
"Sama Daddy. Itu Daddy,,," Seru Chiara sambil mengarahkan telunjuknya.
Karna penasaran dengan sosok yang di panggil Daddy oleh anak kecil itu, Dave langsung mengikuti kemana arah jari telunjuk Chiara.
Dave menajamkan pandangan. Menatap sosok laki-laki dengan setelan casual berjalan ke arah mereka. Semakin dekat jarak Dave dan laki-laki itu, Dave mulai terkejut karna merasa sangat kenal dengan sosok laki-laki itu.
Ya, tidak salah lagi. Mana mungkin Dave lupa pada sahabatnya sendiri yang selama 8 tahun ini pamit padanya untuk menetap di luar negeri.
Laki-laki itu berhenti di depan Dave. Mengukir senyum santai padanya.
"Bu, tolong ajak Chiara pergi dulu. Saya harus bicara dengan Dave,," Ucapnya pada orang tua Sisy. Wanita paruh baya itu mengangguk paham.
Sebelum mengajak Chiara pergi dari sana, dia lebih dulu pamit pada Dave.
"Bye bye Daddy,,," Chiara melambaikan tangan dan tersenyum lebar pada Daddynya.
Laki-laki itu membalas lambaian tangan dan ikut tersenyum.
Sementara itu, Dave terus memperhatikan interaksi keduanya. Dia masih. tak percaya jika sahabatnya itu telah memiliki seorang anak dengan Sisy.
"Agam, bagaimana bisa kau,,,"
"Duduklah, akan aku jelaskan," Potong Agam cepat. Dia mempersilahkan Dave untuk duduk.
"Katakan padaku kenapa kau bisa bersama Sisy.?"
"Dan siapa anak itu.? Apa dia benar-benar anak biologis mu dan Sisy.?!" Tanya Dave begitu dia duduk. Rasa penasaran membuat Dave tak sabar untuk mendengarkan penjelasan dari Agam.
Sekarang Dave tak hanya penasaran kenapa Sisy meninggalkannya, tapi dia juga di buat penasaran dengan hadirnya seorang anak kecil di antara Sisy dan Agam.
"Sudah bertahun-tahun berlalu, kamu masih menunggu hari dimana Sisy akan kembali.?" Dengan nada bicara yang santai, Agam balik bertanya pada Dave.
Laki-laki yang dia pikir sudah melupakan istrinya, tapi ternyata masih terus mencari keberadaannya walaupun sudah 8 tahun berlali.
__ADS_1
"Tidak perlu basa-basi, jawab saja pertanyaan ku." Tegur Dave.
"Baiklah. Kau pasti sangat penasaran kenapa aku bisa bersama Sisy."
"Aku tak sengaja bertemu dengannya saat orang tuamu mencaci maki Sisy di sebuah restoran, menyuruh Sisy untuk meninggalkanmu dan menyodorkan sejumlah uang yang nilainya tak main-main."
Agam mulai menceritakan awal mula pertemuan dia dan Sisy malam itu, sampai akhirnya dia harus menjadi orang terdepan yang melepaskan Sisy dari kekejaman Papa kandung Dave.
Karna tak tega melihat Sisy di perlakuan buruk, Agam datang dan memperkenalkan diri sebagai calon suami Sisy. Tapi rupanya orang tua Dave tak percaya begitu saja, hingga dia meminta Agam untuk membawa Sisy ke luar negeri dengan memalsukan identitas mereka. Dengan tujuan agar Dave tak mengetahui keberadaan Sisy.
Kedua tangan Dave tampak mengepal mendengar penjelasan dari Agam. Ternyata memang benar orang tuanya sendiri yang menyebabkan Sisy pergi meninggalkannya.
"Bagaimana dengan anak itu.?" Dave menatap penasaran.
"Tentu saja Chiara putri kami." Jawab Agam cepat.
"2 bulan yang lalu, usianya genap 6 tahun." Jelasnya.
Karna 2 tahun setelah Sisy pergi, dia baru melahirkan Chiara.
Cukup lama Dave terdiam. Tak memberikan tanggapan atas penjelasan Agam.
"Apa kau masih mencintainya.?" Agam menatap intens wajah Dave. Mencoba melihat kebenaran dari sorot matanya.
"Tidak, aku hanya ingin mendengar penjelasan darinya saja." Sahut Dave cepat.
"Kau bohong,," Sangkal Agam dengan mengukir senyum miris. Mana mungkin dia percaya begitu saja dengan jawaban Dave. Selama 8 tahun masih berusaha untuk mencari keberadaan Sisy, siapa yang akan percaya kalau semua itu bukan karna cinta.
“Terserah kau saja,," Dave menjawab acuh.
Dia lalu beranjak dari duduknya. Saat akan pergi, Sisy terlihat keluar dari ruang pemeriksaan. Wanita itu terlihat bingung melihat Agam dan Dave sedang bersama.
"Sudah selesai.?" Agam bertanya sembari berjalan menghampiri Sisy. Berdiri di sampingnya dan merangkul pinggang wanita itu.
__ADS_1
Dave bergegas pergi dari sana, meski dia sempat melihat tatapan sendu bercampur penyesalan dari sorot mata Sisy.
...****...
"Nggak ada apa-apa di dalam kotak ini,," Gumam Davina setelah membuka kota yang dia temukan di salah satu lemari yang ada di ruang kerja Dave.
Kotak yang awalnya dia kira sebagai tempat penyimpanan barang ataupun foto kenangan bersama wanita masa lalu Dave.
Davina hampir menggeledah semua barang yang ada di sana, dia selalu menemukan sesuatu yang terlihat mencurigakan tapi tak ada satu pun benda yang bisa menunjukkan kenangan Dave di masa lalu.
"Apa mungkin Om Dave benar-benar sudah melupakan wanita.? Atau dia baru membuang semua barang kenangannya setelah aku pergi dari sini.?"
Gumamnya. Davina berbicara sendiri. Dia hanya bisa menduga-duga menggunakan feelingnya saja.
Setelah memastikan semua barang kembali rapi di tempat semula, Davina keluar dari ruang kerja Dave.
Langkahnya terhenti di depan pintu saat melihat map di atas meja kamar.
Tanpa pikir panjang, Davina langsung menuju ke meja. Dia duduk di sofa dan mulai menarik map itu agar lebih dekat dengannya.
Suara dering ponsel di dalam tas, membuat Davina mengurungkan niat untuk membuka map itu. Dia langsung merogoh ponselnya karna tau tidak ada yang akan menelfon ke ponselnya selain Dave dan Farrel. Davina ingin memastikan kalau panggilan telfon itu dari Dave.
Dan benar saja setelah menatap layar ponsel dan melihat nama yang tertera di sana.
Cukup lama diam, Davina hanya menatap ponselnya saja karna tidak tau harus mengangkat panggilan itu atau tidak. Hingga panggilan itu mati dan Dave kembali menelfon, Davina baru mengangkatnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan di kamar kita, hmm,,?" Tanya Dave begitu Davina menempelkan ponsel ke telinganya.
...**...
...Jangan lupa mampir dan masukan ke daftar favorit novel "Penyesalan Balas Dendam"...
__ADS_1