnya yang sejak tadi sore masih berada di dalam tas.


Dia hanya tersenyum kecut melihat puluhan panggilan yang masuk dari Dave. Pria itu juga mengirimkan pesan padanya.


"Jangan pikirkan apapun, aku tak akan peduli lagi tentangnya."


Davina menatap datar, tak percaya dengan pesan singkat yang di kirimkan oleh Dave.

__ADS_1


Mungkin saja pesan itu hanya untuk menghiburnya saja.


__ADS_2