
"Kamu tidak jujur pada Dave.?" Agam menatap lekat wajah Sisy yang sedikit pucat.
Wanita cantik itu menggeleng pelan dengan kepala tertunduk. Dia merasa terbebani karna menyembunyikan hal besar dari Dave.
Walaupun hal itu mungkin tak akan berpengaruh pada pernikahannya dengan Agam jika dia menceritakannya pada Dave. Namun Sisy takut hal itu justru akan berpengaruh besar pada kehidupan Dave.
Dia takut hanya akan membuat Dave semakin terperangkap dalam masa lalu mereka.
Karna pada kenyataannya, sampai saat ini Dave masih terus mencari tau tentang dirinya. Bahkan Sisy bisa melihat sorot mata Dave yang masih sama seperti 8 tahun lalu meski di selimuti kekecewaan dan amarah.
Ya, laki-laki itu terlihat masih memiliki cinta untuknya.
"Tapi setidaknya dia harus tau perbuatan keji orang tuanya yang sudah menyebabkan anak kalian meninggal," Tutur Agam penuh penekanan.
Sebenarnya dia ingin mengungkapkan semua itu saat di depan Dave, tapi mengurungkan niatnya karna ingat dengan perkataan Sisy yang melarangnya untuk menceritakan hal itu pada Dave.
"Aku nggak mau membuat Dave merasa bersalah dan semakin terpuruk, biarkan dia mengubur masa lalu kami tanpa ada sesuatu yang akan mengganjal hatinya."
"Aku sudah bahagia, dia juga harus bisa bahagia seperti ku." Sisy meraih tangan Agam. Menggenggam tangan itu dan menatap lekat wajahnya dengan tatapan penuh cinta.
Mungkin tanpa Agam, dia tak akan bisa bertahan hidup sampai detik ini.
Sisy bersyukur memiliki Agam yang mau menerima segala kekurangan dan masa lalunya bersama Dave yang tak lain adalah sahabat Agam sendiri.
Tapi terlepas dari kebahagiaan yang Sisy dapatkan saat ini bersama Agam, dia juga harus menerima semua kekurangan dan masa lalu Agam yang dulunya mantan seorang cassnova.
Meski tinggal di luar negeri sekalipun, ada saja wanita yang mengenali Agam dan mengaku pernah menghabiskan malam dengannya.
"Dimana Chiara.? Kita harus berkunjung ke tempat istirahat kakaknya,," Ucap Sisy. Dia beranjak dari duduknya sambil terus menggenggam tangan Agam.
"Aku menyuruh Ibu mengajak Chiara keluar. Mungkin mereka ada di taman,,"
__ADS_1
Keduanya lalu pergi mencari Chiara, setelah itu pergi ke pemakaman untuk berkunjung ke makam anak Sisy dan Dave yang meninggal saat masih berusia 5 bulan di dalam kandungan.
Semua itu berawal dari pertemuan Sisy dan Orang tua Dave. Sisy yang saat itu tengah hamil 3 bulan, berniat untuk memberitahukan Dave. Sayangnya sebelum Dave tau, orang tua Dave lebih dulu mengetahuinya.
Dia menyuruh Sisy untuk menggugurkan kandungan dan pergi sejauh mungkin dari hidup Dave. Bahkan sampai menyodorkan cek pada Sisy untuk membayarnya agar mau mengugurkan kandungan dan pergi ke luar negeri.
Namun Sisy menolak, dia tak mau menggugurkan kandungan meski setuju untuk pergi meninggalkan Dave.
Sayangnya orang tua Dave tak terima, dia tidak mau anak yang nantinya dilahirkan Sisy akan menjadi benalu dalam kehidupan Dave suatu saat nanti. Karna dia tak yakin Sisy akan tetap menyembunyikan anak itu dari jika sudah terlahir ke dunia.
Berbagai cara di lakukan untuk membuat anak yang ada di dalam kandungan Sisy keguguran.
Termasuk memberikan minuman yang sudah di campurkan obat saat mengajak Sisy bertemu di restoran.
Sejak saat itu kehamilan Sisy bermasalah, dia harus di rawat di rumah sakit untuk tetap mempertahankan janin di dalam rahimnya. Namun hanya bertahan 2 bulan dan akhirnya meninggal di dalam kandungan.
Tepat 1 bulan setelah kejadian itu, Sisy menerima tawaran Agam untuk menikah dan memutuskan tinggal di luar negeri bersama Agam.
"Apa yang sedang kamu lakukan di kamar kita, hmm,,?" Tanya Dave begitu Davina menempelkan ponsel ke telinganya.
Ucapannya membuat Davina memutar kepala, mencari benda yang membuat Dave tau kalau saat ini dia sedang berada di dalam kamar Dave.
Tapi Davina tak menemukan cctv di sudut manapun.
"Ka,,kamar kita yang mana.?" Ucap Davina gugup. Davina berharap Dave hanya menduga-duga saja setelah mendapat laporan dari Farrel bahwa dia pergi dari rumah.
"Jangan mengelak, ada cctv yang mengarah ke pintu kamar kita."
Penuturan Dave membuat Davina menepuk keningnya sendiri. Dia terlalu ceroboh sampai tidak memikirkan kalau Dave memiliki cctv di dalam apartemen.
"Tetap disitu, aku akan segera pulang." Pinta Dave memohon. Sejak kemarin ingin bertemu dengan Davina, namun wanita itu selalu menghindar darinya.
__ADS_1
Bahkan saat datang ke kampus untuk menjemputnya, Davina tak menunjukkan batang hidungnya sampai kampus itu sepi. Entah bersembunyi dimana istrinya itu.
"Davina,, kamu mendengarku.?" Tegur Dave karna cukup lama tak ada suara.
"Aku mau pulang,,!" Seru Davina saat tersadar dari lamunan. Dia beranjak dari sofa dan buru-buru untuk keluar.
"Kamu nggak bisa pulang, aku sudah mengunci pintunya dari sini." Ucapan Dave hanya angin lalu saja bagi Davina, dia terus berjalan keluar kamar. Berhenti di depan pintu kamar setelah menutupnya. Dia mencari cctv dan menatap ke arah sana dengan mata melotot tajam.
Davina sengaja menatap ke arah cctv karna yakin kalau saat ini Dave sedang memantaunya dari sana.
"Aku nggak mau nunggu Om disini.!" Seru Davina kesal.
"Keluar saja kalau bisa. Kode aksesnya sudah aku rubah,," Ucap Dave santai.
Davina langsung melongo, semakin menatap tajam ke arah cctv.
Ekspresi mukanya yang menggemaskan, membuat Dave mengukir senyum tipis di seberang sana.
"Om Dave,,!!!" Teriak Davina geram.
"Aku membencimu.!! Dasar menyebalkan.!" Peliknya lalu mematikan sambungan telfon dan segera berlari ke arah pintu keluar untuk memastikan ucapan Dave.
"Aarrgghh,,!! Sial,!" Keluh Davina saat gagal membuka pintu dengan kode akses sebelumnya.
Ternyata Dave benar-benar sudah mengganti kode akses apartemennya dan membuat Davina terkurung di dalam.
"Awas saja, aku akan meninju miliknya agar tidak bisa macam-macam padaku nanti,," Gumamnya kesal.
...**...
...Jangan lupa mampir dan masukan ke daftar favorit novel "Penyesalan Balas Dendam"...
__ADS_1